Festival, Memori, dan Politik Kesalehan: Membaca “Festivals and Commemorative Days” bersama Valerie J. Hoffman
Salah satu kekuatan entri Valerie J. Hoffman adalah caranya menempatkan “festival” bukan sekadar sebagai kalender ritual, melainkan sebagai medan pertemuan antara teks, tradisi, memori kolektif, dan dinamika sosial-politik. Di sini, perayaan bukan ornamen agama, tetapi cara komunitas mengingat—dan melalui ingatan itu, komunitas membentuk identitasnya sendiri.
Sejak awal, Hoffman menegaskan sesuatu yang sering luput dalam pembacaan normatif: al-Qur’an tidak menggunakan istilah ‘īd (hari raya/holiday), tetapi tradisi Islam kemudian memakai istilah itu untuk dua perayaan utama: ‘Id al-Fitr (penutup Ramadan) dan ‘Id al-Adha (puncak ritus haji dan kurban). Dari titik ini, Hoffman memperluas cakupan: Islam sejarah menambah banyak “hari peringatan” lain—mulai dari mawlid Nabi, peringatan kematian para wali, hingga ‘Ashura versi Syiah yang berpusat pada tragedi Karbala.
Dengan kata lain, entri ini memperlihatkan satu pola: dari minimalisme Qur’ani menuju proliferasi tradisi. Dan di situlah problem serta daya hidup agama bekerja.
Ramadan dan ‘Id al-Fitr: Ritme Disiplin dan Kegembiraan
Hoffman menggambarkan Ramadan sebagai poros kesalehan yang berlapis: al-Qur’an menekankan tujuannya—tattaqun—yakni pembentukan ketakwaan. Tetapi tradisi hadits memperkaya pengalaman Ramadan dengan narasi keutamaan: pintu rahmat dibuka, setan dibelenggu, dan ada malam puncak laylat al-qadr yang nilainya “lebih baik daripada seribu bulan”.
Di sini yang penting bukan hanya data ritual, melainkan logika sosialnya: Ramadan adalah “sekolah intensif” yang mengubah ritme hidup masyarakat. Hoffman mencontohkan bagaimana jam kerja, aktivitas keluarga, dan budaya kota berubah. Hiasan lampu, dhikr Sufi, dan suasana malam yang hidup menunjukkan bahwa agama bukan hanya disiplin menahan diri, tetapi juga produksi budaya.
Kemudian ‘Id al-Fitr tampil sebagai “puncak pelepasan”: hari ketika puasa justru dilarang. Ini menarik secara antropologis: puasa dan raya membentuk satu siklus—ketegangan asketis diakhiri dengan kegembiraan bersama. Dalam bahasa sederhana, Islam tidak hanya mendidik manusia untuk menahan, tetapi juga mengajari kapan harus merayakan.
Haji dan ‘Id al-Adha: Antara Ritus, Sejarah, dan Narasi yang Datang Belakangan
Bagian tentang haji menggarisbawahi betapa kompleksnya ritus Islam. Namun Hoffman mengajukan catatan penting: dalam literatur hadits dan fikih, fungsi haji sering dijelaskan terutama sebagai pengampunan dosa, sedangkan fungsi “komemoratif” (mengenang kisah Ibrahim-Ismail-Hajar) tidak selalu ditekankan secara eksplisit.
Lalu Hoffman menunjukkan satu hal yang bisa menantang pembaca: banyak asosiasi simbolik yang sekarang terasa “alami”—Zamzam terkait Hajar, Sa’i terkait pencarian air, jumrah terkait godaan iblis, kurban terkait penggantian anak oleh hewan—tampaknya menguat dalam tradisi kemudian, melalui legenda dan elaborasi naratif.
Poin yang dapat diambil dari narasi di atas adalah ritual tidak selalu lahir dari cerita; kadang cerita lahir untuk menjelaskan ritual. Tradisi membangun “jembatan makna” agar ritus terasa lebih narratif dan komunikatif bagi generasi berikutnya.
Hoffman juga menegaskan bahwa kurban dalam ‘Id al-Adha bersifat komemoratif, bukan “penebusan” dalam arti teologi Kristen. Ini garis pembeda yang penting: kurban bukan “tebusan dosa”, tetapi tanda syukur dan ketaatan, sekaligus sarana berbagi sosial (daging untuk fakir miskin). Di sini tampak bahwa dimensi sosial-ekonomi tidak pernah benar-benar terpisah dari ibadah.
