Membaca Keith Lewinstein: Yajuj dan Majuj antara Qur’an, Legenda Aleksander, dan Imajinasi Apokaliptik Islam
Entri Keith Lewinstein, “Gog and Magog,” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, membahas salah satu figur eskatologis paling menarik dalam tradisi Islam: Yājūj dan Mājūj. Kekuatan utama tulisan ini terletak pada titik tolaknya yang sangat jelas: Al-Qur’an hanya memberi data yang terbatas tentang Yājūj dan Mājūj, sementara gambaran yang jauh lebih rinci—tentang rupa mereka, jumlah mereka, cara mereka keluar, kerusakan yang mereka sebabkan, dan kehancuran mereka di akhir zaman—berasal dari tradisi Islam kemudian yang telah menyerap, mengolah, dan mengislamkan bahan-bahan Yahudi, Kristen, dan khususnya legenda Aleksander.
Lewinstein tidak membaca Yājūj dan Mājūj sebagai sekadar “bangsa liar” dalam kisah apokaliptik. Ia menempatkan mereka sebagai simpul pertemuan antara tiga hal: teks Qur’ani yang singkat, warisan eskatologi Yahudi-Kristen, dan kreativitas naratif Muslim. Karena itu, entri ini penting bukan hanya untuk memahami Yājūj dan Mājūj, tetapi juga untuk melihat bagaimana tafsir Islam membangun dunia akhir zaman dari isyarat teks yang minimal.
Dari Yehezkiel ke Al-Qur’an: Pergeseran dari individu ke dua bangsa
Salah satu tesis penting dalam entri ini ialah bahwa tradisi Islam, seperti juga tradisi Yahudi dan Kristen pasca-Bibel, memahami Gog dan Magog bukan lagi sebagai seorang Gog dari negeri Magog seperti dalam Yehezkiel, melainkan sebagai dua bangsa. Ini bukan detail kecil. Lewinstein sedang menunjukkan bahwa ketika Al-Qur’an berbicara tentang Yājūj dan Mājūj, ia masuk ke dalam arus tradisi yang sudah lebih dahulu mentransformasikan model biblikal awal.
Pengamatan ini sangat penting secara historiografis. Ia menolong pembaca melihat bahwa Al-Qur’an tidak hadir dalam ruang hampa. Nama-nama itu sudah membawa beban penafsiran yang panjang. Saat Qur’an menyebut Yājūj dan Mājūj, istilah itu sudah memiliki resonansi apokaliptik yang luas. Lewinstein dengan tepat menempatkan Islam bukan sebagai pemula narasi tersebut, melainkan sebagai satu tahap penting dalam sejarah resepsi dan transformasinya.
Data Qur’ani: Singkat, padat, dan eskatologis
Lewinstein menegaskan bahwa Yājūj dan Mājūj hanya muncul dua kali dalam Al-Qur’an: Q 18:94–98 dan Q 21:96–97. Ini fakta dasar yang menentukan seluruh analisisnya. Dalam Q 21, mereka dilepaskan menjelang datangnya janji yang benar dan hari penghakiman. Dalam Q 18, mereka hadir dalam kisah Dhū l-Qarnayn yang membangun penghalang untuk menahan kerusakan mereka sampai tibanya janji Tuhan.
Kekuatan pembacaan Lewinstein terletak pada ketegasannya membedakan apa yang memang ada dalam Qur’an dan apa yang baru muncul dalam tradisi kemudian. Dalam Qur’an, Yājūj dan Mājūj adalah kekuatan perusak yang ditahan sementara oleh penghalang yang dibangun Dhū l-Qarnayn, lalu kelak akan dilepaskan saat waktunya tiba. Titik. Tidak ada rincian fisik, tidak ada uraian etnografis, tidak ada kisah tentang bagaimana mereka menggali tembok setiap hari, tidak ada keterangan bahwa mereka meminum danau atau memakan manusia. Semua itu adalah perluasan tradisional.
Di sinilah entri ini sangat kuat. Lewinstein menjaga disiplin filologis dan historis. Ia tidak membiarkan pembaca mencampuradukkan narasi Qur’ani dengan imajinasi hadis-eskatologis yang jauh lebih berkembang.
