Membaca Ana Davitashvili: Pohon Keabadian dan Imajinasi tentang Kekekalan dalam Al-Qur’an
Entri Ana Davitashvili, “The Tree of Eternity” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online, berangkat dari satu istilah yang tampak sederhana: shajarat al-khuld—pohon keabadian. Namun dari satu frasa yang hanya muncul secara eksplisit sekali (Q 20:120),
فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَالَ يٰٓاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلٰى
Terjemahan Kemenag 2019
120. Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, “Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Davitashvili membuka perbincangan yang jauh lebih luas: bagaimana Al-Qur’an menata ulang warisan narasi Eden, bagaimana janji kekekalan dinegosiasikan, dan bagaimana tradisi-tradisi Yahudi-Kristen berkelindan dengan tafsir Muslim.
Yang menarik, artikel ini tidak sekadar menginventaris ayat. Ia memperlihatkan bahwa “pohon” dalam kisah Adam bukan hanya objek botanis simbolik, tetapi simpul teologis: tentang keabadian, kekuasaan, ketaatan, dan batas manusia.
Satu Pohon, Banyak Isyarat
Dalam Al-Qur’an, pohon itu disebut secara eksplisit sebagai shajarat al-khuld hanya dalam Q 20:120. Di tempat lain (Q 2:35; 7:19–22), ia hanya disebut sebagai “pohon ini” atau “pohon itu.” Di sini sudah terlihat satu ciri penting: Al-Qur’an tidak terlalu tertarik pada detail botanisnya. Fokusnya adalah relasi—larangan Tuhan, bisikan setan, pelanggaran, lalu pengampunan.
Namun ada satu detail yang problematik dan menjadi pusat perhatian Davitashvili: dalam Q 20:120, setan menjanjikan bukan hanya keabadian, tetapi juga mulk—kekuasaan atau kerajaan yang tidak akan lenyap. Mengapa pohon keabadian dikaitkan dengan dominion?
Di sinilah artikel ini menjadi diskusi tafsir kontemporer. Joseph Witztum berpendapat bahwa bisa jadi terjadi permainan kata antara malak (malaikat) dan mulk (kekuasaan). Sementara Angelika Neuwirth menolak pembacaan itu dan mengaitkannya dengan konsep Adam sebagai khalīfa (Q 2:30): manusia memang memikul mandat kekuasaan di bumi. Maka janji “mulk yang tidak akan lenyap” bisa dibaca sebagai godaan untuk mempermanenkan status itu.
Davitashvili tidak memaksakan satu solusi. Ia membiarkan ketegangan itu terbuka—dan justru dari keterbukaan itulah terlihat bagaimana satu kata kecil (mulk) bisa mengubah horizon teologis kisah Adam.
Satu Pohon atau Dua? Al-Qur’an dalam Lanskap Late Antiquity
Bagian paling menarik dari artikel ini adalah perbandingannya dengan literatur Yahudi dan Kristen akhir-antik. Dalam Kitab Kejadian (Genesis), ada dua pohon di Eden: pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, serta pohon kehidupan. Adam dan Hawa memakan yang pertama, lalu diusir agar tidak memakan yang kedua dan menjadi abadi.
Al-Qur’an, seperti ditunjukkan Davitashvili, tampak lebih dekat pada tradisi tertentu dalam Kekristenan Siria Timur yang hanya menyebut satu pohon penting—pohon kehidupan—yang terletak di pusat taman. Dalam versi Siria Timur dari Cave of Treasures, larangan Tuhan terkait pohon kehidupan itu sendiri, bukan pohon pengetahuan.
Ini menarik: Al-Qur’an tidak mengembangkan dikotomi dua pohon sebagaimana Genesis klasik. Ia berbicara tentang satu pohon yang menjadi locus ujian. Dengan demikian, narasi Qur’ani tampak menyederhanakan sekaligus menata ulang tradisi sebelumnya.
Lebih jauh, dalam baik Al-Qur’an maupun tradisi Siria Timur itu, potensi keabadian yang hilang karena pelanggaran digantikan oleh bentuk keabadian lain: dalam Kekristenan melalui keselamatan Kristus, dalam Al-Qur’an melalui penerimaan hudā (petunjuk Ilahi). Keabadian bukan lagi hasil konsumsi pohon, tetapi hasil ketaatan terhadap wahyu.
Imajinasi Botanis: Kurma, Anggur, Gandum
Meskipun Al-Qur’an tidak menyebut jenis pohon itu, para mufassir klasik tidak pernah puas dengan ketidakjelasan. Davitashvili mencatat bagaimana tradisi Yahudi (misalnya dalam Genesis Rabbah) membayangkan pohon itu sebagai kurma, zaitun, atau ara; pohon pengetahuan sebagai gandum atau anggur.
Dalam tafsir Islam, spekulasi serupa muncul: gandum, anggur, ara, kurma, bahkan tumbuhan harum seperti spikenard. Nama-nama seperti Ibn Kathīr, al-Ṭabarī, dan al-Zamakhsharī menjadi saksi bagaimana diskusi ini bergerak.
Yang mencolok: dalam proses itu, tradisi Muslim tampak mengadopsi sekaligus menggabungkan spekulasi tentang “pohon kehidupan” dan “pohon pengetahuan” menjadi satu. Ini memperlihatkan bahwa tafsir bukan ruang steril; ia berinteraksi dengan warisan lintas tradisi.
Ada pula hadis populer yang menyebut pohon di surga begitu besar hingga seorang penunggang kuda dapat berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun—riwayat yang ditelusuri Davitashvili kemungkinan besar berkembang di Basra. Di sini, pohon bukan lagi simbol ujian, tetapi simbol kemegahan eskatologis.
Keabadian yang Ditunda
Satu hal yang menurut saya menjadi benang merah artikel ini adalah pergeseran makna keabadian. Dalam kisah Adam, keabadian tampak sebagai sesuatu yang “hampir diraih” melalui pelanggaran. Namun dalam struktur Qur’ani, keabadian tidak dihapus; ia ditunda dan direlokasi. Manusia tetap bisa mencapai kehidupan kekal—bukan lewat pohon, tetapi lewat ketaatan terhadap wahyu.
Dengan cara ini, pohon keabadian menjadi semacam paradoks: ia menjanjikan keabadian instan dan otonom, tetapi justru membuka jalan pada keabadian yang bersyarat dan relasional.
Penutup
Melalui pembacaan yang ringkas namun kaya perbandingan, Ana Davitashvili menunjukkan bahwa shajarat al-khuld bukan sekadar detail naratif dalam kisah Adam. Ia adalah titik temu antara Al-Qur’an dan tradisi-tradisi Late Antiquity, antara janji dan larangan, antara kekuasaan dan kerapuhan manusia.
Artikel ini secara implisit mengajak kita melihat bahwa Al-Qur’an tidak berdiri di ruang hampa. Ia berbicara dalam lanskap tradisi yang sudah ramai, namun menata ulang unsur-unsurnya dengan logika teologis yang khas. Dalam kasus pohon keabadian, yang diubah bukan hanya jumlah pohon, tetapi makna kekekalan itu sendiri.