Membaca Natana J. DeLong-Bas: Muhammad Asad—Konversi, Reformisme, dan Terjemahan Al-Qur’an sebagai Mediasi Modern

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 20 May 2026
Membaca Natana J. DeLong-Bas: Muhammad Asad—Konversi, Reformisme, dan Terjemahan Al-Qur’an sebagai Mediasi Modern

Entri Natana J. DeLong-Bas, “Muhammad Asad” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, menghadirkan Muhammad Asad bukan sekadar sebagai penerjemah Al-Qur’an ke bahasa Inggris, melainkan sebagai figur lintas-batas: seorang Yahudi Eropa bernama Leopold Weiss, jurnalis pengelana, mualaf, pemikir politik Islam, pendukung awal Pakistan, dan akhirnya penafsir modernis yang berupaya menghadirkan pesan Al-Qur’an kepada pembaca berbahasa Inggris abad ke-20.

Kekuatan utama entri ini terletak pada cara DeLong-Bas membaca Asad sebagai sosok yang hidup di antara beberapa dunia sekaligus: Eropa dan Arabia, Yahudi dan Islam, jurnalisme dan tafsir, reformisme Islam dan politik negara modern. Dengan demikian, kisah Asad bukan hanya kisah personal tentang konversi, tetapi juga kisah tentang bagaimana Al-Qur’an diterjemahkan, dibela, dirasionalisasi, dan dimodernkan dalam suasana intelektual abad ke-20.

 

Dari Leopold Weiss ke Muhammad Asad: Konversi sebagai Perjalanan Intelektual

DeLong-Bas memulai dengan biografi Asad: lahir sebagai Leopold Weiss pada 1900 di Lviv, dalam keluarga Yahudi dengan latar rabinik, lalu dibesarkan dalam lingkungan pendidikan yang memadukan studi Torah, teologi Yahudi, seni, sejarah, filsafat, dan psikoanalisis di Wina. Dari awal, Asad ditempatkan sebagai produk Eropa modern—tetapi Eropa yang kemudian ia rasakan sebagai ruang spiritual yang kering.

Perjalanannya sebagai jurnalis membawa Asad ke Timur Tengah. Di sana ia bertemu dengan para intelektual Muslim, elite politik, dan masyarakat Arab di Palestina, Mesir, Transyordania, Suriah, Irak, Iran, dan Afghanistan. Dalam narasi DeLong-Bas, pengalaman jurnalistik ini menjadi pintu masuk menuju Islam. Asad kecewa pada materialisme Eropa, pada apa yang ia lihat sebagai kolonialisme Zionis, pada keberagamaan Yahudi yang menurutnya telah menjadi formalitas, dan pada kompleksitas teologi Kristen. Sebaliknya, ia melihat Islam sebagai agama yang sederhana, langsung, rasional, dan etis: iman kepada Tuhan, hari pengadilan, dan amal saleh.

Namun entri ini juga tidak membiarkan narasi konversi Asad tampil terlalu polos. DeLong-Bas mencatat adanya unsur romantisasi terhadap “Arabia” dan Badui sebagai penghubung hidup antara masa scriptural dan masa kini. Ini penting: Asad memang menemukan Islam, tetapi ia juga membayangkan Islam melalui citra tertentu tentang Arabia—sebuah ruang spiritual yang dalam imajinasinya lebih otentik daripada Eropa modern.

 

Arabia sebagai Ruang Otentisitas dan Problem Imajinasi

Salah satu lapisan paling menarik dalam entri ini adalah ketegangan antara pengalaman nyata Asad di Arabia dan konstruksi imajinatifnya tentang Arabia. Dalam The Road to Mecca, Asad menampilkan perjalanan menuju Islam sebagai semacam “pulang” ke pusat spiritual. Ia tidak hanya berpindah agama, tetapi juga menyusun ulang identitasnya: dari Eropa-Yahudi menuju Islam, dari modernitas material menuju kesederhanaan wahyu, dari keterasingan Barat menuju kedekatan dengan dunia Arab.

DeLong-Bas menunjukkan bahwa perjumpaan awal Asad dengan Islam tidak langsung terjadi melalui tradisi pengajaran Islam yang mapan. Ia membaca Al-Qur’an melalui terjemahan Prancis dan Jerman, serta melalui karya orientalis seperti Theodor Nöldeke dan Ignaz Goldziher. Ia memang belajar bahasa Arab dan kemudian mengaku mempelajari hadis di Masjid Nabawi setelah masuk Islam pada 1926, tetapi detail tentang guru, institusi, dan proses formal belajarnya tidak selalu jelas.

