Membaca Glenn Maur: Roman Aleksander sebagai Latar Naratif bagi Dhu l-Qarnayn dan Imajinasi Sejarah Suci

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 24 March 2026
Membaca Glenn Maur: Roman Aleksander sebagai Latar Naratif bagi Dhu l-Qarnayn dan Imajinasi Sejarah Suci

Entri Glenn Maur, “Alexander Romance,” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, sangat penting karena membawa pembaca keluar dari batas tafsir internal Islam menuju jaringan cerita lintas bahasa dan lintas peradaban yang membentuk cara tokoh Dhū l-Qarnayn dipahami. Maur tidak sedang menulis biografi Aleksander Agung dalam tradisi Islam. Ia sedang menunjukkan bahwa Q 18:83–102(*) hidup di dalam sebuah medan naratif yang jauh lebih luas, terutama melalui apa yang oleh para sarjana modern disebut Alexander Romance: jaringan kisah apokrif tentang Aleksander yang beredar dari dunia Yunani ke Suryani, Arab, Persia, hingga Melayu dan banyak bahasa lain.

(*)وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنْ ذِى الْقَرْنَيْنِۗ قُلْ سَاَتْلُوْا عَلَيْكُمْ مِّنْهُ ذِكْرًا ۗ اِنَّا مَكَّنَّا لَهٗ فِى الْاَرْضِ وَاٰتَيْنٰهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا ۙ فَاَتْبَعَ سَبَبًا حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِيْ عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَّوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ەۗ قُلْنَا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ اِمَّآ اَنْ تُعَذِّبَ وَاِمَّآ اَنْ تَتَّخِذَ فِيْهِمْ حُسْنًا قَالَ اَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهٗ ثُمَّ يُرَدُّ اِلٰى رَبِّهٖ فَيُعَذِّبُهٗ عَذَابًا نُّكْرًا وَاَمَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهٗ جَزَاۤءً ۨالْحُسْنٰىۚ وَسَنَقُوْلُ لَهٗ مِنْ اَمْرِنَا يُسْرًا ۗ ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلٰى قَوْمٍ لَّمْ نَجْعَلْ لَّهُمْ مِّنْ دُوْنِهَا سِتْرًا ۙ كَذٰلِكَۗ وَقَدْ اَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمَا قَوْمًاۙ لَّا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ قَوْلًا قَالُوْا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ اِنَّ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ مُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلٰٓى اَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا قَالَ مَا مَكَّنِّيْ فِيْهِ رَبِّيْ خَيْرٌ فَاَعِيْنُوْنِيْ بِقُوَّةٍ اَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا ۙ اٰتُوْنِيْ زُبَرَ الْحَدِيْدِۗ حَتّٰىٓ اِذَا سَاوٰى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوْا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَعَلَهٗ نَارًاۙ قَالَ اٰتُوْنِيْٓ اُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا ۗ فَمَا اسْطَاعُوْٓا اَنْ يَّظْهَرُوْهُ وَمَا اسْتَطَاعُوْا لَهٗ نَقْبًا قَالَ هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْۚ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ رَبِّيْ جَعَلَهٗ دَكَّاۤءَۚ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّيْ حَقًّا ۗ ۞ وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ يَّمُوْجُ فِيْ بَعْضٍ وَّنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَجَمَعْنٰهُمْ جَمْعًا ۙ وَّعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَىِٕذٍ لِّلْكٰفِرِيْنَ عَرْضًا ۙ ۨالَّذِيْنَ كَانَتْ اَعْيُنُهُمْ فِيْ غِطَاۤءٍ عَنْ ذِكْرِيْ وَكَانُوْا لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ سَمْعًا ࣖ اَفَحَسِبَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنْ يَّتَّخِذُوْا عِبَادِيْ مِنْ دُوْنِيْٓ اَوْلِيَاۤءَ ۗاِنَّآ اَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكٰفِرِيْنَ نُزُلًا

Terjemahan Kemenag 2019

83.  Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Zulqarnain. Katakanlah, “Akan aku bacakan kepadamu sebagian kisahnya.”