‘Id sebagai Ruang Kegembiraan: Agama dan Batas “Keceriaan yang Sah”
Hoffman memasukkan kisah terkenal: Abu Bakr terkejut mendengar nyanyian di rumah ‘Aisyah pada hari raya, lalu Nabi menegaskan, “Setiap kaum punya hari rayanya, dan ini hari raya kita.” Kisah ini penting karena menunjukkan bahwa perayaan Islam bukan hanya ritual formal, tetapi juga pengakuan terhadap kebutuhan manusia akan kegembiraan.
Namun Hoffman mencatat: banyak komentator tetap memberi peringatan agar tidak berlebihan. Di sini kita melihat ketegangan klasik: agama merestui sukacita, tetapi juga mengatur batasnya. ‘Id menjadi ruang negosiasi antara kesalehan dan hiburan.
Ziarah Kubur dan Hari Para Wali: Baraka, Ruang Sakral, dan Kontroversi Modern
Bagian terpanjang dan paling etnografis adalah tentang ziarah makam Nabi dan para wali (awliya’) serta mawlid. Hoffman menggambarkan dengan detail bagaimana makam wali berfungsi sebagai “pusat spiritual” yang dipersepsikan memiliki akses lebih langsung ke langit. Praktik menyentuh maqsurah, mengambil berkah (baraka), tawaf di sekitar makam, nazar, sedekah, hingga ritual dhikr Sufi, dipresentasikan sebagai ekologi ritual yang sangat hidup.
Ini bukan sekadar laporan; ia memotret bagaimana umat membangun pengalaman religius melalui tubuh, ruang, dan emosi. Bagi banyak orang, ziarah dan mawlid adalah mekanisme memperoleh ketenangan, rasa aman, dan harapan—terutama di tengah ketidakpastian hidup.
Namun di titik ini, Hoffman juga menunjukkan problem modern: kritik reformis terhadap mawlid dan ziarah karena campur baur laki-laki-perempuan, unsur-unsur “sekuler” (pasar malam, permainan), dan terutama karena kekhawatiran syirik (doa kepada selain Allah). Di sini terlihat bahwa “festival” adalah medan konflik interpretasi: antara agama sebagai tradisi hidup dan agama sebagai disiplin kemurnian.
Hoffman mencatat bahwa pembela mawlid sering menyebut fungsi edukatif—mengenalkan teladan para wali—tetapi secara praksis, fungsi edukatif itu tidak selalu tampak kuat, kecuali pada mawlid Nabi yang biasanya diiringi pembacaan sirah dan pujian-pujian.
‘Ashura Syiah: Memori Penderitaan sebagai Fondasi Identitas
Puncak entri ini adalah pembahasan ‘Ashura dalam Syiah Dua Belas. Hoffman menekankan bahwa inilah festival Islam yang paling jelas “komemoratif” secara langsung: tragedi Karbala pada 10 Muharram. Tetapi yang lebih penting: peringatan ini bukan hanya mengenang; ia menjadi bentuk partisipasi emosional dan spiritual dalam penderitaan Husayn.
Hoffman bahkan mengutip pandangan yang menyebut dimensi “redemptive”—kematian Husayn dipahami memiliki efek pemurnian bagi komunitas. Ritual tangis, marsiyah, pembacaan kisah syahid, ta’ziyah, hingga prosesi publik membangun “kompleks ritual” yang mempertegas identitas Syiah dan membedakannya dari Sunni.
Di sini kita melihat bagaimana memori tragis dapat menjadi sumber solidaritas: penderitaan berubah menjadi bahasa identitas. Dan itu menjelaskan mengapa peringatan Karbala bukan sekadar sejarah, melainkan “sejarah yang terus dialami ulang”.
Penutup: Festival sebagai Cara Agama Menjadi “Hidup”
Pada akhirnya, Hoffman memperlihatkan bahwa festival bukan sekadar “hari libur keagamaan”. Ia adalah cara agama menjadi hidup dalam tubuh masyarakat. Di dalamnya ada disiplin dan kegembiraan, ada teks dan tradisi, ada memori dan konflik, ada kesalehan dan pasar malam, ada kesunyian doa dan riuh keramaian.
Dengan membaca entri ini, kita memahami bahwa kalender ritual Islam bukan hanya soal kapan beribadah, tetapi juga soal bagaimana umat memaknai sejarah suci, mengelola emosi kolektif, dan menegosiasikan identitasnya di tengah perubahan zaman.