Membaca Gisela Webb: Mikail (Michael) dari Satu Ayat Qur’an ke Imajinasi Malaikat dalam Tradisi Islam

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 09 April 2026
Membaca Gisela Webb: Mikail (Michael) dari Satu Ayat Qur’an ke Imajinasi Malaikat dalam Tradisi Islam

Entri Gisela Webb, “Michael,” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, menarik justru karena berangkat dari sebuah kelangkaan. Mīkāl hanya disebut sekali dalam Al-Qur’an, yakni pada Q 2:98(*), tetapi dalam literatur Islam kemudian sosok ini berkembang menjadi figur malaikat agung dengan peran yang sangat luas: hadir dalam kisah miʿrāj, narasi para nabi, kosmologi, tasawuf, hingga eskatologi. Di tangan Webb, Michael bukan terutama dibahas sebagai tokoh “besar” Qur’ani, melainkan sebagai contoh penting tentang bagaimana tradisi Islam bekerja: satu penyebutan yang singkat di dalam Qur’an dapat menjadi titik tolak bagi elaborasi yang sangat kaya dalam tafsir, hadis, kisah-kisah kenabian, dan literatur metafisik.

(*) مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّلّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَرُسُلِهٖ وَجِبْرِيْلَ وَمِيْكٰىلَ فَاِنَّ اللّٰهَ عَدُوٌّ لِّلْكٰفِرِيْنَ

Terjemahan Kemenag 2019

98.  Siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.

 

Kekuatan utama entri ini terletak pada cara Webb memindahkan fokus dari apa yang dikatakan Qur’an secara langsung ke apa yang dilakukan tradisi Islam terhadap isyarat Qur’ani yang sangat terbatas itu. Karena itu, entri ini lebih tepat dibaca sebagai peta resepsi dan pengembangan doktrinal daripada sebagai studi leksikal atau filologis murni atas satu nama malaikat.

 

Michael di dalam Qur’an: Sedikit Teks, Besar Implikasi

Webb memulai dari fakta dasar yang sangat penting: Mīkāl disebut hanya sekali dalam Al-Qur’an, berdampingan dengan Jibrīl, dalam konteks afirmasi iman kepada malaikat-malaikat Tuhan. Dari titik ini, Webb segera menunjukkan bahwa bobot figur Michael dalam Islam tidak berasal dari frekuensi penyebutannya di dalam Qur’an, tetapi dari kedudukannya dalam jaringan malaikat agung yang kemudian disusun oleh tradisi.

Ini pengamatan yang sangat tajam. Dalam banyak kasus, pembaca awam cenderung mengira bahwa pentingnya satu figur Qur’ani berbanding lurus dengan seringnya ia disebut. Entri Webb memperlihatkan hal sebaliknya. Mīkāl menjadi penting bukan karena Qur’an banyak berbicara tentangnya, tetapi karena tradisi kemudian menafsirkan penyandingannya dengan Jibrīl sebagai tanda status yang tinggi. Dari sini terlihat bahwa hierarki malaikat dalam Islam tidak sepenuhnya dibangun oleh distribusi nama dalam mushaf, melainkan oleh proses penafsiran dan pengembangan yang lebih luas.

 

Dari Ayat ke Narasi: Michael dalam Miʿrāj dan Sejarah Nabi

Bagian paling menonjol dari entri ini adalah pembahasan peran Michael dalam kisah isrāʾ-miʿrāj. Webb menunjukkan bahwa dalam sejumlah riwayat, Michael hadir bersama Jibrīl untuk mempersiapkan Muḥammad sebelum perjalanan agung itu. Dalam versi al-Ṭabarī, Mīkāl membawa air Zamzam, sementara Jibrīl membelah dada Nabi dan membersihkan hatinya.

Adegan ini sangat penting, dan Webb tampaknya sadar akan bobot simbolisnya. Michael di sini tidak tampil sebagai penyampai wahyu—fungsi itu jelas melekat pada Jibrīl—melainkan sebagai pendukung ritual penyucian dan pelengkap dalam drama kenabian. Itu memberi Michael satu peran khas: ia berada dekat dengan titik-titik penting transisi kenabian, tetapi tidak selalu di garis depan.