Dhū l-Qarnayn dan legenda Aleksander
Bagian paling penting dari entri ini adalah pembahasan hubungan antara kisah Qur’ani tentang Yājūj dan Mājūj dengan Legenda Aleksander. Lewinstein menunjukkan bahwa pengaitan antara Yājūj-Mājūj dan penghalang Aleksander tidak unik bagi Qur’an. Ia sudah hadir dalam tradisi Syriac Kristen, terutama dalam Legend of Alexander dan homili Jacob of Sarug, yang memiliki sejumlah paralel dengan Q 18:83 dan seterusnya.
Ini adalah pusat argumen historis entri tersebut. Lewinstein sedang mengatakan bahwa ketika Al-Qur’an menempatkan Yājūj dan Mājūj dalam kisah Dhū l-Qarnayn, ia bergerak dalam satu horizon naratif yang telah dikenal di wilayah Timur Dekat akhir-antike. Bukan berarti Qur’an sekadar menyalin, tetapi bahwa ia berbicara dalam lingkungan simbolik dan apokaliptik yang juga dikenali oleh tradisi sekitarnya.
Nilai besar dari bagian ini adalah keberhasilannya memperlihatkan proses konflasi: dua tradisi berbeda—tradisi Gog dan Magog dari dunia biblikal, dan tradisi Aleksander dengan tembok penahannya—bertemu, lalu masuk ke dalam kisah Qur’ani. Lewinstein menyajikannya dengan padat, tetapi sangat jelas. Pembaca langsung melihat bahwa Yājūj dan Mājūj dalam Islam tidak dapat dipahami hanya dari Qur’an, tetapi juga dari sejarah transkultural legenda akhir zaman.
Dari teks suci ke etnografi monster
Setelah memetakan dasar Qur’ani dan latar tradisionalnya, Lewinstein menunjukkan bagaimana literatur Islam kemudian memperluas Yājūj dan Mājūj menjadi bangsa-bangsa setengah manusia yang sangat fantastis. Mereka diberi silsilah dari Yafith, lalu digambarkan dalam rupa-rupa yang ganjil: bertubuh raksasa atau kerdil, bertaring, bercakar, berbulu tebal, berteriak seperti anjing, kawin seperti hewan, makan daging manusia, dan jumlahnya nyaris tak terbatas.
Bagian ini sangat penting karena memperlihatkan apa yang bisa disebut etnografi apokaliptik. Yājūj dan Mājūj bukan lagi hanya ancaman akhir zaman, tetapi juga objek imajinasi tentang “yang liar,” “yang tidak beradab,” dan “yang berada di luar dunia manusia normal.” Lewinstein tidak mengembangkan kritik antropologis atas hal ini, tetapi datanya sendiri sudah cukup menunjukkan bahwa tradisi Islam, seperti tradisi lain sebelumnya, menggunakan Gog dan Magog sebagai figur untuk membayangkan batas terjauh kemanusiaan.
Ini salah satu bagian paling menarik dari entri tersebut. Lewinstein memperlihatkan betapa cepatnya narasi eskatologis berubah menjadi katalog keanehan. Dari sini terlihat bahwa Yājūj dan Mājūj berfungsi bukan hanya sebagai tokoh akhir zaman, tetapi juga sebagai cermin dari kecemasan budaya terhadap yang asing, yang berlebih, dan yang tak terkendali.
Drama akhir zaman: tembok, pelolosan, kerusakan, dan pembasmian
Lewinstein lalu merangkum peran Yājūj dan Mājūj dalam skenario akhir zaman versi hadis dan literatur fitan. Mereka dikurung di balik tembok Aleksander, terus berusaha menembusnya, selalu gagal karena Tuhan memperbaikinya kembali, hingga akhirnya pada akhir zaman mereka dibebaskan. Sesudah itu mereka menimbulkan kerusakan total: memakan hasil bumi, mengeringkan sungai atau danau, menaklukkan manusia, lalu bahkan berpaling ke langit. Akhir mereka bukan oleh tangan manusia, tetapi oleh intervensi Tuhan yang mengirimkan makhluk kecil—cacing atau ulat—ke tubuh mereka.
Struktur cerita ini sangat penting. Lewinstein menunjukkan bahwa Yājūj dan Mājūj berfungsi sebagai alat dramatik apokaliptik: mereka adalah fase kekacauan maksimal menjelang penutupan sejarah. Mereka bukan musuh biasa yang dikalahkan oleh strategi militer. Justru ketika manusia tidak lagi berdaya, Tuhan sendiri yang menutup episode itu. Dalam hal ini, Yājūj dan Mājūj memperkuat pola besar eskatologi Islam: kekacauan sejarah pada akhirnya diselesaikan oleh kedaulatan ilahi, bukan oleh kekuatan manusia.
