Membaca Gulnaz Sibgatullina: Terjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Turkik Pra-Modern—Dari Glosa Antarbaris ke Tafsir Vernakular

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 28 December 2025
Membaca Gulnaz Sibgatullina: Terjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Turkik Pra-Modern—Dari Glosa Antarbaris ke Tafsir Vernakular

Tulisan Gulnaz Sibgatullina (teks sumber: “Qurʾān translations into premodern Turkic” dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), membuka satu lanskap luas yang kerap dipahami secara fragmentaris: bagaimana Al-Qur’an hadir dan dipahami di dunia Turkik*(lihat keterangan di akhir artikel) pra-modern, dari Asia Tengah hingga Anatolia. Sejarah ini tidak bergerak melalui satu bahasa dominan atau satu pusat intelektual tunggal, melainkan melalui jaringan dinasti, tarekat sufi, madrasah, dan tradisi pedagogis yang lintas wilayah. Dalam konteks ini, terjemahan Al-Qur’an tidak pernah berdiri sebagai teks mandiri semata, melainkan terikat erat dengan praktik membaca, mengajar, dan menafsirkan wahyu.

Sibgatullina menekankan bahwa meskipun manuskrip terjemahan Al-Qur’an Turkik yang lengkap baru bertahan dari abad ke-14–15, proses penerjemahan—setidaknya secara lisan—kemungkinan telah berlangsung sejak abad ke-10, seiring dengan Islamisasi bertahap masyarakat Turkik. Sufi shaykh memainkan peran penting dalam proses ini, bukan hanya sebagai penyebar Islam, tetapi juga sebagai penghubung antara teks suci dan komunitas yang baru masuk Islam.

 

Bahasa “Turkik Tengah” dan Ruang Multibahasa Islam

Terjemahan Al-Qur’an pra-modern ke dalam bahasa Turkik umumnya ditulis dalam apa yang oleh filologi disebut sebagai Middle Turkic, sebuah istilah payung yang mencakup berbagai varian bahasa di cabang Timur (Khwarezmian, Chaghatay awal) dan Barat (Kipchak, Oghuz/Anatolia-Ottoman awal). Pembagian ini penting karena menunjukkan bahwa terjemahan Al-Qur’an berkembang di lebih dari satu ekosistem budaya dan politik.

Meskipun terdapat perbedaan regional, Sibgatullina menunjukkan adanya kesamaan praktik penerjemahan di kedua cabang ini. Namun, sumber-sumber dari wilayah Barat lebih melimpah, memungkinkan rekonstruksi yang lebih rinci tentang bagaimana Al-Qur’an dipelajari dan dipahami oleh penutur bahasa Turkik.

 

Terjemahan Antarbaris: Membaca Bersama Teks Arab

Bentuk terjemahan paling awal dan paling tersebar adalah terjemahan antarbaris (interlinear). Dalam format ini, teks Arab Al-Qur’an tetap menjadi pusat halaman, sementara padanan kata dalam bahasa Turkik ditulis kecil di bawah atau miring pada sudut tertentu. Pola ini mengikuti tradisi Persia dan sangat mungkin mencerminkan praktik pengajaran lisan di madrasah.

Sibgatullina mencatat bahwa pembaca yang dibayangkan oleh terjemahan jenis ini adalah mereka yang tidak menguasai bahasa Arab. Karena itu, hampir semua kata—termasuk istilah teknis keislaman—diberi glosa. Kosakata dan struktur kalimat glosa-glosa ini sering kali lebih dekat ke sumber Persia daripada langsung ke Arab, sehingga menyingkap lapisan perantara dalam proses penerjemahan.

Manuskrip-manuskrip antarbaris ini—baik yang bilingual (Arab–Turkik) maupun trilingual (Arab–Turkik–Persia)—menunjukkan dunia Islam Turkik sebagai ruang belajar multibahasa, tempat satu teks suci dikelilingi oleh beberapa bahasa penjelas secara bersamaan.

 

Terjemahan plus Komentar: Tahap Peralihan

Tahap berikutnya adalah terjemahan-cum-komentar, yang berada di antara glosa antarbaris dan tafsir penuh. Dalam dokumen-dokumen ini, terjemahan ayat disertai kisah, penjelasan konteks, atau implikasi hukum. Contoh pentingnya adalah apa yang dikenal sebagai Central Asian tafsīr, di mana sejak Surah al-Kahf teks Arab dilengkapi terjemahan antarbaris, lalu mulai Surah al-Fatḥ disertai komentar yang lebih eksplisit.

