Membaca Maurice Borrmans: Kebangkitan sebagai Inti Akuntabilitas Manusia dalam Al-Qur’an
Tulisan Maurice Borrmans, “Resurrection,” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, membahas salah satu poros teologi Qur’ani: kebangkitan seluruh manusia dari kematian menjelang penghakiman terakhir. Entri ini singkat, tetapi padat. Borrmans tidak memperlakukan kebangkitan hanya sebagai satu episode pada “akhir zaman”, melainkan sebagai simpul yang menghubungkan kehancuran kosmos, pengumpulan seluruh makhluk, penimbangan amal, dan nasib final manusia di hadapan Tuhan. Fokus utamanya jelas: Al-Qur’an menegaskan kebangkitan tubuh manusia secara nyata, bukan sekadar kelangsungan jiwa dalam arti spiritual abstrak.
Yang menonjol dari entri ini ialah cara Borrmans memetakan bahasa Qur’an tentang kebangkitan melalui beberapa istilah kunci seperti qiyāma, baʿth, nushūr, ḥashr, dan ḥayāt. Dari sini tampak bahwa “kebangkitan” dalam Al-Qur’an bukan istilah tunggal dengan satu warna makna, tetapi jaringan konsep yang bergerak dari kehancuran dunia menuju pengumpulan manusia, lalu berujung pada pengadilan ilahi.
Kebangkitan bukan tema pinggiran, melainkan pusat pesan Qur’ani
Borrmans membuka pembahasannya dengan menunjukkan frekuensi dan bobot istilah yawm al-qiyāma dalam Al-Qur’an. Langkah ini penting, sebab ia menegaskan bahwa kebangkitan bukan doktrin sekunder, melainkan bagian inti dari pewartaan Qur’ani. Bahkan ketika Al-Qur’an memakai istilah lain seperti yawm al-dīn atau yawm al-ḥisāb, semua itu tetap mengandaikan satu prasyarat: manusia harus dibangkitkan lebih dahulu agar penghakiman dan perhitungan amal menjadi mungkin.
Di titik ini, Borrmans membaca kebangkitan sebagai fondasi akuntabilitas moral. Tidak ada pengadilan tanpa kebangkitan. Tidak ada pembalasan tanpa pengumpulan kembali manusia sebagai subjek utuh. Maka kebangkitan berfungsi sebagai jembatan antara kehidupan dunia dan keadilan akhirat. Ini membuat doktrin tersebut bukan sekadar peristiwa kosmis, tetapi syarat bagi tegaknya makna etis sejarah manusia.
“Saat” terakhir dan suasana apokaliptik
Salah satu bagian yang paling kuat dalam entri ini ialah penjelasannya tentang al-sāʿa, “saat” terakhir. Borrmans menekankan dua unsur yang selalu berdampingan dalam Al-Qur’an: kepastian datangnya saat itu, dan ketidaktahuan manusia tentang waktunya. Pola ini penting secara teologis. Akhir zaman bukan isu yang bisa dijinakkan menjadi pengetahuan kronologis; ia adalah realitas yang pasti, tetapi tetap berada dalam pengetahuan eksklusif Tuhan.
Dari sini Borrmans bergerak ke tanda-tanda apokaliptik. Ia menyebut asap, binatang melata, serta Yājūj dan Mājūj sebagai tiga tanda yang memang memperoleh pijakan Qur’ani, sementara tanda-tanda lain lebih luas hidup dalam sunah dan tradisi eskatologis. Di sini tampak metode entri ini: Borrmans berusaha menjaga perbedaan antara apa yang disebut langsung dalam Al-Qur’an dan apa yang dibesarkan oleh tradisi pasca-Qur’ani. Ini membuat tulisannya cukup disiplin. Ia tidak menolak tradisi, tetapi tetap menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat gravitasi.
Bagian ini juga menunjukkan bahwa kebangkitan dalam Al-Qur’an selalu dibingkai oleh suasana pembalikan total atas tatanan alam. Gempa bumi, keluarnya “beban” bumi, tiupan sangkakala, panggilan dari tempat dekat, semua itu menandai bahwa kebangkitan bukan sekadar kelanjutan kehidupan biasa, tetapi pecahnya tatanan kosmos yang lama.