Di sini terlihat satu sisi penting dari Asad: ia bukan ulama tradisional dalam pengertian klasik, tetapi juga bukan sekadar outsider. Ia bergerak di antara keduanya. Ia mengklaim otoritas melalui pengalaman hidup, bahasa, kedekatan dengan Arabia, pembacaan teks, dan keterlibatan intelektual dengan dunia Muslim. Otoritas Asad adalah otoritas modern: bukan semata sanad keilmuan, melainkan pengalaman, mobilitas, dan kemampuan menjembatani audiens Muslim dan Barat.

 

India, Pakistan, dan Gagasan Negara Islam Modern

Setelah meninggalkan Arabia pada 1932, Asad masuk ke fase lain: India dan kemudian Pakistan. Di sinilah DeLong-Bas memperlihatkan transformasi Asad dari jurnalis-pengelana menjadi pemikir politik Islam. Ia melihat India sebagai ruang tempat gagasan Islam modern dapat dirumuskan secara lebih rasional, terutama melalui pendidikan, tanggung jawab sipil, dan pembentukan negara.

Asad kemudian terlibat dalam proyek Pakistan. Ia menjadi warga negara Pakistan pada 1947, membantu merumuskan gagasan konstitusi, memimpin Department for Islamic Reconstruction, serta bekerja dalam dinas luar negeri Pakistan. Dalam tulisan-tulisannya di jurnal ʿArafāt, ia mengembangkan pemikiran tentang reformasi hukum Islam, negara Islam, dan relasi antara wahyu dan pemerintahan modern.

Menariknya, DeLong-Bas menekankan bahwa Asad membayangkan negara Islam yang berakar pada prinsip hukum ẓāhirī, tetapi tetap dapat dikenali sebagai demokratis: dengan hak pilih universal, kebebasan hati nurani, dan kesetaraan gender. Ini membuat Asad berbeda dari banyak stereotip tentang pemikiran politik Islam. Ia tidak membayangkan syariat sebagai perangkat hukum total yang mengatur seluruh aspek negara secara kaku. Sebaliknya, ia menginginkan peran syariat yang minimal agar negara Islam tetap lentur terhadap kondisi sosial-politik yang berubah.

Di sini Asad tampil sebagai reformis yang paradoksal: ia ingin kembali kepada teks, tetapi bukan untuk membekukan sejarah; ia ingin membangun negara Islam, tetapi bukan negara teokratis yang menutup ruang kebebasan; ia menolak sekularisme modern, tetapi tetap menyerap bahasa demokrasi, rasionalitas, dan tanggung jawab publik.

 

Karya-Karya Asad: Islam sebagai Rasionalitas dan Kritik terhadap Modernitas

Bagian “Work” dalam entri DeLong-Bas memperlihatkan bahwa karya-karya Asad lahir dari pengalaman jurnalistiknya pada 1920-an. Ia tertarik kepada Islam, tetapi juga melihat adanya jarak antara ajaran Islam dan praktik umat Muslim. Dari sini muncul proyek besarnya: revitalisasi Islam melalui tradisi intelektualnya sendiri.

Buku Islam at the Crossroads menjadi karya awal yang penting. Di dalamnya, Asad membaca Islam sebagai agama damai, rasional, dan pendorong pencarian ilmu. Namun buku itu juga merupakan kritik terhadap modernitas sekuler yang menurut Asad menghasilkan krisis moral, konflik sosial-politik, dan kekosongan spiritual karena mengeluarkan kebenaran agama dari ruang publik.

Asad juga menerjemahkan bagian awal Ṣaḥīḥ al-Bukhārī ke dalam bahasa Inggris. Ini penting karena menunjukkan bahwa proyek Asad sebelum menerjemahkan Al-Qur’an telah bergerak pada medan penerjemahan teks klasik Islam kepada pembaca modern. Ia bukan hanya menulis tentang Islam, tetapi juga memindahkan teks Islam ke dalam bahasa intelektual baru.

Namun DeLong-Bas tetap memberi jarak terhadap narasi Asad sendiri. Autobiografi Asad, terutama The Road to Mecca, sangat berpengaruh, tetapi tidak semua klaimnya mudah diverifikasi karena banyak bersumber dari tulisan Asad sendiri. Di sini entri ini membantu pembaca melihat bahwa Asad adalah penulis yang bukan hanya menceritakan hidupnya, tetapi juga membentuk dirinya sebagai tokoh: seorang pencari, seorang jembatan, seorang Muslim Barat yang menemukan Islam sebagai rumah spiritual.

