Dari “senjata polemik” ke proyek filologi, lalu jadi monumen sastra: Membaca Babinski & Loop: Terjemahan Qur’an non-Muslim di Eropa (1143–1850)
Sejak Abad Pertengahan, Eropa membangun kebiasaan yang tampak sederhana namun berdampak panjang: membaca dan menerjemahkan Al-Qur’an. Namun kebiasaan ini tidak pernah netral. Dalam rentang 1143–1850, terjemahan Qur’an berulang kali berubah fungsi—kadang menjadi alat polemik, kadang menjadi instrumen filologi, dan pada momen tertentu menjelma monumen sastra yang ikut membentuk selera dan pasar bacaan. Itulah garis besar yang ditawarkan Paul Babinski dan Jan Loop (teks sumber: “Non-Muslim European Translations of the Qurʾān, 1143–1850”, dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), bahwa sejarah “Qur’an Eropa” bukan sekadar sejarah teks, melainkan sejarah niat, institusi, dan infrastruktur pengetahuan—manuskrip, jaringan sarjana, perjalanan ilmiah, hingga teknologi cetak.
Titik awal: Qur’an Latin dan Eropa yang sedang “mendefinisikan lawan”
Di tahap paling awal, terjemahan Qur’an muncul terutama dalam suasana kontestasi religius. Para penulis Kristen memang mengenal potongan ayat sejak abad-abad awal, tetapi sering hanya lewat kutipan dalam karya polemik. Bahkan ada kabar tentang terjemahan Yunani dan Siria pada abad ke-9, namun tidak ditemukan manuskripnya.
Perubahan besar terjadi pada pertengahan abad ke-12. Dalam proyek penerjemahan di Spanyol, Peter the Venerable—tokoh penting Ordo Cluny—menginisiasi penerjemahan teks-teks Islam ke Latin, yang kelak dikenal sebagai Corpus Islamolatinum. Di dalam proyek itulah Robert of Ketton menerjemahkan Qur’an secara lengkap (1142–1143). Terjemahan ini menjadi semacam “Qur’an standar” bagi Eropa Latin selama berabad-abad. Ia ditulis dengan Latin yang indah dan mengalir, tetapi justru karena itu sering menjauh dari literalitas: ada parafrase, ringkasan, dan penghilangan yang membuat banyak sarjana kemudian frustrasi. Namun, untuk pembaca Eropa kala itu, versi Ketton tetap unggul karena terasa jelas dan mudah diakses.
Tak lama kemudian muncul versi kedua: Mark of Toledo (1210). Dibanding Ketton, terjemahan Mark lebih “dekat” dengan teks Arab dan berguna untuk studi serius. Tetapi inilah pelajaran awal dalam sejarah penerjemahan: kualitas filologis tidak selalu sejalan dengan pengaruh sejarah. Ketton beredar luas; Mark beredar terbatas, lebih sering dipakai oleh pembaca yang benar-benar belajar teks Arab.
Setelah Reconquista: filologi mulai memisahkan diri dari polemik
Memasuki abad ke-15, terutama setelah gelombang penaklukan Kristen di Iberia, proyek penerjemahan mulai menampakkan dua wajah yang makin berbeda: polemik misioner di satu sisi, dan filologi humanis di sisi lain. Bedanya bukan berarti tembok tebal—keduanya sering bertemu dalam satu proyek—tetapi orientasinya berubah: ada usaha lebih serius untuk membuat terjemahan yang dapat dipakai menelaah teks Arab.
Salah satu episode paling menarik adalah Juan de Segovia. Ia merasa terjemahan Ketton tidak memadai untuk proyeknya, lalu bekerja dengan seorang sarjana Muslim Mudéjar, Içe de Gebir, untuk menyiapkan Qur’an yang disalin, diberi vokal, dan diterjemahkan lebih literal ke dalam Castilia. Dari bahan itu, Juan menyusun versi Latin dalam format yang canggih: seolah sebuah Qur’an “tiga bahasa” yang memudahkan pembacaan teliti. Naskah utuhnya hilang, tetapi jejaknya tersisa pada preface Latin dan catatan pinggir karya Juan.
