Membaca Matthew S. Gordon: Kemenangan sebagai Dukungan Ilahi, Keunggulan Moral, dan Kesudahan Eskatologis
Tulisan Matthew S. Gordon, “Victory,” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, berangkat dari satu pertanyaan sederhana tetapi penting: apa yang dimaksud Al-Qur’an ketika berbicara tentang “kemenangan”? Entri ini menunjukkan bahwa kemenangan dalam Al-Qur’an tidak dapat direduksi menjadi keberhasilan militer semata. Gordon memperlihatkan bahwa beberapa akar kata—f-t-ḥ, n-ṣ-r, f-w-z, dan gh-l-b—memang dapat menunjuk pada keberhasilan dalam peperangan, tetapi lebih sering mengarah pada pertolongan ilahi, keberpihakan Tuhan kepada para rasul dan orang beriman, serta keberhasilan akhir yang sepenuhnya bersifat eskatologis.
Di sini tampak tesis utama entri tersebut: dalam Al-Qur’an, kemenangan bukan pertama-tama kategori strategi, melainkan kategori teologis. Manusia bisa menang di medan perang, tetapi kemenangan sejati tetap berada dalam cakrawala dukungan Allah, keteguhan dalam jalan-Nya, dan keselamatan pada akhirnya. Itulah sebabnya Gordon tidak menulis “victory” sebagai sejarah perang, melainkan sebagai medan makna yang menghubungkan pertempuran, nubuat, kesetiaan, dan nasib akhir manusia.
Kemenangan bukan semata urusan perang
Gordon sejak awal menegaskan bahwa istilah kemenangan dalam Al-Qur’an tersebar dalam beberapa akar kata yang tidak selalu menunjuk hal yang sama. Ini penting, sebab ia menolak pembacaan yang terlalu cepat mengaitkan seluruh bahasa kemenangan dengan perang. Memang, fatḥ dapat menunjuk pada penaklukan, termasuk dalam Surah al-Fatḥ yang dibaca sebagai rujukan pada penaklukan Makkah. Namun, Gordon mengingatkan bahwa makna-makna lain justru lebih dominan: pertolongan ilahi, keberhasilan moral, dan keselamatan akhir.
Kerangka ini sangat berguna. Ia memaksa pembaca untuk membedakan antara kemenangan sebagai fakta sejarah dan kemenangan sebagai penilaian wahyu. Sebuah kelompok dapat memperoleh kemenangan lahiriah, tetapi Al-Qur’an menilai kemenangan dalam horizon yang lebih besar: apakah kemenangan itu merupakan ekspresi pertolongan Allah, apakah ia berada dalam “jalan Tuhan,” dan apakah ia berujung pada fawz sebagai keberhasilan akhir. Dengan kata lain, Gordon sedang menunjukkan bahwa semantik kemenangan dalam Al-Qur’an dibentuk oleh teologi, bukan oleh glorifikasi perang.
Naṣr: kemenangan sebagai pertolongan dari Allah
Bagian paling penting dalam entri ini ialah pembahasan tentang akar kata n-ṣ-r. Menurut Gordon, inilah salah satu medan makna paling khas dalam Al-Qur’an. Naṣr hampir selalu menunjuk pada dukungan ilahi, bukan kemenangan yang lahir dari kemampuan manusia semata. Ia menghubungkan istilah ini dengan Perang Badar dan Ḥunayn, tetapi juga dengan Nuh, Isa, dan para nabi secara umum.
Di sini, kemenangan tidak dimulai dari keunggulan pasukan, melainkan dari legitimasi ilahi. Orang-orang yang mendapat naṣr adalah mereka yang berada di pihak Allah dan para utusan-Nya. Itu berarti kemenangan Qur’ani pada dasarnya selalu bersifat relasional: bukan sekadar “saya menang,” tetapi “Tuhan menolong.” Gordon tepat ketika menghubungkan naṣīr dengan walī. Allah bukan hanya penolong sesaat, tetapi pelindung dan pihak yang menopang keberhasilan hamba-hamba-Nya.