84.  Sesungguhnya Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi dan Kami telah memberikan jalan kepadanya (untuk mencapai) segala sesuatu.

85.  Maka, dia menyusuri suatu jalan.

86.  Hingga ketika telah sampai ke tempat terbenamnya matahari,453) dia mendapatinya terbenam di dalam mata air panas lagi berlumpur hitam. Di sana dia menemukan suatu kaum (yang tidak mengenal agama). Kami berfirman, “Wahai Zulqarnain, engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan kepada mereka (dengan mengajak mereka beriman).”

453) Sampai di pantai sebelah barat, tempat Zulqarnain melihat matahari sedang terbenam.

87.  Dia (Zulqarnain) berkata, “Adapun orang yang berbuat zalim akan kami hukum. Lalu, dia akan dikembalikan kepada Tuhannya. Kemudian, Dia mengazabnya dengan azab yang sangat keras.

88.  Adapun orang yang beriman dan beramal saleh mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah.”

89.  Kemudian, dia mengikuti suatu jalan (yang lain).

90.  Hingga ketika sampai di posisi terbitnya matahari (arah timur), dia mendapatinya terbit pada suatu kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari (cahaya) matahari itu.454)

454) Menurut sebagian mufasir, golongan yang ditemui Zulqarnain itu adalah umat yang miskin.

91.  Demikianlah (kisahnya). Sungguh, Kami mengetahui segala sesuatu yang ada padanya (Zulqarnain).

92.  Kemudian, dia mengikuti suatu jalan (yang lain lagi).

93.  Hingga ketika sampai di antara dua gunung, dia mendapati di balik keduanya (kedua gunung itu) suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan.455)

455) Mereka tidak dapat memahami bahasa orang lain karena bahasa mereka sangat jauh bedanya dari bahasa yang lain dan mereka pun tidak dapat menerangkan maksud mereka dengan jelas karena kekurangcerdasan mereka.

94.  Mereka berkata, “Wahai Zulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj456) adalah (bangsa) pembuat kerusakan di bumi, bolehkah kami memberimu imbalan agar engkau membuatkan tembok penghalang antara kami dan mereka?”

456) Ya’juj dan Ma’juj ialah dua bangsa yang berbuat kerusakan di bumi.

95.  Dia (Zulqarnain) berkata, “Apa yang telah dikuasakan kepadaku oleh Tuhanku lebih baik (daripada apa yang kamu tawarkan). Maka, bantulah aku dengan kekuatan agar aku dapat membuatkan tembok penghalang antara kamu dan mereka.

96.  Berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga ketika (potongan besi) itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulqarnain) berkata, “Tiuplah (api itu).” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).”

97.  Maka, mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak mampu mendakinya dan tidak mampu (pula) melubanginya.

98.  Dia (Zulqarnain) berkata, “(Tembok) ini adalah rahmat dari Tuhanku. Apabila janji Tuhanku telah tiba, Dia akan menjadikannya hancur luluh. Janji Tuhanku itu benar.”

99.  Pada hari itu Kami biarkan sebagian mereka (Ya’juj dan Ma’juj) berbaur dengan sebagian yang lain. (Apabila) sangkakala ditiup (lagi), Kami benar-benar akan mengumpulkan mereka seluruhnya.

100.  Kami perlihatkan (neraka) Jahanam dengan jelas pada hari itu kepada orang-orang kafir,

101.  (yaitu) orang-orang yang mata (hati)-nya dalam keadaan tertutup dari ingat kepada-Ku dan mereka tidak sanggup mendengar.

102.  Maka, apakah orang-orang yang kufur mengira bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku?457) Sesungguhnya Kami telah menyediakan (neraka) Jahanam sebagai tempat tinggal bagi orang-orang kafir.

457) Lihat catatan kaki surah Āli ‘Imrān (3): 28.

