Membaca Gerard Wiegers: Terjemahan Al-Qur’an di Spanyol Muslim—Aljamiado, Polemik Latin, dan Jejak yang Menyeberang Laut

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 29 December 2025
Membaca Gerard Wiegers: Terjemahan Al-Qur’an di Spanyol Muslim—Aljamiado, Polemik Latin, dan Jejak yang Menyeberang Laut

Tulisan Gerard Wiegers (teks sumber: Qurʾān translations in Muslim Spain” dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), menempatkan Spanyol Muslim (al-Andalus dan Granada Nasrid) sebagai ruang di mana terjemahan Al-Qur’an tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu “berjalan beriringan” dengan sejarah koeksistensi dan konflik: Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup berdekatan; kekuasaan bergeser; komunitas Muslim berubah status dari mayoritas politik menjadi minoritas yang diawasi; lalu muncul episode pemaksaan konversi dan pengusiran Morisco (1609–1614). Dalam lanskap seperti ini, terjemahan Al-Qur’an adalah praktik lintas batas—bahasa, skrip, otoritas, dan bahkan niat—dan karena kedekatannya dengan Eropa, jejaknya ikut membentuk cara Eropa belajar tentang Islam selama berabad-abad.

Wiegers membagi cerita menjadi dua arus besar: terjemahan Muslim dan terjemahan Kristen. Dua arus ini bukan paralel yang rapi; keduanya saling bersinggungan lewat manuskrip, perantara, kebutuhan politik, dan proyek intelektual.

 

Orientasi Andalusi: Warsh, Pembagian Rubʿ, dan Tradisi “Magrib” yang Menetap

Sebelum masuk ke teks terjemahan, Wiegers menekankan ciri Qur’ani Andalusi yang sering luput: orientasi pada tradisi Madinah dan qirāʾa Warsh (melalui Nāfiʿ). Ia juga menyebut sistem pembagian Al-Qur’an khas Andalusi yang menyebar luas: pembagian empat bagian (rubʿ) yang dikaitkan dengan al-Dānī (w. 1053), serta pembagian 27 tajziʾāt Ramaḍān untuk membantu tilawah selama Ramadan. Menariknya, pola-pola ini tidak berhenti pada mushaf Arab; ia ikut terbawa dalam salinan Mudejar/Morisco dan bahkan memengaruhi tradisi terjemahan di Eropa. Dengan kata lain, “cara membagi” Al-Qur’an—sebuah infrastruktur pembacaan—ikut mengalir bersama proses penerjemahan.

 

1)       Terjemahan Muslim: Dari Arab ke “Romance”, dari Bahasa Lisan ke Aljamiado

Romance sebagai bahasa tulis Muslim (abad 15–17)

Wiegers menempatkan puncak terjemahan Muslim ke bahasa Romance (ragam awal Spanyol dan sekitarnya) pada abad 15–17, saat komunitas Muslim semakin menggunakan Romance sebagai bahasa sastra. Banyak terjemahan Muslim ditulis dalam aksara Arab meskipun bahasanya Romance—praktik yang dikenal sebagai Aljamiado. Di sini, skrip menjadi penanda identitas: bahasa boleh bergeser, tetapi huruf Arab menjaga keterhubungan simbolik dengan Islam dan tradisi tulisnya.

 

Terjemahan literal “de pe a pa” dan batas-batas ritual

Wiegers menyebut terjemahan Muslim yang terkenal namun hilang: terjemahan literal (de pe a pa) oleh ulama Mudejar dari Segovia, Iça Gidelli. Ia juga menegaskan satu hal penting: dalam lingkungan Muslim, ada kehati-hatian terhadap penggunaan terjemahan literal untuk tujuan ritual, sedangkan tafsir dalam Romance lebih dapat diterima. Ini memberi gambaran bahwa kategori “boleh/tidak boleh” tidak selalu menyasar penerjemahan sebagai praktik memahami, tetapi menyasar posisi terjemahan dalam ritus dan otoritas.

 

Morisco diaspora: epilog di Salonika (sekitar 1612)

Episode yang menyentuh adalah “akhir” tradisi ini: terjemahan-terjemahan terakhir dalam lingkaran Muslim ditulis oleh Morisco di diaspora Salonika sekitar 1612—sesaat sebelum atau bersamaan dengan gelombang pengusiran besar. Dengan demikian, terjemahan Romance Aljamiado bukan hanya produk Iberia; ia menjadi bekal bergerak, ikut dibawa ke ruang Ottoman, dan menjadi bagian dari arsip diaspora.

 

Bukan hanya terjemahan penuh: kompilasi dan pilihan surah

Wiegers juga menunjukkan bahwa selain terjemahan parsial, terdapat kompilasi terstruktur berisi pilihan surah. Bentuk ini penting: ia menggambarkan strategi bertahan yang tidak selalu mengejar totalitas mushaf, tetapi memilih bagian yang dianggap paling perlu bagi pembaca yang hidup dalam tekanan, keterbatasan, atau kebutuhan pengajaran tertentu.