Pada periode yang hampir sama, muncul tokoh-tokoh perantara lintas iman dan lintas bahasa. Flavius Mithridates (Moncada), seorang Yahudi Sisilia yang masuk Kristen, menerjemahkan bagian Qur’an untuk seorang bangsawan Italia, lengkap dengan teks Arab dan komentar. Di sini terjemahan tampak bukan hanya sebagai “alat bantah”, tetapi juga objek prestise intelektual.
Puncaknya, pada 1518, sebuah proyek besar filologis disponsori kardinal Italia Egidio da Viterbo dengan penerjemah utama Juan Gabriel (mualaf dari Islam). Terjemahan ini menonjol karena menghadirkan teks Arab, transliterasi Latin, terjemahan Latin, dan komentar secara terpisah—sebuah langkah penting dalam “cara ilmiah” membaca Qur’an di Eropa. Bahkan Leo Africanus (al-Ḥasan al-Wazzān), figur legendaris yang hidup di ambang dunia Islam dan Kristen, ikut merevisi sebagian pekerjaan itu. Meski manuskrip induknya hilang, salinan parsialnya menunjukkan betapa serius proyek ini dalam membangun perangkat filologi.
Pada saat yang sama, ada juga tradisi polemik yang sangat produktif: Antialcoranes, khotbah, dan risalah yang memasukkan kutipan ayat dengan transliterasi dan terjemahan. Dengan kata lain, filologi dan polemik sering berjalan bersama: satu tangan “menggali” Qur’an, tangan lain “mengarahkannya” untuk kepentingan misi dan debat.
Revolusi cetak: Qur’an keluar dari ruang terbatas manuskrip
Satu faktor yang mengubah medan secara drastis adalah percetakan. Tahun 1543 menjadi momen kunci: Theodor Bibliander di Zürich menyunting dan menerbitkan kumpulan Corpus Islamolatinum dan mengukuhkan terjemahan Ketton sebagai versi Qur’an Latin yang paling berpengaruh selama kira-kira satu abad. Penerbitan ini sendiri sarat drama: proyek pernah dihentikan oleh otoritas Basel, lalu dilanjutkan setelah intervensi tokoh Reformasi seperti Martin Luther, dan akhirnya masuk daftar buku terlarang di lingkungan Katolik.
Namun dampak terbesarnya bukan pada kontroversi, melainkan pada akses. Dengan cetak, Qur’an (dalam bentuk terjemahan) menjadi lebih mudah diperoleh dan dibaca. Dan begitu sebuah teks masuk pasar, ia segera memunculkan “turunan”: dari Latin menjadi Italia, dari Italia menjadi Jerman, lalu menjalar ke Belanda, bahkan meninggalkan jejak dalam tradisi Yahudi (Hebrew dan Ladino). Di titik ini, Qur’an bukan lagi hanya urusan teolog atau polemis; ia juga menjadi bagian dari ekonomi buku dan rasa ingin tahu publik Eropa.
Abad 17: Qur’an sebagai laboratorium filologi bahasa Arab
Memasuki abad ke-17, terutama di Eropa Utara, Qur’an mulai diperlakukan sebagai teks kunci untuk belajar bahasa Arab. Para sarjana merasa terjemahan Ketton terlalu bebas, maka mereka memburu manuskrip Arab, membandingkan berbagai versi, dan meminta bantuan jaringan “Republic of Letters”.
Salah satu contoh kecenderungan ini adalah tradisi “spesimen” Qur’an: penerbitan satu surah atau beberapa surah saja, lengkap dengan perangkat gramatikal, terjemahan antarbaris, catatan kosakata, dan analisis sintaksis. Thomas Erpenius di Leiden menjadi figur simbolik: edisi Sūrat Yūsuf (1617) menunjukkan Qur’an diperlakukan seperti teks klasik yang “dibedah” untuk tujuan linguistik. Setelah itu, banyak tata bahasa Arab memakai potongan surah sebagai bahan latihan.
Di balik dunia cetak, ada juga kerja manuskrip yang besar: beberapa terjemahan Latin lengkap dibuat tetapi tidak diterbitkan, entah karena kesulitan teknis, kehati-hatian politik, atau resistensi teologis. Ini menunjukkan satu hal: meski minat filologis meningkat, penerbitan Qur’an tetap dianggap sensitif.