 

Nilai utama entri ini terletak pada kemampuannya menempatkan kisah Dhū l-Qarnayn bukan sebagai episode Qur’ani yang berdiri sendiri, melainkan sebagai simpul dari proses penerimaan, adaptasi, dan islamisasi sebuah warisan naratif kuno. Fokus Maur bukan sekadar “asal-usul” dalam arti sempit, tetapi bagaimana sebuah tradisi cerita menjadi sangat menentukan bagi penerimaan Q 18:83–102 di dunia Arab dan Islam.

 

Roman Aleksander dan Dunia Cerita Lintas Bahasa

Maur memulai dengan menjelaskan bahwa Alexander Romance adalah novel Yunani kuno tentang kehidupan dan petualangan Aleksander Agung yang secara keliru dinisbahkan kepada Callisthenes. Akan tetapi, istilah itu lalu berkembang menjadi nama bagi keseluruhan jaringan teks dan legenda tentang Aleksander yang hidup dalam sangat banyak bahasa dan tradisi sastra. Ini penting, karena sejak awal Maur ingin menegaskan bahwa yang dihadapi pembaca bukan satu teks tunggal, melainkan sebuah tradisi bergerak yang terus berubah ketika menyeberang dari satu budaya ke budaya lain.

Pembingkaian seperti ini sangat kuat secara historiografis. Ia mencegah pembaca mencari satu “sumber asli” secara terlalu sederhana. Yang lebih relevan justru adalah jaringan transmisi dan transformasi. Aleksander dalam tradisi Yunani bukan lagi Aleksander yang sama ketika masuk ke dunia Suryani, dan bukan pula tokoh yang sama ketika kisahnya dibaca berdampingan dengan Dhū l-Qarnayn dalam tafsir Arab. Maur berhasil menangkap kelenturan naratif ini dengan sangat baik.

 

Dari Aleksander ke Dhū l-Qarnayn

Pusat argumen Maur terletak pada identifikasi yang sangat kuat dalam tradisi Arab antara Aleksander dan Dhū l-Qarnayn, “pemilik dua tanduk.” Ia menegaskan bahwa identifikasi ini lahir terutama karena kesesuaian antara kisah Aleksander dalam Romance dan kisah Dhū l-Qarnayn dalam Q 18:83–102, terutama menyangkut perjalanan ke barat dan timur serta pembangunan dinding atau penghalang terhadap Yaʾjūj dan Maʾjūj. Maur juga mencatat bahwa nama Dhū l-Qarnayn mungkin berkaitan dengan tradisi ikonografis Aleksander bertanduk domba ala Zeus-Ammon, atau setidaknya berbagi sumber simbolik yang sama.

Bagian ini penting karena menunjukkan bahwa dalam dunia Arab-Islam, Aleksander tidak hanya “diterjemahkan,” tetapi juga diserap ke dalam sejarah suci. Identifikasi itu tidak harus selalu berarti bahwa semua pihak sepakat Dhū l-Qarnayn adalah Aleksander secara historis. Yang Maur tekankan adalah bahwa dalam praktik kesusastraan dan historiografi Arab, tumpang tindih antara keduanya begitu besar sehingga melahirkan sinkretisme yang kuat, bahkan ketika ada suara-suara yang menolaknya.

 

Tradisi Suryani dan Latar bagi Q 18:83–102

Salah satu bagian paling penting dari entri ini adalah penjelasan Maur tentang peran tradisi Suryani, terutama apa yang lazim disebut para sarjana modern sebagai Christian Alexander Legend. Ia merangkum posisi akademik modern sejak Nöldeke hingga Kevin van Bladel dan Tommaso Tesei, yang melihat kisah Qur’ani Dhū l-Qarnayn memiliki kemiripan sangat dekat dengan teks Suryani akhir antik itu, terutama dalam urutan naratifnya: perjalanan ke tempat matahari terbenam, perjalanan ke tempat matahari terbit, lalu pembangunan penghalang terhadap Gog dan Magog. Kevin van Bladel secara eksplisit berargumen bahwa Q 18:83–102 merupakan retelling atas suatu teks Suryani tertentu yang disusun sekitar 630 M, sementara Reinink membaca tradisi Aleksander Suryani abad ketujuh dalam kaitan dengan imajinasi apokaliptik dan politik Bizantium.