 

The Message of the Qurʾān: Terjemahan sebagai Tafsir Modernis

Puncak pembahasan DeLong-Bas adalah karya terjemahan Asad, The Message of the Qurʾān yang terbit pada 1980. Karya ini bukan sekadar terjemahan, melainkan proyek tafsir modernis dalam bahasa Inggris. Asad ingin menghadirkan “pesan” Al-Qur’an, bukan hanya padanan literal kata demi kata.

DeLong-Bas menempatkan Asad dalam pengaruh reformisme Muṣṭafā al-Marāghī, terutama dalam penerimaan terhadap penerjemahan Al-Qur’an ke bahasa lain, pembaruan pendidikan, dan penggunaan ilmu modern. Seperti al-Marāghī, Asad cenderung menolak penafsiran supernatural atas kisah-kisah mukjizat dan lebih memilih penjelasan rasional. Ia juga menyerukan penolakan terhadap taqlīd, pembaruan ijtihād, dan pemulihan daya kreatif peradaban Islam.

Bagi Asad, terjemahan Al-Qur’an harus dapat berbicara kepada pembaca modern tanpa kehilangan keagungan teks. Ia menganggap banyak terjemahan sebelumnya terlalu akademik atau gagal menangkap “roh hidup” di balik kata-kata Al-Qur’an. Karena itu, ia memosisikan dirinya sebagai mediator: seseorang yang merasa telah menyerap bahasa, budaya, dan dunia batin Arabia, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris yang mudah dipahami tetapi tetap bermartabat.

Di sinilah terjemahan menjadi lebih dari sekadar alih bahasa. Ia menjadi kerja mediasi peradaban: dari Arab ke Inggris, dari wahyu ke pembaca modern, dari tradisi Islam ke dunia Barat, dari bahasa kitab suci ke idiom intelektual abad ke-20.

 

Format, Catatan, dan Rasionalisasi Makna

DeLong-Bas memberi perhatian besar pada bentuk The Message of the Qurʾān. Karya itu hampir mencapai seribu halaman, memuat ribuan catatan kaki, empat lampiran, teks Arab, terjemahan Inggris, keterangan Makki-Madani, jumlah ayat, dan komentar panjang. Asad bahkan menambahkan transliterasi agar pembaca yang tidak memahami Arab tetap dapat merasakan bunyi Al-Qur’an.

Salah satu ciri penting karya Asad adalah penggunaan komentar dalam tanda kurung untuk menjelaskan makna, irama, dan asosiasi mental yang menurutnya terkandung dalam bahasa Arab. Ini menunjukkan bahwa Asad tidak percaya terjemahan dapat sepenuhnya netral. Ia sadar bahwa penerjemahan Al-Qur’an membutuhkan penafsiran, penjelasan, dan kadang perluasan makna.

Namun ciri paling menentukan dari terjemahan Asad adalah kecenderungan demitologisasi. Ia menafsirkan sejumlah kisah nabi dan tokoh Qur’ani sebagai legenda atau alegori yang mengajarkan pesan moral-spiritual, bukan sebagai laporan historis literal. Di satu sisi, ini membuat terjemahannya terasa modern, rasional, dan terbuka bagi pembaca yang hidup dalam dunia sains dan hermeneutika modern. Di sisi lain, di sinilah letak kontroversinya: sebagian kalangan melihat pendekatan Asad terlalu jauh dalam merasionalisasi atau mengalegorikan tradisi.

DeLong-Bas mencatat bahwa karya Asad sempat direncanakan untuk diterbitkan oleh Muslim World League di Saudi, tetapi dukungan itu ditarik setelah muncul kekhawatiran terhadap beberapa aspek terjemahannya. Karya itu bahkan dilarang pada 1974 dan baru terbit penuh pada 1980. Fakta ini memperlihatkan posisi Asad yang ambivalen: ia sangat dihargai sebagai penerjemah dan pemikir Muslim Barat, tetapi juga dicurigai karena pembacaan rasionalisnya terhadap Al-Qur’an.

 

Antara Anti-Taqlīd dan Ketergantungan pada Tradisi

Salah satu ketegangan menarik dalam entri ini adalah sikap Asad terhadap tradisi. Ia menolak taqlīd, mengkritik ketundukan buta kepada ulama masa lalu, dan menyerukan ijtihād. Namun dalam praktiknya, ia tetap menggunakan tafsir pramodern dan modern, serta tradisi Yahudi dan Kristen, meskipun ia cenderung menghindari tafsir Sufi.