Pembacaan ini penting karena ia menempatkan manusia dalam posisi yang tidak otonom. Al-Qur’an tidak mengajarkan bahwa kemenangan lahir dari kekuatan yang menutup diri dari Tuhan. Sebaliknya, mereka yang mencari pertolongan dari selain Allah—berhala, kekuatan palsu, atau sumber kuasa yang menyesatkan—akan gagal. Di sini Gordon dengan jernih menunjukkan bahwa semantik kemenangan dalam Al-Qur’an bertumpu pada kritik terhadap seluruh sumber “bantuan” tandingan. Hanya pertolongan Allah yang membuat kemenangan menjadi sah dan berarti.
Para anṣār dan kemenangan sebagai keberpihakan
Masih dalam medan n-ṣ-r, Gordon memberi perhatian pada istilah anṣār. Ini poin yang bagus, sebab ia memperlihatkan bagaimana bahasa kemenangan berhubungan dengan pembentukan komunitas. Anṣār bukan hanya sebutan sejarah bagi pendukung Nabi di Madinah, tetapi juga gambaran tentang mereka yang berpihak kepada para rasul dan jalan Allah.
Artinya, kemenangan dalam Al-Qur’an tidak hanya diartikulasikan sebagai hasil akhir, tetapi juga sebagai identitas kolektif. Mereka yang menolong agama Allah berada dalam garis kemenangan, bahkan sebelum hasil akhirnya tampak. Ini penting secara teologis: kemenangan bukan semata momen klimaks, tetapi keberpihakan yang konsisten. Dengan menjadi anṣār, seseorang sudah masuk ke dalam logika kemenangan, karena ia berdiri di sisi yang benar dalam pertarungan moral dan religius.
Fawz: kemenangan sejati adalah keselamatan akhir
Barangkali bagian paling tajam dalam entri ini adalah penjelasan Gordon tentang f-w-z. Berbeda dari fatḥ atau ghalaba yang masih bisa dekat dengan medan konflik, fawz bergerak jelas ke arah triumf eskatologis. Gordon menunjukkan bahwa bentuk nominal fawz selalu hadir dengan penguat seperti mubīn, kabīr, dan terutama ʿaẓīm. Ini menandakan bahwa kemenangan yang sedang dibicarakan bukan keberhasilan biasa, tetapi keberhasilan final yang tak tertandingi.
Di sini artikel Gordon menjadi sangat kuat. Ia menunjukkan bahwa dalam Al-Qur’an, kemenangan tertinggi bukanlah menaklukkan lawan, melainkan lolos dari azab, memperoleh ridha Allah, dan masuk ke dalam kebahagiaan akhir. Ketika Q 9:72 menyandingkan kenikmatan surga dengan keridhaan Allah sebagai al-fawz al-ʿaẓīm, Al-Qur’an sedang menggeser pusat gravitasi kemenangan dari ranah sejarah ke ranah akhirat.
Pembacaan ini amat penting, sebab ia mencegah pemahaman militeristik atas konsep kemenangan. Dalam cakrawala Qur’ani, keberhasilan tertinggi bukan dominasi atas orang lain, melainkan keselamatan di hadapan Allah. Gordon berhasil menangkap pergeseran ini dengan baik: istilah kemenangan menjadi ukuran bukan bagi superioritas duniawi, tetapi bagi nasib akhir manusia.
Ghalaba: antara mengalahkan, menguasai, dan bertahan
Akar kata gh-l-b dibaca Gordon secara cukup cermat sebagai istilah yang bergerak antara makna umum “mengungguli” dan makna khusus kemenangan militer. Ini penting karena menunjukkan bahwa Al-Qur’an memakai bahasa kemenangan juga untuk pengalaman non-militer: orang jahat “dikalahkan” oleh kesengsaraan mereka sendiri, atau kaum penentang wahyu berusaha “mengalahkan” suara Al-Qur’an dengan hiruk-pikuk penolakan.
Di sini Gordon membuat satu pengamatan penting: kemenangan dalam Al-Qur’an dapat berarti menguasai keadaan, mengungguli lawan, atau tetap bertahan dalam kebenaran. Maka kemenangan tidak selalu tampil dalam citra serangan, tetapi kadang dalam bentuk keteguhan menghadapi upaya pembungkaman. Ini memperkaya makna kemenangan Qur’ani: menang bukan hanya menyerbu, tetapi juga tidak tenggelam oleh kebatilan.