Maur sangat efektif ketika ia menempatkan paralel-paralel itu secara berurutan. Ia tidak hanya menyebut bahwa ada kemiripan, tetapi menunjukkan kronologi cerita yang hampir berpadanan. Pembacaan seperti ini membuat pembaca mengerti mengapa kisah Dhū l-Qarnayn sejak lama menjadi salah satu lokasi terpenting dalam diskusi tentang hubungan Al-Qur’an dengan tradisi akhir antik. Nilai entri ini terletak pada kemampuannya merangkum diskusi itu tanpa tenggelam dalam polemik berlebihan.

 

Q 18:83–102 sebagai Epitome dan Islamisasi

Salah satu pengamatan terbaik dalam entri Maur adalah bahwa kisah Qur’ani tampil dalam bentuk yang jauh lebih ringkas daripada legenda Suryani dan kisah-kisah Aleksander lainnya. Q 18:83–102 tidak memberi detail berlimpah; ia bekerja dalam gaya ringkasan yang padat. Justru karena itu, kisah Qur’ani menjadi sangat terbuka untuk dielaborasi oleh tafsir, sejarah universal, adab, dan kisah-kisah populer Arab. Maur memperlihatkan bahwa dunia tafsir Arab lalu bergerak untuk mengisi celah-celah itu: siapa sebenarnya Dhū l-Qarnayn, di mana letak dinding itu, bagaimana sifat Yaʾjūj-Maʾjūj, dan apa hubungan semua ini dengan akhir zaman.

Pembacaan ini sangat penting. Maur pada dasarnya menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak sekadar mewarisi satu kisah, tetapi mengislamkannya melalui pemadatan, lalu membiarkan tradisi Muslim selanjutnya mengembangkannya sesuai kebutuhan teologis, eskatologis, dan historis. Itu sebabnya kisah Dhū l-Qarnayn menjadi sangat subur dalam tafsir dan historiografi Arab. Teks Qur’an memberi kerangka sakral, sedangkan tradisi Aleksander menyediakan cadangan naratif yang sangat besar.

 

Tafsir Arab dan Luasnya Resepsi

Maur juga sangat baik ketika menunjukkan bahwa jejak Alexander Romance tidak terbatas pada tafsir. Ia muncul dalam karya para mufasir seperti al-Ṭabarī, al-Thaʿlabī, al-Qurṭubī, dan al-Bayḍāwī, tetapi juga dalam kronik universal, sastra hikmah, dan kisah-kisah Arab independen tentang Dhū l-Qarnayn. Ia menyebut sejumlah teks Arab yang secara bebas memperluas legenda Aleksander, serta menunjukkan bahwa banyak di antaranya belum diedit atau diterbitkan secara memadai. Ini memberi pembaca kesan yang sangat jelas: kisah ini bukan episode kecil, melainkan salah satu urat besar dalam sastra Islam pra-modern.

Bagian ini merupakan salah satu kekuatan terbesar entri tersebut. Maur tidak berhenti pada sumber, tetapi bergerak ke resepsi. Ia ingin menunjukkan bahwa yang penting bukan hanya dari mana kisah itu datang, tetapi apa yang kemudian dilakukan dunia Arab-Islam terhadapnya. Aleksander menjadi tokoh tafsir, tokoh sejarah universal, tokoh adab, bahkan tokoh hikayat. Itu membuat entri ini terasa matang, karena ia menempatkan pertanyaan sumber dalam konteks sejarah penerimaan yang lebih luas.

 

Kontroversi Identitas Dhū l-Qarnayn

Maur menutup dengan baik ketika menyinggung bahwa perdebatan tentang identitas Dhū l-Qarnayn masih berlanjut hingga masa modern. Berbagai tokoh lain pernah diusulkan, termasuk Cyrus dan Darius. Namun yang penting baginya bukan memutuskan identitas final, melainkan menunjukkan bahwa tradisi Arab pra-modern sendiri sudah menyadari kemiripan yang sangat kuat antara Dhū l-Qarnayn dan Aleksander dalam Romance. Jadi, bahkan bila ada upaya modern untuk melepaskan Dhū l-Qarnayn dari Aleksander, sejarah resepsi Arab tetap memperlihatkan tingkat sinkretisme yang sangat tinggi antara keduanya.

