Membaca Gerard van de Bruinhorst: Terjemahan Al-Qur’an di Afrika Timur—Dari Infrastruktur Kolonial ke “Pasar” Otoritas Transnasional
Tulisan Gerard van de Bruinhorst (teks sumber: “East African Qurʾān translations [20–21st centuries]” dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), menempatkan Afrika Timur abad ke-20–21 sebagai ruang Qur’ani yang dibentuk oleh dua hal yang saling menumpuk: keragaman linguistik yang ekstrem dan kompetisi otoritas keagamaan lintas-benua. Di kawasan yang—bahkan dalam satu negara seperti Tanzania—memuat puluhan hingga ratusan bahasa, terjemahan Al-Qur’an tidak pernah menjadi proyek netral “alih-bahasa”. Ia adalah simpul tempat literasi, misi, pendidikan kolonial, diaspora, dan rivalitas Sunni–Ahmadi–Syiah–Ibadi bernegosiasi. Karena Muslim bukan mayoritas di banyak bagian Afrika Timur (kecuali Somalia), terjemahan juga menjadi medium yang rawan dipakai untuk agenda intra- dan antaragama.
Dari awal, Bruinhorst menekankan bahwa bahasa-bahasa penerima utama (Somali, Amharic, Swahili, Kinyarwanda, Malagasy, dan lain-lain) bergerak dalam orbit sumber yang tidak hanya Arab, tetapi juga terjemahan-terjemahan bahasa kolonial serta (secara khusus) Swahili sebagai pusat gravitasi regional. Ini menyiratkan satu tesis penting: proses “Afrikanisasi” terjemahan—yakni produksi oleh penerjemah Afrika dan penerbit Afrika—tetap terjadi dalam jaringan pengaruh global yang padat.
Kolonialisme sebagai Prasyarat Teknis Terjemahan: Aksara Latin, Standarisasi, Kelas Literat
Bruinhorst melacak embrio proyek terjemahan ke masa kolonial, bukan sebagai “awal religius”, melainkan sebagai awal infrastruktur: administrasi kolonial membutuhkan ortografi standar, lingua franca, dan kelas pegawai terdidik—dan misi Kristen menyediakan kerangka kerjanya. Maka, sebelum terjemahan Al-Qur’an muncul, Bible translations dalam berbagai bahasa Afrika Timur lebih dulu menciptakan ekosistem penerjemahan: model buku, budaya baca, dan legitimasi aksara Latin.
Tidak mengherankan jika terjemahan Al-Qur’an Swahili pertama justru datang dari seorang misionaris Kristen (Godfrey Dale). Yang menarik di sini bukan hanya fakta “siapa menerjemahkan”, tetapi mengapa: terjemahan itu diproyeksikan untuk membekali komunitas Kristen menghadapi relasi antariman. Dengan demikian, sejak awal terjemahan Al-Qur’an di Afrika Timur memasuki ruang publik bukan sebagai “produk internal Muslim”, melainkan sebagai dokumen untuk manajemen perjumpaan agama.
Seleksi Surat sebagai Sinyal Audiens: Terjemahan Parsial sebagai Strategi
Tahap berikut yang digambarkan Bruinhorst adalah terjemahan parsial, dan ia menunjukkan bahwa pilihan bagian Al-Qur’an adalah indikator penting “siapa pembacanya”. Pola paling umum (juzʾ ʿamma + al-Fātiḥa) menandakan orientasi pada praktik ibadah dan pedagogi dasar. Namun, ketika sebuah seleksi Amharic (Mittwoch, 1906) memusatkan Surat Maryam dan tema kenabian Isa serta tauhid, Bruinhorst membaca ini sebagai sinyal bahwa audiens Kristen mayoritas ikut dibayangkan sebagai target.
Di titik ini, terjemahan parsial tampil sebagai bentuk yang bukan “setengah jadi”, melainkan format komunikatif: ia lebih cepat menyasar medan debat, dakwah, dan apologetika antariman ketimbang membangun korpus lengkap.
Terjemahan sebagai Medan Kontestasi: Ahmadiyya, Sunni Pesisir, dan “Kanonnya” Swahili
Kisah Swahili memperlihatkan dinamika yang mirip dengan Afrika Barat (sebagaimana dibahas Pink), tetapi dengan konfigurasi aktor berbeda: terjemahan misionaris Kristen memicu respons Ahmadiyya (1953), lalu memancing reaksi elite Arab pesisir untuk “menormalkan” teologi Sunni. Dalam narasi Bruinhorst, otoritas sebuah terjemahan tidak hanya ditentukan oleh kualitas filologis, tetapi oleh fungsi sebagai penyeimbang kekuatan di ruang publik Muslim.
Di sini, karya seperti Qurani Takatifu (al-Farsy) menjadi “otoritatif” bukan semata karena ia ada, melainkan karena ia memenuhi kebutuhan sosial: menyediakan rujukan Sunni yang dapat mengimbangi terjemahan yang dipersepsikan “Kadiani”. Terjemahan berubah menjadi instrumen pembentukan ortodoksi.