Karya lain seperti Jawāhir al-aṣdāf memperlihatkan pola serupa dalam konteks Anatolia-Ottoman awal. Terjemahan tidak hanya memindahkan makna, tetapi juga membawa masuk tradisi tafsir Arab yang sudah mapan—seperti karya Abū l-Layth al-Samarqandī—ke dalam horizon bahasa Turkik. Di sini, bahasa lokal berfungsi sebagai jembatan pedagogis menuju khazanah ilmu Islam yang lebih luas.

 

Tafsir Vernakular: Bahasa Turkik sebagai Medium Utama

Sejak abad ke-15, umat Islam penutur Turkik mulai memproduksi tafsir monolingual dalam bahasa mereka sendiri. Pada tahap awal, karya-karya ini umumnya merupakan terjemahan dari tafsir Arab atau Persia yang populer. Namun, pilihan bahasa Turkik sebagai medium utama menandai perubahan penting: bahasa lokal tidak lagi sekadar alat bantu memahami teks Arab, tetapi menjadi wadah diskursif penuh bagi penafsiran Al-Qur’an.

Sibgatullina menunjukkan bagaimana karya-karya seperti terjemahan tafsir Abū l-Layth al-Samarqandī ke dalam Ottoman awal, atau penerjemahan Mawāhib-i ʿaliyya karya al-Kāshifī ke dalam Chaghatay dan Ottoman, memperluas jangkauan tafsir klasik ke komunitas Turkik yang lebih luas. Dalam proses ini, bahasa Turkik memperoleh legitimasi sebagai bahasa ilmu keislaman.

 

Dari Glosa ke Tafsir: Perubahan Praktik Membaca

Salah satu temuan penting dalam paparan Sibgatullina adalah perubahan praktik membaca Al-Qur’an. Terjemahan antarbaris yang dominan hingga abad ke-16–17 perlahan berkurang, digantikan oleh tafsir yang lebih naratif dan sistematis. Ini menunjukkan pergeseran dari pembacaan yang sangat dekat-teks menuju pembacaan yang lebih konseptual dan tematik.

Namun, kecenderungan untuk kembali pada terjemahan dekat-teks muncul lagi pada akhir abad ke-18, menandakan bahwa sejarah terjemahan Al-Qur’an di dunia Turkik tidak bergerak satu arah, melainkan berputar mengikuti kebutuhan pedagogis dan intelektual zamannya.

 

Penutup

Melalui pembacaan Gulnaz Sibgatullina, terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Turkik pra-modern tampak sebagai tradisi yang kaya, bertingkat, dan sangat kontekstual. Dari glosa antarbaris yang menempel pada setiap kata Arab, ke terjemahan yang disertai kisah dan hukum, hingga tafsir penuh dalam bahasa vernakular, setiap bentuk mencerminkan cara komunitas Turkik belajar menjadi Muslim.

Terjemahan di sini bukan tindakan tunggal “memindahkan bahasa”, melainkan bagian dari ekosistem keilmuan Islam yang multibahasa dan pedagogis. Al-Qur’an tetap berada di pusat, tetapi dikelilingi oleh lapisan-lapisan bahasa Turkik dan Persia yang memungkinkan wahyu itu dipahami, diajarkan, dan dihidupi dalam dunia yang luas dari Asia Tengah hingga Anatolia.

 

--------------------------------------

*Dalam konteks akademik, saya memilih menerjemahkan istilah “Turkic” sebagai Turkik, bukan Turki, karena yang dimaksud adalah rumpun bahasa yang luas—meliputi bahasa Turki (Turkish), Azeri, Uzbek, Kazakh, Kyrgyz, Uyghur, Tatar, dan lain-lain—bukan satu bahasa atau negara tertentu. Bagi saya, penggunaan “Turki” berisiko menyempitkan makna seolah-olah pembahasan hanya merujuk pada negara Turki atau bahasa Turki modern, padahal tradisi yang dibicarakan mencakup beragam konteks pra-modern seperti Turki Utsmani, Turki Anatolia Kuno, Chaghatay, Kipchak, dan Oghuz. Dengan memakai istilah “Turkik”, saya ingin menegaskan kerangka filologis dan historis yang lebih tepat, sekaligus menjaga kejelasan konseptual dalam pembahasan terjemahan Al-Qur’an lintas wilayah dan lintas zaman.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178