Pengamatan ini penting karena membuat entri Maur tidak jatuh ke dalam klaim berlebihan. Ia tidak memaksa satu jawaban tertutup, tetapi menunjukkan bobot historis dari satu identifikasi yang memang sangat dominan dalam tradisi sastra Arab. Ini sikap yang ilmiah dan proporsional.

 

Kontribusi Intelektual Maur

Sumbangan terbesar entri ini terletak pada keberhasilannya menempatkan Q 18:83–102 di dalam ekologi naratif akhir antik. Maur membantu pembaca melihat bahwa kisah Qur’ani tentang Dhū l-Qarnayn tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan berbicara dengan warisan cerita yang sudah beredar luas. Ia juga menunjukkan bahwa nilai kisah itu dalam Islam tidak berhenti pada momen pewahyuan, tetapi terus berkembang melalui tafsir, sejarah, sastra, dan ekspansi Islamicate ke berbagai bahasa, termasuk Melayu.

Ada pula kekuatan lain: Maur menyeimbangkan pertanyaan sumber dan resepsi. Banyak tulisan hanya tertarik pada apakah Qur’an “meminjam” dari tradisi sebelumnya. Maur bergerak lebih jauh. Ia memperlihatkan bagaimana satu tradisi yang diwarisi kemudian diproses ulang dan menjadi bagian organik dari budaya sastra Islam. Itulah sisi paling menarik dari entri ini.

 

Keterbatasan dan Catatan Kritis

Karena ringkas, entri ini lebih berupa peta daripada analisis mendalam. Maur berhasil merangkum paralel utama dan jalur penerimaan, tetapi belum sempat membedah lebih jauh bagaimana tafsir Muslim secara teologis mengubah figur Aleksander menjadi Dhū l-Qarnayn yang saleh, tunduk kepada Tuhan, dan berfungsi dalam visi moral Qur’ani. Pertanyaan tentang apa yang berubah secara ideologis ketika Aleksander diislamkan masih bisa digarap lebih dalam.

Bagian tentang tradisi Arab independen juga sangat menjanjikan, tetapi tetap singkat. Pembaca diberi tahu bahwa ada banyak teks Arab yang belum diedit, namun belum diajak melihat perbedaan watak di antara teks-teks itu. Padahal, di sana mungkin terdapat variasi penting tentang politik, eskatologi, dan etika kekuasaan dalam tradisi Islam.

Satu hal lain yang terasa masih bisa diperluas adalah wilayah di luar Arab, terutama Persia, Melayu, dan Asia Selatan. Maur memang menyebut pengaruhnya yang luas, tetapi fokusnya tetap berat pada jalur Yunani–Suryani–Arab. Itu wajar untuk sebuah entri pendek, tetapi tetap layak dicatat.

 

Penutup

Glenn Maur menunjukkan bahwa kisah Dhū l-Qarnayn tidak dapat dipahami dengan baik bila dilepaskan dari tradisi Alexander Romance. Nilai entri ini bukan hanya karena ia menelusuri paralel naratif, tetapi karena ia memperlihatkan bagaimana satu jaringan cerita kuno masuk ke dalam tafsir Qur’an, lalu diolah kembali menjadi bagian dari sejarah suci Islam. Aleksander di sini bukan semata tokoh sejarah Makedonia, melainkan figur yang telah melewati banyak bahasa, agama, dan imajinasi politik sebelum akhirnya hadir dalam cakrawala Qur’ani.

Itulah kekuatan utama review atas entri ini. Maur membantu pembaca memahami bahwa Q 18:83–102 hidup di persimpangan antara wahyu, legenda, dan resepsi. Kisah Dhū l-Qarnayn bukan sekadar cerita Qur’ani tentang perjalanan dan dinding, tetapi salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana Al-Qur’an berinteraksi dengan dunia naratif akhir antik lalu melahirkan tradisi baru yang sangat panjang umurnya.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178