Lewinstein sangat baik ketika menekankan bahwa rincian itu tidak terdapat dalam Qur’an. Ia menempatkan semua elemen dramatik ini sebagai hasil pengembangan Muslim atas bahan-bahan yang lebih tua. Ini membuat entri tersebut tetap historis, tidak larut ke dalam reproduksi narasi tradisional.
Imajinasi geografis dan pencarian “gerbang Aleksander”
Salah satu bagian paling menarik dalam entri ini adalah penutup tentang ekspedisi al-Wāthiq untuk mencari gerbang Aleksander. Meski Lewinstein menilai laporan Sallām al-Tarjumān lebih dekat ke wonder tale daripada laporan geografis murni, ia tetap sangat penting. Bagian ini menunjukkan bahwa Yājūj dan Mājūj tidak hanya hidup dalam teologi, tetapi juga dalam imajinasi geografis dan politik Islam.
Ini poin yang sangat berharga. Tokoh-tokoh apokaliptik tidak tinggal di alam abstrak. Mereka mendorong pencarian lokasi nyata, pemetaan dunia, dan spekulasi tentang batas-batas bumi. Di sini, eskatologi bertemu dengan geografi. Lewinstein menutup entri dengan sangat baik lewat contoh ini, karena ia memperlihatkan bagaimana satu narasi Qur’ani-tradisional dapat membentuk rasa ingin tahu spasial dunia Islam.
Kontribusi utama entri ini
Kontribusi terbesar Keith Lewinstein adalah keberhasilannya menjaga dua hal sekaligus: pertama, membedakan secara tegas antara data Qur’ani yang sangat terbatas dan elaborasi tradisional yang sangat luas; kedua, menempatkan elaborasi itu dalam konteks sejarah lintas agama, khususnya bahan Syriac dan legenda Aleksander.
Ini membuat entri tersebut sangat kuat secara metodologis. Ia bukan sekadar menjelaskan “siapa” Yājūj dan Mājūj, tetapi “bagaimana” figur itu dibentuk, diperluas, dan diislamkan. Lewinstein membantu pembaca melihat bahwa tradisi Islam tentang Yājūj dan Mājūj adalah hasil kreativitas hermeneutik, bukan sekadar pengulangan literal atas Qur’an.
Keterbatasan dan catatan kritis
Karena singkat, entri ini lebih menonjolkan sumber-sumber klasik dan akar Syriac-Kristennya daripada sejarah penerimaan yang lebih luas di dunia Islam. Pembaca belum banyak diajak melihat bagaimana Yājūj dan Mājūj dipakai dalam kronik, peta dunia, politik identitas, atau imaginasi tentang bangsa-bangsa asing pada masa-masa berikutnya. Padahal tema ini sangat kaya untuk ditarik ke arah sejarah intelektual dan politik.
Selain itu, artikel ini cukup jelas memakai model sumber-pengaruh yang kuat—dari Syriac ke Qur’an lalu ke tradisi Islam. Pendekatan seperti ini berguna, tetapi juga dapat terasa terlalu satu arah bila tidak diimbangi dengan perhatian pada cara Qur’an sendiri menata ulang bahan tersebut secara khas. Lewinstein memang menunjukkan adanya paralel, tetapi tidak terlalu jauh masuk ke pertanyaan tentang apa yang justru baru atau berbeda dalam pengolahan Qur’ani.
Penutup
Keith Lewinstein memperlihatkan bahwa Yājūj dan Mājūj dalam Islam adalah hasil pertemuan antara teks Qur’ani yang singkat, warisan apokaliptik Yahudi-Kristen, dan daya imajinasi tradisi Muslim. Di dalam Qur’an, mereka hanyalah kekuatan perusak yang ditahan sampai waktunya tiba. Dalam tradisi kemudian, mereka berubah menjadi bangsa monster, ancaman kosmis, dan aktor utama drama akhir zaman.
Itulah kekuatan utama entri ini. Ia mengajarkan bahwa untuk memahami Yājūj dan Mājūj, kita harus membedakan antara Qur’an sebagai teks dasar dan tradisi sebagai ruang perluasan. Pada saat yang sama, kita juga melihat bahwa Islam tidak sekadar mewarisi legenda-legenda lama, tetapi menempatkannya kembali dalam kerangka nubuat, penghakiman, dan kedaulatan Tuhan.