Dari bumi terbelah ke pengumpulan universal
Borrmans memberi perhatian khusus pada ayat-ayat yang menggambarkan manusia keluar dari bumi dan dikumpulkan. Pembacaan ini sangat penting, sebab ia memperlihatkan bahwa kebangkitan Qur’ani bersifat kolektif dan universal. Yang dibangkitkan bukan hanya orang beriman, tetapi seluruh manusia, bahkan dalam cakupan tradisi Islam juga jin dan malaikat masuk ke lanskap eskatologis itu.
Di sini, kebangkitan tampil bukan sebagai pengalaman individual yang sunyi, tetapi sebagai peristiwa publik kosmik. Semua makhluk dikumpulkan. Semua amal diperlihatkan. Semua identitas dipanggil kembali ke hadapan Tuhan. Penggambaran semacam ini memperjelas watak Al-Qur’an yang sangat sosial dalam membayangkan akhirat: nasib akhir bukan sekadar relasi privat antara jiwa dan Tuhan, tetapi drama universal yang menyangkut seluruh ciptaan.
Menarik pula bahwa Borrmans mengaitkan Q 75:22–23(*) dengan puncak pengalaman orang beriman, ketika wajah-wajah berseri memandang Tuhan. Ia tidak mengembangkan polemik teologisnya secara panjang, tetapi cukup memberi isyarat bahwa kebangkitan membuka bukan hanya ruang hisab, melainkan juga kemungkinan perjumpaan.
(*) وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ ٢٢ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ ٢٣
Terjemahan Kemenag 2019
22. Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri
23. (karena) memandang Tuhannya.
Argumen Qur’ani untuk kebangkitan tubuh
Sumbangan paling penting entri ini terletak pada pembahasannya tentang argumen Qur’ani bagi kebangkitan. Borrmans tidak berhenti pada pernyataan “Al-Qur’an mengajarkan kebangkitan”, tetapi mencoba menunjukkan bagaimana Al-Qur’an sendiri membangun logikanya. Ia mengelompokkan beberapa pola argumentasi.
Pertama, kebangkitan dipahami sebagai penciptaan baru oleh Tuhan yang Mahakuasa. Kalau Tuhan sanggup menciptakan pertama kali, tidak ada alasan untuk menyangkal bahwa Ia mampu menciptakan kembali. Di sini kebangkitan berakar langsung dalam doktrin kuasa ilahi.
Kedua, Al-Qur’an mengajukan analogi dari tanah yang mati lalu hidup kembali melalui hujan dan vegetasi. Pola ini sangat khas Qur’ani. Kebangkitan manusia dijelaskan melalui ritme alam yang berulang: bumi mati, lalu hidup; manusia mati, lalu dibangkitkan. Borrmans tepat menangkap bahwa analogi ini bukan ornamen retoris, tetapi bagian dari argumen ontologis Qur’an.
Ketiga, ia menunjuk kisah-kisah tentang orang mati yang dihidupkan kembali, termasuk kisah para penghuni gua. Di sini Al-Qur’an menghadirkan kebangkitan bukan hanya sebagai masa depan, tetapi sebagai sesuatu yang sudah diperlihatkan dalam bentuk tanda.
Bagian ini adalah inti konseptual entri. Borrmans ingin menegaskan bahwa kebangkitan badan dalam Al-Qur’an tidak hadir sebagai dogma tanpa dasar, tetapi dibangun melalui argumentasi yang menghubungkan penciptaan, alam, sejarah, dan kuasa Tuhan.
Baʿth, nushūr, dan ḥayāt: bahasa yang membangun doktrin
Salah satu kelebihan entri ini adalah kepekaannya terhadap nuansa istilah. Borrmans menunjukkan bahwa kebangkitan tidak hanya diungkap dengan qiyāma. Ada pula baʿth, yakni “dibangkitkan” atau “dikirim bangun” oleh Tuhan; nushūr, yang menekankan aspek “muncul kembali” atau “tersebar keluar”; dan ḥayāt, bahasa tentang hidup yang memberi warna eksistensial lebih dalam pada seluruh doktrin ini.
Pembacaan ini sangat berguna karena membantu kita melihat bahwa Al-Qur’an tidak berbicara tentang kebangkitan dalam satu register saja. Kadang ia menyoroti momentum eskatologisnya, kadang tindakan ilahi yang membangkitkan, kadang pengalaman hidup kembali itu sendiri. Borrmans juga menarik dua ayat tentang Yaḥyā dan ʿĪsā yang menyusun hidup manusia dalam tiga tahap: lahir, mati, lalu dibangkitkan kembali. Ini pengamatan yang bagus, sebab ia menunjukkan bagaimana kebangkitan masuk ke dalam antropologi Qur’ani, bukan hanya ke dalam kosmologi akhir zaman.