Dua tonggak yang mengubah peta: Du Ryer dan Marracci
Di antara begitu banyak proyek, Babinski & Loop menekankan dua tonggak besar abad ke-17 yang memberi arah baru.
Pertama, André Du Ryer menerbitkan terjemahan Prancis (1647), terjemahan vernakular pertama yang dicetak langsung dari teks Arab. Pengalaman diplomatiknya di Istanbul dan Alexandria membuatnya akrab dengan dunia Turki-Utsmani; ia memakai kamus-kamus Ottoman dan mengutip tafsir, terutama Tafsīr al-Jalālayn. Terjemahan Du Ryer segera melahirkan gelombang versi turunan ke bahasa Inggris, Belanda, Jerman, hingga Rusia. Di sini terlihat perubahan orientasi: Qur’an bukan hanya “teks lawan”, tetapi juga teks yang dibaca luas.
Kedua, Ludovico Marracci menerbitkan Alcorani textus universus (1698), sebuah karya raksasa: teks Arab, terjemahan Latin literal, catatan filologis yang bersandar pada tafsir-tafsir Islam, plus refutasi panjang. Marracci mewakili puncak proyek “ilmiah sekaligus polemik”: ia sangat teliti memakai sumber Islam, tetapi tetap menutupnya dengan bantahan teologis. Apa pun penilaian kita, pengaruhnya sangat besar: hampir semua terjemahan Eropa abad 18–awal 19 berdiri di atas fondasi Marracci.
Abad Pencerahan: Qur’an sebagai “monumen budaya” dan proyek sastra
Pada abad ke-18, terjadi pergeseran penting: Qur’an semakin dipahami sebagai bagian dari kebudayaan dan sejarah agama dunia, bukan semata objek bantahan teologis. George Sale (1734) adalah figur kunci: ia menggunakan perangkat Marracci, tetapi mengurangi semangat refutasi dan menghadirkan Islam dengan gaya yang lebih “tenang” dalam Preliminary Discourse. Terjemahan Sale menjadi bestseller dan terus memengaruhi pembaca Eropa.
Tak lama kemudian, Savary (1783) menonjolkan Qur’an sebagai teks yang punya “keindahan” dan menuntut penerjemah berjiwa sastrawan. Di Jerman, perdebatan tentang gaya Qur’an bahkan menyulut obsesi puitik: Goethe mencela terjemahan yang buruk, dan tradisi “menerjemahkan rasa” semakin kuat, hingga akhirnya tercermin dalam proyek puitik Friedrich Rückert (meski terbit belakangan).
Abad 19: perluasan vernakular dan Qur’an masuk “kanon kitab suci dunia”
Pada abad ke-19, dua hal terjadi sekaligus: studi Arab di Eropa makin mapan, dan pasar pembaca makin luas. Qur’an diterjemahkan ke lebih banyak bahasa Eropa, sering kali melalui kombinasi sumber—Arab, Marracci, Sale, Savary. Terjemahan Kazimirski (1840–1841) menjadi salah satu standar penting bahasa Prancis, dan menariknya ia masuk ke proyek komparatif “kitab suci Timur”—seolah Qur’an diposisikan sejajar dengan teks-teks besar dunia.
Di sinilah garis panjang Babinski & Loop terasa: dari abad 12 hingga 19, Qur’an bergerak dari ruang polemik ke ruang filologi, dan akhirnya menyeberang ke ruang sastra-populer dan kanon global.
Penutup
Babinski & Loop membantu kita melihat bahwa tidak ada garis lurus “dari kebencian menuju objektivitas”. Terjemahan Qur’an di Eropa terus berubah karena tiga faktor besar: (1) tujuan (polemik, pembelajaran, sastra), (2) perangkat ilmu (akses manuskrip, tafsir, gramatika), dan (3) media (dari manuskrip ke cetak). Karena itu, “Qur’an Eropa” adalah cermin perubahan cara Eropa memproduksi pengetahuan: kadang menyerang, kadang belajar, kadang mengagumi—dan sering melakukan semuanya sekaligus.