Rivalitas Transnasional: Iran, Oman, Saudi, dan “Middle Ground” al-Azhar
Bagian paling khas dalam tulisan ini adalah cara Bruinhorst memetakan Afrika Timur sebagai arena persaingan tiga kutub besar: (1) Iran dan jaringan Syiah Imami, dengan dukungan institusi seperti World Federation of Khoja Shia Ithna-Asheri dan pusat terjemahan di Qom, serta figur-figur misionaris (mis. Rizvi dan Bilal Muslim Mission) yang mula-mula berakar pada diaspora Asia, lalu berkoalisi dengan para mualaf local, (2) Oman dan warisan Ibadi–Zanzibar, yang pasca Revolusi Zanzibar 1964 melahirkan dinamika “produksi dari diaspora”: terjemahan dan tafsir sering disusun oleh mantan Zanzibari/Tanzania yang kini bermukim di Oman (contoh besar: Asili ya Uongofu 17 jilid), dan (3) Saudi (Madinah, King Fahd Complex, Darussalam) sebagai penopang terjemahan berorientasi Salafi, termasuk melalui proyek-proyek distribusi massal dan repositori digital.
Di tengah kompetisi itu, al-Azhar digambarkan mencoba menempati “jalan tengah”—mewakili Sunni moderat dan tradisi kelembagaan yang lebih tua. Terjemahan Amharic 1961, terjemahan Swahili atas Muntakhab, sampai edisi Swahili 2007 yang diperkenalkan oleh Tantawi, menunjukkan bagaimana Mesir memainkan peran kuratorial: menghadirkan terjemahan yang bisa diterima luas tanpa jatuh ke polarisasi Saudi–Iran.
Yang penting: Afrika Timur di sini bukan “penerima pasif”. Bruinhorst menunjukkan adanya proyek kolaboratif (mis. Luganda) yang mempertemukan alumni Madinah, al-Azhar, dan Abdul Aziz University—menandakan bahwa otoritas kini sering dibangun lewat koalisi lintas institusi.
1990-an: Liberalisasi, Demokratisasi, dan Kata Kunci “Understanding”
Gelombang besar terjemahan pada 1990-an dibaca Bruinhorst sebagai efek gabungan: pendidikan kolonial (literasi), program studi luar negeri (jejaring), dan iklim politik liberalisasi/demokratisasi. Tetapi yang menarik adalah pergeseran retorika: dari “membaca/menjaga bacaan” ke “memahami” (understanding). Dalam cara ia menampilkan Mawdudi sebagai pengantar untuk edisi terjemahan Farsy, Bruinhorst memperlihatkan bahwa terjemahan dipakai untuk menggeser etos keberagamaan: dari resitasi menuju studi, dari ritus menuju transformasi sosial.
Panjang pengantar pada terjemahan Kinyarwanda—yang menekankan Islam sebagai cara hidup dan daya transformasi—menunjukkan bahwa terjemahan modern di Afrika Timur sering dibebani misi etik: ia tidak hanya menerangkan ayat, tetapi membingkai Al-Qur’an sebagai manual reformasi individu dan masyarakat.
Modernitas Bentuk: Hak Cipta, Desain Buku, Digitalisasi Tanpa Teks Arab
Salah satu observasi paling tajam Bruinhorst adalah pergeseran bentuk terjemahan Afrika Timur menuju model “Barat”: klaim hak intelektual penerjemah, layout modern, ilustrasi berwarna, pita baca, daftar isi—seolah terjemahan harus tampak sebagai produk buku kontemporer agar otoritatif dan laku. Ini menandai perubahan status: terjemahan bukan lagi sekadar bantuan pedagogis, melainkan komoditas pengetahuan yang memiliki pemilik dan edisi.
Lebih radikal lagi, ia mencatat munculnya produksi digital yang beredar tanpa teks Arab, seolah kehadiran sumber dianggap tidak lagi wajib dalam pengalaman resepsi. Pada titik ini, demokratisasi akses mencapai bentuk baru: Al-Qur’an hadir sebagai “konten” yang dapat dipisahkan dari ritual resitasi Arab—meski Bruinhorst tetap menekankan bahwa Arab tidak benar-benar tersingkir sebagai teks untuk dihafal dan dibaca.
Penutup
Membaca Bruinhorst, terjemahan Al-Qur’an di Afrika Timur tampak sebagai sejarah infrastruktur dan kontestasi. Infrastruktur kolonial (aksara Latin, standarisasi, literasi) menciptakan medan yang memungkinkan terjemahan berkembang; sementara kontestasi transnasional (Ahmadiyya–Sunni, Iran–Saudi–Oman, al-Azhar sebagai penengah) menentukan arah teologis dan distribusinya. Terjemahan bergerak dari format parsial yang strategis (mengincar audiens tertentu, termasuk Kristen) menuju ledakan edisi modern dengan retorika “understanding” yang menuntut perubahan etos keberagamaan.
Pada akhirnya, Afrika Timur dalam narasi ini bukan “sekadar wilayah penerjemahan”, melainkan sebuah laboratorium modernitas Qur’ani: di sana, bahasa lokal menjadi arena perebutan makna, desain buku menjadi penanda otoritas, dan jaringan global menjadikan terjemahan bukan hanya jembatan pemahaman, tetapi juga perangkat politik pengetahuan.