Pembahasan tentang Byzantium dalam Q 30 juga menambah dimensi historis. Gordon menunjukkan bahwa istilah kemenangan dapat bekerja pada level geopolitik sebagai bagian dari tanda sejarah yang dibaca melalui nubuwwah. Namun, bahkan di sini, fokus Qur’an bukan historiografi politik murni, melainkan pembuktian bahwa arah sejarah tetap berada di bawah pengetahuan dan kehendak Tuhan.
“Ḥizb Allāh” dan kemenangan sebagai identitas teologis
Salah satu simpul penting yang disentuh Gordon adalah frasa ḥizb Allāh sebagai pihak yang benar-benar menang. Ini penting karena kemenangan Qur’ani akhirnya tidak dipahami sebagai milik siapa saja yang unggul, tetapi sebagai identitas golongan yang berafiliasi dengan Tuhan.
Di sini kemenangan adalah hasil dari keberpihakan ontologis dan religius. Seseorang menang karena berada dalam ḥizb Allāh, bukan karena sekadar berhasil mengalahkan lawan. Logika ini sangat khas Qur’ani. Ia membuat kemenangan menjadi penanda keabsahan iman, kesetiaan, dan kedekatan dengan tatanan ilahi. Kemenangan tidak berdiri sendiri; ia selalu mengandaikan soal pihak mana yang dibela dan sumber kuasa mana yang diandalkan.
Kontribusi utama entri ini
Kekuatan utama tulisan Gordon terletak pada ekonominya. Dalam ruang yang sangat singkat, ia berhasil menunjukkan bahwa “kemenangan” dalam Al-Qur’an adalah istilah berlapis. Ia tidak jatuh ke dalam penyederhanaan yang menyamakan semua kemenangan dengan perang, dan juga tidak melepaskannya sama sekali dari sejarah konflik. Ia justru menempatkan seluruh medan semantik itu dalam satu garis besar: kemenangan Qur’ani selalu harus dibaca dari sudut pandang Allah, bukan dari sudut pandang keberhasilan manusia yang mandiri.
Artikel ini juga sangat membantu karena membedakan secara halus beberapa akar kata yang sering diterjemahkan sama. Perbedaan antara fatḥ, naṣr, fawz, dan ghalaba membuat pembaca sadar bahwa Al-Qur’an mempunyai kosakata kemenangan yang kaya, dan tiap istilah membawa aksen teologis yang berbeda.
Keterbatasan
Karena formatnya sangat ringkas, entri ini tidak sempat mengembangkan secara penuh hubungan antara kemenangan duniawi dan kemenangan akhirat. Gordon memang menunjukkan bahwa dimensi eskatologis sangat dominan, tetapi belum menjelaskan lebih jauh bagaimana kemenangan historis dalam peperangan Nabi dipahami sebagai tanda, bayangan, atau validasi dari kemenangan akhir yang lebih besar.
Selain itu, artikel ini lebih berupa peta semantik daripada pembacaan argumentatif yang utuh. Ia sangat efektif sebagai pengantar, tetapi pembaca yang ingin memahami bagaimana konsep kemenangan bekerja dalam etika politik Qur’ani, atau bagaimana tafsir klasik dan modern memperluas istilah-istilah ini, masih perlu melangkah ke sumber lain.
Penutup
Melalui entri ini, Matthew S. Gordon memperlihatkan bahwa kemenangan dalam Al-Qur’an tidak pernah sesederhana keberhasilan menundukkan lawan. Kemenangan bisa berbentuk penaklukan, tetapi lebih dalam dari itu ia adalah pertolongan Allah, keberpihakan pada para nabi, keteguhan dalam kebenaran, dan pada puncaknya keselamatan pada hari akhir.
Yang paling penting dari seluruh pembahasan ini ialah pergeseran pusat makna: kemenangan Qur’ani bukan pertama-tama soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang ditolong Allah, siapa yang tetap berada di jalan-Nya, dan siapa yang memperoleh al-fawz al-ʿaẓīm. Di situlah kemenangan menjadi bukan sekadar hasil, melainkan penilaian ilahi atas seluruh perjalanan manusia.