Pembacaan ini membuka satu hal yang menarik: dalam tradisi Islam, Michael bukan malaikat yang paling verbal atau paling dominan, tetapi justru salah satu malaikat yang menegaskan bahwa pengalaman kenabian adalah peristiwa yang melibatkan tata kosmis yang teratur, bukan hanya satu perjumpaan individu. Penyucian Nabi menjelang miʿrāj tidak dilakukan dalam ruang privat, melainkan di tengah keterlibatan makhluk-makhluk langit tertentu.

Webb juga menyinggung kehadiran Michael dalam kisah Abraham ketika dilempar ke dalam api, meskipun Abraham menolak pertolongan semua malaikat agung. Detail ini penting karena memperlihatkan bahwa Michael dipakai dalam literatur Islam untuk menegaskan satu pelajaran moral: malaikat dapat hadir sebagai penolong, tetapi puncak tawakkul tetap terletak pada ketergantungan langsung kepada Tuhan.

 

Michael sebagai Malaikat Rezeki dan Pengetahuan

Salah satu bagian paling menarik dari entri Webb adalah pembahasan tentang kosmologi, terutama melalui al-Qazwīnī. Di sini Michael diberi tugas menyediakan makanan bagi tubuh dan pengetahuan bagi jiwa. Ini rumusan yang sangat kaya, sebab ia menempatkan Mīkāl pada pertemuan antara dunia material dan dunia rohaniah.

Webb dengan tepat menangkap bahwa tradisi Islam tidak hanya memperluas peran Michael, tetapi juga mengubahnya menjadi figur kosmologis yang mengatur keberlangsungan hidup. Tugasnya bukan semata-mata “malaikat hujan” atau “malaikat rezeki” dalam arti populer, tetapi agen keteraturan ilahi yang menopang eksistensi manusia secara jasmani dan ruhani.

Bagian ini sangat penting karena memperlihatkan bagaimana literatur kosmologis Islam membentuk malaikat-malaikat sebagai fungsi-fungsi ilahi dalam alam semesta. Michael bukan sekadar personase mitologis, melainkan simpul dalam sistem distribusi kehidupan. Webb memang hanya menyajikan gambaran singkat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa di dalam tradisi Islam, pembahasan tentang malaikat selalu bergerak ke arah kosmologi: bagaimana Tuhan mengatur dunia melalui makhluk-makhluk-Nya.

 

Michael dalam Tasawuf: Dari Rezeki ke Manifestasi Kehendak

Ketika membahas Saʿīd al-Dīn Farghānī dan kaitannya dengan Ibn ʿArabī, Webb memperlihatkan satu lapisan yang lebih abstrak. Michael dikaitkan dengan salah satu atribut dasar Tuhan, yakni kehendak. Ia bertugas mendistribusikan berbagai bentuk “sustenance”: bukan hanya makanan fisik, tetapi juga pengetahuan, kedudukan, dan segala yang menopang keberadaan makhluk.

Ini bagian yang sangat penting secara konseptual. Webb menunjukkan bahwa dalam tradisi sufi-metafisik, Michael tidak lagi sekadar malaikat dalam kisah atau kosmologi visual, tetapi menjadi prinsip ontologis. Ia mewakili cara kehendak Tuhan bekerja dalam pemeliharaan alam. Dari sini terlihat betapa elastisnya figur malaikat dalam tradisi Islam: dari tokoh naratif, ia bisa bergeser menjadi kategori metafisik.

Pembacaan Webb di sini sangat berguna karena mengingatkan bahwa malaikat dalam Islam tidak hanya milik hadis populer atau kisah-kisah para nabi, tetapi juga milik sistem pemikiran tinggi. Michael menjadi salah satu contoh bagaimana figur malaikat dipindahkan dari narasi ke ontologi.