Kebangkitan dan kehidupan: Tuhan sebagai yang menghidupkan dan mematikan
Di bagian akhir, Borrmans menegaskan satu titik mendasar: kebangkitan hanya mungkin karena Tuhan adalah al-Muḥyī dan al-Mumīt—yang menghidupkan dan mematikan. Ini membawa pembahasannya dari eskatologi ke teologi ketuhanan. Kebangkitan bukan peristiwa yang berdiri sendiri, tetapi konsekuensi dari siapa Tuhan itu.
Dengan mengaitkan kebangkitan kepada sifat Tuhan sebagai pemberi hidup, Borrmans memperlihatkan bahwa Al-Qur’an tidak memisahkan eskatologi dari tauhid. Yang menghidupkan pertama kali adalah Dia yang akan menghidupkan kembali. Kematian dan kebangkitan adalah dua sisi dari kuasa ilahi yang sama. Karena itu, menyangkal kebangkitan pada dasarnya berarti gagal memahami Tuhan sebagai penguasa penuh atas hidup dan mati.
Kontribusi utama entri ini
Kontribusi terbesar tulisan Borrmans ialah kejernihannya. Ia berhasil menyusun peta ringkas tetapi padat tentang kebangkitan dalam Al-Qur’an: kepastian datangnya saat terakhir, tanda-tanda apokaliptik, penghancuran tatanan lama, pengumpulan seluruh makhluk, penampakan amal, serta dasar Qur’ani bagi keyakinan bahwa tubuh manusia benar-benar akan dibangkitkan.
Kelebihan lain entri ini ialah keberhasilannya menahan diri dari tenggelam terlalu jauh ke dalam detail tradisi pasca-Qur’ani. Ia memang menyebut daftar sepuluh tanda kiamat yang hidup dalam literatur Islam, tetapi tetap jelas membedakan mana yang punya sandaran Qur’ani dan mana yang terutama dibesarkan oleh sunah dan tradisi apokaliptik. Ini membuat artikelnya tetap fokus pada Al-Qur’an, bukan pada seluruh bangunan eskatologi Islam kemudian.
Catatan kritis
Meski jernih, entri ini cenderung bersifat deskriptif dan katalogis. Borrmans memetakan istilah dan ayat dengan cukup rapi, tetapi tidak banyak masuk ke dalam sejarah perdebatan tafsir. Misalnya, ia hanya menyinggung secara singkat isu tubuh dan jiwa, tanpa mengelaborasi bagaimana para teolog, filosof, atau mufasir berbeda pandangan tentang sifat kebangkitan.
Selain itu, pembahasan tentang hubungan antara kebangkitan dan penghakiman bisa dikembangkan lebih jauh. Entri ini sangat baik dalam menunjukkan urutan umum—annihilasi, kebangkitan, penghakiman—tetapi belum sepenuhnya menggali ketegangan teologis di antara ketiganya, misalnya soal identitas personal, kesinambungan tubuh, atau hubungan antara amal dunia dan bentuk pembalasan akhirat.
Masalah lainnya ialah bahwa artikel ini relatif lebih menekankan kebangkitan sebagai fakta doktrinal daripada sebagai retorika dakwah Qur’an. Padahal dalam banyak surah Makkiyah, kebangkitan juga berfungsi sebagai alat guncangan moral dan pembongkaran rasa aman palsu masyarakat penolak wahyu. Aspek retoris-eksistensial ini ada di latar, tetapi belum benar-benar diolah.
Penutup
Melalui entri ini, Maurice Borrmans memperlihatkan bahwa kebangkitan dalam Al-Qur’an adalah pernyataan sentral tentang keadilan Tuhan, akuntabilitas manusia, dan kesinambungan antara hidup sekarang dan hidup yang akan datang. Kebangkitan bukan tambahan di ujung teologi, melainkan syarat agar sejarah manusia memiliki makna moral penuh di hadapan Allah.
Yang paling penting dari pembacaan Borrmans ialah penegasannya bahwa Al-Qur’an berbicara tentang kebangkitan tubuh manusia secara nyata. Tubuh yang mati tidak lenyap begitu saja ke dalam ketiadaan. Ia akan dipanggil kembali, dikumpulkan, diperlihatkan amalnya, lalu diadili. Dari sana, kebangkitan menjadi bukan sekadar tema akhir zaman, tetapi titik tempat seluruh kehidupan manusia akhirnya dipertanggungjawabkan.