 

2)      Terjemahan Kristen: Latin sebagai Medan Polemik, dan Iberia sebagai “Laboratorium Perantara”

Jika terjemahan Muslim bergerak dalam logika komunitas dan keberlangsungan iman, arus Kristen bergerak dalam logika yang berlapis: polemik, misi, studi, dan administrasi minoritas Muslim.

 

Robert of Ketton (1143): teks Latin yang paling berpengaruh—dan paling polemis

Terjemahan Kristen paling awal yang disorot Wiegers adalah karya Robert of Ketton (1143), Lex Mahumet pseudoprophete, yang disupervisi Peter the Venerable dari Cluny. Wiegers menekankan dua hal: proyek ini bertumpu pada akses manuskrip Arab di lembah Ebro dan melibatkan figur perantara (disebut “Mohamed”), serta prolognya penuh bahasa kekerasan yang selaras dengan tujuan polemik terhadap Muslim (dan juga Yahudi serta “heretik”). Pengaruhnya sangat panjang: inilah “Qur’an Latin” yang paling membentuk citra Islam dalam Latin Christendom selama lama.

 

Mark of Toledo (1210): lebih dekat pada idiom Arab-Islam, tapi nyaris tak berjejak

Terjemahan Latin kedua oleh Mark of Toledo (Liber Alchorani, 1210) digambarkan lebih dekat dengan idiom Arab-Islam daripada Ketton. Ironinya, versi ini justru tidak menjadi teks arus utama kemudian hari. Di sini tampak bahwa “kualitas filologis” tidak otomatis menentukan dampak; jaringan sirkulasi, institusi, dan tujuan politik sering lebih menentukan.

 

John of Segovia (1456): literalitas sebagai strategi “damai dan doktrin”

John of Segovia menyusun terjemahan Latin (1456) yang bertumpu pada kerja empat bulan dengan seorang ulama Mudejar Segovia yang membuat terjemahan Spanyol (kini hilang). Yang menonjol: John berharap terjemahan literal dapat dipakai untuk mengonversi Muslim “melalui jalan damai dan doktrin” (per viam pacis et doctrinae). Terjemahan di sini dipahami sebagai alat persuasi yang lebih halus—bukan pedang, melainkan argumen.

 

Egidio da Viterbo (1518): penerjemahan lewat para “go-between”

Pada 1518, Kardinal Egidio da Viterbo menawarkan proyek terjemahan Latin untuk kepentingan dakwah di kalangan Mudejar Aragon dan Valencia. Ia mengandalkan para perantara: Juan Gabriel (faqīh yang masuk Kristen) dan Leo Africanus (al-Ḥasan al-Wazzān dari Granada). Rantai perantara ini memperlihatkan bahwa penerjemahan Al-Qur’an dalam Iberia Kristen sering terjadi melalui figur-figur yang berdiri di ambang: mantan Muslim, tawanan, atau mediator lintas bahasa dan status.

 

Marracci (1698): Andalusi tafsir dalam dapur filologi Eropa

Wiegers menutup jalur panjang ini dengan Ludovico Marracci yang menerbitkan Alcorani textus universus (1698) dan memanfaatkan manuskrip tafsir Andalusi Ibn Abī Zamanīn. Ini menunjukkan bahwa “bahan” Andalusi tidak berhenti ketika al-Andalus runtuh; ia masuk ke mesin filologi Eropa dan ikut membentuk studi Qur’an Latin pada era modern awal.

 

Spanyol Muslim sebagai Titik Temu: Konflik dan Kerja Sama dalam Satu Peta Manuskrip

Hal yang paling terasa dari paparan Wiegers adalah bahwa terjemahan Al-Qur’an di Iberia tidak bisa dibaca hanya sebagai sejarah teks, tetapi sebagai sejarah kedekatan sosial yang tegang: kedekatan yang memungkinkan kolaborasi (perantara, manuskrip, kerja bersama) sekaligus melahirkan represi (pengawasan Mudejar, penganiayaan Morisco, pengusiran 1609–1614). Karena itu, terjemahan di sini tampil dalam dua wajah: sebagai alat pemeliharaan komunitas yang terdesak, dan sebagai instrumen polemik-misioner yang menata pengetahuan Eropa tentang Islam.

 

Rekomendasi bacaan

(1)     Candida Ferrrero Hernández & John Tolan (eds.), The Latin Qurʾan. Translation, transition, interpretation, 1143–1500 (2021)

(2)     José Martínez Gázquez & Fernando González Muñoz, edisi kritis terjemahan Ketton (2022)

(3)     Nàdia Petrus Pons, edisi kritis Alchoranus Latinus (Mark of Toledo) (2016)

(4)     Consuelo López-Morillas, El Corán de Toledo (2011) dan studi genealogi Qur’an Spanyol (2006)

(5)     Thomas Burman, Reading the Qurʾān in Latin Christendom 1140–1560 (2007)

(6)     Mercedes García-Arenal & Gerard A. Wiegers (eds.), The Iberian Qur’an. From the Middle Ages to modern times (2022)

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178