 

Michael dalam Eskatologi: Bertahan Sampai Hampir Akhir

Webb juga memperlihatkan bahwa Michael hadir dalam literatur eskatologis. Dalam beberapa narasi, ia termasuk makhluk yang terakhir musnah menjelang kehancuran total ciptaan. Dalam tradisi lain, ia bersama Jibrīl berperan dalam pengoperasian mīzān, timbangan keadilan amal manusia.

Yang menarik di sini adalah bahwa Michael kembali muncul pada momen-momen ambang: menjelang miʿrāj, dalam kisah-kisah kenabian, dan pada ujung sejarah kosmik. Pola ini memberi kesan bahwa tradisi Islam menempatkannya pada titik-titik kritis transisi antara dunia manusia dan tatanan ilahi. Ia bukan sekadar figur latar, tetapi salah satu agen yang menandai bahwa seluruh perjalanan eksistensi—dari kehidupan, kenabian, hingga penghakiman akhir—berada dalam pengawasan langit.

 

Kontribusi Utama Entri ini

Sumbangan terbesar Gisela Webb ialah keberhasilannya menunjukkan bahwa satu nama yang hanya sekali muncul dalam Qur’an dapat menjadi pintu masuk untuk memahami cara tradisi Islam membangun figur malaikat. Michael di sini berfungsi sebagai studi kasus tentang bagaimana tafsir, hadis, qiṣaṣ al-anbiyāʾ, kosmografi, tasawuf, dan eskatologi bersama-sama menyusun satu sosok yang jauh melampaui data Qur’ani awal.

Webb juga sangat baik dalam tidak memaksakan klaim bahwa Qur’an sendiri sudah memuat semua rincian itu. Ia justru jujur memperlihatkan bahwa perluasan besar terhadap peran Michael adalah produk literatur Islam kemudian. Itu membuat entri ini bernilai tinggi secara historiografis. Pembaca diajak membedakan antara penyebutan Qur’ani dan status pasca-Qur’ani.

 

Keterbatasan dan Catatan Kritis

Karena bentuknya ensiklopedis dan singkat, entri ini cenderung bersifat deskriptif-katalogis. Webb menyebut sejumlah bidang—miʿrāj, qiṣaṣ, kosmologi, tasawuf, eskatologi—tetapi tidak selalu punya ruang untuk menjelaskan mengapa Michael, bukan malaikat lain, mendapat fungsi-fungsi tertentu. Ia juga tidak mengembangkan perbandingan secara serius dengan tradisi Yahudi dan Kristen, padahal figur Michael jelas punya sejarah yang sangat kaya dalam dua tradisi itu. Perbandingan semacam itu sebenarnya akan sangat membantu untuk melihat mana yang merupakan adaptasi, mana yang merupakan transformasi khas Islam.

Selain itu, entri ini bisa saja melangkah lebih jauh dengan mengaitkan Michael dengan pembentukan hierarki malaikat dalam Islam secara umum. Hubungannya dengan Jibrīl disebut, tetapi tidak benar-benar dianalisis secara sistematis. Padahal justru pasangan Jibrīl–Mīkāl tampaknya menjadi kunci bagi kenaikan status Michael di dalam tradisi.

 

Penutup

Gisela Webb memperlihatkan bahwa Michael dalam Islam bukan figur Qur’ani yang besar dalam arti tekstual, tetapi menjadi figur yang besar dalam arti tradisional. Dari satu ayat yang sangat singkat, tradisi Islam membangun Mīkāl sebagai malaikat agung yang terlibat dalam penyucian Nabi, kisah-kisah para rasul, pemeliharaan kosmos, distribusi rezeki dan pengetahuan, hingga peristiwa-peristiwa akhir zaman.

Itulah kekuatan utama entri ini. Ia mengajarkan bahwa untuk memahami tokoh-tokoh seperti Michael, kita tidak cukup hanya membaca Qur’an secara literal, tetapi juga harus mengikuti jejak bagaimana komunitas Muslim menafsirkan, memperluas, dan menempatkan figur itu ke dalam sistem teologi, kosmologi, dan spiritualitas mereka. Michael, dalam pembacaan Webb, menjadi contoh yang sangat baik tentang bagaimana sedikit teks dapat menghasilkan tradisi yang sangat luas.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178