Membaca Emi Goto: Terjemahan Al-Qur’an di Jepang—Antara Kajian Budaya, Dakwah Minoritas, dan Bahasa Modern
Tulisan Emi Goto(teks sumber: Emi Goto, “Japanese Qurʾān translations”, dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), menghadirkan konteks yang berbeda dari banyak wilayah lain dalam sejarah terjemahan Al-Qur’an. Di Jepang, terjemahan Al-Qur’an tidak lahir dari kebutuhan komunitas Muslim besar yang “kehilangan” bahasa Arab, melainkan dari rasa ingin tahu intelektual masyarakat non-Muslim terhadap Islam sebagai tradisi budaya dan agama asing. Dalam konteks ini, terjemahan Al-Qur’an sejak awal berdiri di persimpangan antara studi akademik, penyediaan pengetahuan lintas budaya, dan—baru kemudian—kebutuhan religius komunitas Muslim Jepang yang jumlahnya relatif kecil.
Goto menunjukkan bahwa terjemahan Al-Qur’an di Jepang tidak dapat dipahami tanpa melihat posisi Islam sebagai agama minoritas yang berada di luar pengalaman historis dan kultural arus utama Jepang. Hal ini menjadikan terjemahan bukan sekadar persoalan bahasa, tetapi juga persoalan cara memperkenalkan sebuah kitab suci kepada pembaca yang tidak hidup dalam horizon iman Islam.
Awal Abad ke-20: Terjemahan untuk Publik Non-Muslim
Terjemahan lengkap Al-Qur’an pertama dalam bahasa Jepang terbit pada 1920, pada masa ketika jumlah Muslim Jepang masih sangat terbatas. Ketertarikan terhadap Islam lebih banyak datang dari kalangan intelektual dan pembaca umum yang melihat Islam sebagai bagian dari “dunia luar” yang layak dipelajari. Karena itu, para penerjemah awal Al-Qur’an ke bahasa Jepang hampir semuanya adalah sarjana non-Muslim, dan tujuan utama mereka bukanlah pembinaan keagamaan, melainkan penyediaan informasi.
Dalam kerangka ini, Al-Qur’an diposisikan sebagai teks kunci untuk memahami peradaban Islam. Terjemahan menjadi sarana edukasi budaya—mirip dengan penerjemahan teks-teks klasik India atau Tiongkok—dan bukan bagian dari praktik ibadah sehari-hari.
Toshihiko Izutsu dan Al-Qur’an sebagai Dunia Makna
Figur sentral dalam fase ini adalah Toshihiko Izutsu, seorang pemikir besar Jepang yang karyanya melampaui studi Islam. Izutsu memandang Al-Qur’an sebagai sumber hidup bagi ide, emosi, dan imajinasi umat Islam. Dalam terjemahannya yang terbit pada 1957–1958, ia berupaya menghadirkan Al-Qur’an sebagai sebuah sistem makna, bukan sekadar kumpulan perintah dan larangan.
Izutsu bersandar kuat pada tafsir klasik, terutama karya al-Bayḍāwī, namun tujuannya bukan reproduksi tradisi tafsir, melainkan penyajian struktur semantik Al-Qur’an kepada pembaca Jepang. Gaya bahasanya serius, filosofis, dan menuntut konsentrasi tinggi—sesuatu yang justru membuat karyanya sangat berpengaruh di kalangan akademisi dan pembaca non-Muslim. Hingga kini, terjemahan Izutsu tetap menjadi rujukan utama bagi mereka yang ingin “memahami Islam” dari luar komunitas Muslim.
Masuknya Suara Muslim Jepang
Sejak 1970-an, lanskap terjemahan Al-Qur’an di Jepang mulai berubah seiring munculnya penerjemah Muslim Jepang. Salah satu pelopor utamanya adalah Ryoichi Mita, seorang mualaf dari Buddhisme yang aktif dalam organisasi Muslim dan menjabat sebagai presiden Japan Muslim Association.