Ketegangan ini sebenarnya produktif. Asad bukan pemutus tradisi, melainkan penyeleksi tradisi. Ia tidak menolak masa lalu sepenuhnya, tetapi menolak menjadikannya otoritas yang membelenggu. Tradisi baginya harus dibaca kembali, disaring, dan diterjemahkan ulang agar dapat berbicara kepada manusia modern.

Dalam kerangka studi penerjemahan Al-Qur’an, posisi ini sangat penting. Asad memperlihatkan bahwa penerjemahan bukan hanya soal bahasa sasaran, tetapi juga soal otoritas: siapa yang berhak menjelaskan Al-Qur’an, tradisi mana yang dipakai, mana yang ditinggalkan, dan bagaimana penerjemah menegosiasikan antara kesetiaan kepada teks dan kebutuhan pembaca baru.

 

Asad sebagai Muslim Barat dan Figur Mediasi

DeLong-Bas secara halus menempatkan Asad sebagai salah satu figur Muslim Barat paling penting abad ke-20. Ia bukan hanya “orang Barat yang masuk Islam”, tetapi seorang penulis yang membantu membentuk cara Islam dijelaskan kepada publik berbahasa Inggris.

Di satu sisi, Asad memberi Islam wajah rasional, etis, dan universal. Ia menolak pandangan bahwa Islam adalah agama fatalistik, irasional, atau anti-modern. Di sisi lain, ia juga mengkritik Barat modern karena dianggap kehilangan pusat spiritual. Maka Asad berbicara kepada dua audiens sekaligus: kepada Barat, ia menunjukkan bahwa Islam memiliki kedalaman intelektual dan moral; kepada umat Islam, ia menyerukan pembaruan, ijtihād, dan keberanian berpikir.

Namun figur mediasi ini tidak bebas dari masalah. Karena ia berbicara dari posisi antara, Asad kadang membangun Islam melalui kontras yang tajam dengan Barat, dan membangun Arabia melalui bayangan otentisitas yang romantis. Di sini DeLong-Bas membantu pembaca melihat bahwa Asad adalah tokoh besar, tetapi juga tokoh yang harus dibaca bersama konstruksi dirinya sendiri.

 

Penutup

Melalui entri ini, Natana J. DeLong-Bas menghadirkan Muhammad Asad sebagai figur modern yang kompleks: seorang Yahudi Eropa yang menjadi Muslim, jurnalis yang menjadi penafsir, pengelana Arabia yang menjadi pemikir Pakistan, dan penerjemah Al-Qur’an yang menjadikan bahasa Inggris sebagai medium baru bagi pesan wahyu.

Kisah Asad memperlihatkan bahwa terjemahan Al-Qur’an pada abad ke-20 tidak dapat dipisahkan dari mobilitas global, kolonialisme, reformisme Islam, kritik terhadap modernitas sekuler, dan pencarian bahasa baru untuk menjelaskan wahyu kepada dunia modern. The Message of the Qurʾān menjadi puncak dari seluruh perjalanan itu: sebuah karya yang ingin menghadirkan Al-Qur’an secara rasional, etis, idiomatis, dan universal, sambil tetap mengklaim kesetiaan kepada pesan dasarnya.

Kekuatan entri DeLong-Bas terletak pada kemampuannya menyatukan biografi, karya, politik, dan penerjemahan dalam satu narasi yang jernih. Asad tidak dipersempit menjadi penerjemah, mualaf, atau pemikir politik saja. Ia dibaca sebagai simpul dari banyak arus: Eropa Yahudi, orientalisme, Arabia, Ahl-e Hadith, reformisme Islam, Pakistan, modernisme Qur’ani, dan pembaca Muslim berbahasa Inggris.

Pada akhirnya, membaca Asad melalui DeLong-Bas berarti membaca satu pertanyaan besar: bagaimana Al-Qur’an dapat diterjemahkan ke dalam bahasa modern tanpa kehilangan daya spiritualnya? Jawaban Asad adalah melalui rasionalitas, pengalaman hidup, keberanian menafsir, dan bahasa yang mampu menjembatani teks suci dengan pembaca baru. Jawaban itu tidak selalu diterima semua pihak, tetapi justru di sanalah signifikansinya: Asad menunjukkan bahwa terjemahan Al-Qur’an adalah arena pergulatan antara iman, bahasa, otoritas, modernitas, dan pencarian makna.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178