Karya Mita, The Holy Qurʾān: Bilingual Japanese–Arabic Version and Annotation, menandai pergeseran orientasi yang jelas. Terjemahan ini tidak lagi ditujukan terutama untuk pembaca non-Muslim, melainkan untuk membimbing Muslim Jepang dalam memahami Al-Qur’an secara kontekstual dan normatif. Penjelasan tentang latar pewahyuan di Jazirah Arab abad ke-7 mendapat perhatian besar, agar pembaca Jepang tidak memisahkan teks dari konteks sejarahnya.
Menariknya, Mita juga menggunakan sumber-sumber modern berbahasa Inggris, termasuk karya-karya dari Asia Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa terjemahan Al-Qur’an di Jepang sejak awal terhubung dengan jaringan global Islam modern, bukan hanya dengan tradisi Arab klasik.
Keragaman Pendekatan dalam Terjemahan Muslim
Setelah Mita, terjemahan Al-Qur’an oleh Muslim Jepang berkembang dengan arah yang semakin beragam. Ada terjemahan yang diproduksi oleh komunitas Ahmadiyya, ada pula terjemahan Syiah yang diterbitkan dari Qom, serta terjemahan Sunni yang menggabungkan tafsir klasik dengan temuan studi Islam modern. Beberapa karya menonjolkan anotasi teknis seperti qirāʾāt, sementara yang lain memilih penjelasan tematik.
Perbedaan ini mencerminkan pluralitas internal Islam yang kini hadir dalam bahasa Jepang. Terjemahan tidak lagi tunggal, tetapi mencerminkan spektrum teologis dan metodologis yang luas.
Bahasa Mudah dan Audiens Kontemporer
Sejalan dengan perubahan generasi dan gaya baca, muncul pula terjemahan yang secara sadar menggunakan bahasa Jepang yang lebih ringan dan komunikatif. Karya-karya seperti The Qurʾān in Easy Japanese menandai upaya menjangkau pembaca awam—baik Muslim maupun non-Muslim—yang tidak memiliki latar belakang filsafat atau studi agama.
Pilihan ini menunjukkan kesadaran bahwa terjemahan Al-Qur’an di Jepang tidak lagi hanya berfungsi sebagai teks referensi akademik atau panduan komunitas kecil, tetapi juga sebagai bacaan yang hadir di ruang publik yang lebih luas.
Posisi Izutsu yang Tetap Bertahan
Di tengah banyaknya terjemahan baru, karya Izutsu tetap memiliki tempat yang unik. Ia terus dibaca dan dicetak ulang, terutama oleh pembaca non-Muslim dan akademisi. Hal ini menunjukkan bahwa terjemahan Al-Qur’an di Jepang berjalan dalam dua jalur paralel: satu jalur religius-komunal yang berkembang di kalangan Muslim, dan satu jalur intelektual-kultural yang tetap melayani mayoritas non-Muslim.
Penutup
Melalui pembacaan Emi Goto, terjemahan Al-Qur’an di Jepang tampak sebagai proses yang bergerak dari pengetahuan tentang Islam menuju kehidupan Islam itu sendiri, meskipun dalam skala minoritas. Terjemahan berfungsi sebagai jembatan: mula-mula antara Jepang dan dunia Islam sebagai “yang lain”, lalu antara teks suci dan komunitas Muslim Jepang yang terus bertumbuh.
Sejarah ini memperlihatkan bahwa terjemahan Al-Qur’an tidak selalu lahir dari krisis bahasa atau kebutuhan ritual, tetapi juga dari rasa ingin tahu, dialog lintas budaya, dan pencarian makna dalam konteks yang sama sekali baru. Dalam ruang seperti Jepang, Al-Qur’an diterjemahkan bukan hanya agar dipahami, tetapi agar dapat dibaca tanpa prasangka—sebuah fungsi yang berbeda, namun tak kalah menentukan.