Membaca Gulnaz Sibgatullina: Terjemahan Al-Qur’an Modern ke Türki-Tatar—Vernakularisasi, Cetak, dan Runtuhnya Kontinuitas

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 29 December 2025
Membaca Gulnaz Sibgatullina: Terjemahan Al-Qur’an Modern ke Türki-Tatar—Vernakularisasi, Cetak, dan Runtuhnya Kontinuitas

Tulisan Gulnaz Sibgatullina (teks sumber: “Modern Qurʾān Translations into Türki-Tatar” dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online) menempatkan kawasan Volga–Ural sebagai ruang penting dalam sejarah Al-Qur’an berbahasa vernakular, tetapi sering luput dari narasi besar Islam “Timur Tengah–Ottoman–Asia Selatan”. Di sini, pertanyaan tentang terjemahan Al-Qur’an muncul bukan karena perubahan teologi semata, melainkan karena pergeseran ekologi bahasa: bagaimana sebuah komunitas Muslim yang lama hidup dalam orbit Persianate—dengan Arab dan Persia sebagai bahasa ilmu—perlahan menggeser pusat gravitasinya ke bahasa Turkik lokal yang belum sepenuhnya baku, yang oleh studi modern disebut Türki-Tatar (atau Kazan Tatar/Volga-Ural Turki).

Sibgatullina menunjukkan bahwa sejak pertengahan abad ke-18, para ʿulamāʾ mulai secara sistematis membuat ilmu-ilmu Islam—termasuk tafsir—lebih dapat diakses oleh mereka yang kemampuan Arabnya terbatas. Proses ini berjalan seiring dengan vernakularisasi dunia Persianate yang lebih luas: Turkik menggantikan Persia sebagai medium populer untuk “menghadirkan” khazanah kosmopolitan kepada pembaca lokal.

 

Dari Trilingual ke Vernakular: Turkik Menggeser Persia

Sebelum pergeseran ini, umat Islam di Kekaisaran Rusia (khususnya Volga–Ural) beroperasi dalam ruang budaya tiga bahasa: Arab untuk otoritas wahyu dan disiplin tertentu, Persia untuk literatur dan transmisi ilmu, dan ragam Turkik sebagai bahasa komunikasi dan sebagian penulisan. Namun, ketika Persia mulai kehilangan fungsinya sebagai lingua franca lokal, bahasa Turkik mengambil alih peran sebagai bahasa popularisasi.

Perubahan medium ini tidak netral. Ia mengubah bentuk teks yang diproduksi, jenis pembaca yang dibayangkan, serta cara tafsir dan terjemahan disusun. Dalam cerita Sibgatullina, “terjemahan” tidak berdiri sebagai genre tunggal, melainkan sebagai spektrum: ringkasan, adaptasi tafsir, komentar parsial, hingga proyek terjemahan penuh yang—ironisnya—sering tidak bertahan dalam bentuk cetak.

 

Tradisi Häftiyäk: Menafsirkan Seper-Tujuh Al-Qur’an

Salah satu bentuk paling khas di kawasan ini adalah tradisi häftiyäk—komentar atas satu per tujuh bagian Al-Qur’an—yang berkembang dalam bahasa Türki-Tatar. Tokoh pionirnya adalah ʿAbd al-Naṣīr al-Qūrṣāwī (1776–1812). Karyanya Häftiyäk täfsīre dicetak pertama kali pada 1861 dan berkali-kali dicetak ulang, menandakan adanya publik yang stabil untuk teks Qur’ani vernakular.

Menariknya, karya-karya häftiyäk yang dibahas Sibgatullina bersifat intertekstual: penjelasan ayat kerap disertai rujukan historis, anekdot, dan narasi pendukung. Ini memperlihatkan cara tafsir bekerja sebagai “alat pengajar” yang tidak hanya menerangkan makna literal, tetapi juga menyusun jaringan cerita agar ayat menjadi akrab bagi pembaca lokal.

Tradisi ini lalu diperluas oleh murid al-Qūrṣāwī, Nuʿmān b. Thābit al-Thamʿānī, hingga dikenal sebagai Tafsīr-i Nuʿmānī. Selain itu, tokoh seperti Tājaddin Yālchigul dan Shaykh Bahādurshāh al-Gīnāwī juga menulis dalam jalur yang sama. Di sini, “vernakular” tidak berarti sederhana, melainkan berarti diproduksi dengan kesadaran tentang audiens yang berbeda dari audiens ulama berbahasa Arab.

 

Menjelang Akhir Abad ke-19: Tafsir Klasik Dipindahkan ke Cetak Lokal

Akhir abad ke-19 menyaksikan munculnya karya-karya cetak yang lebih ambisius: terjemahan atau kompilasi tafsir klasik dalam Türki-Tatar. Sibgatullina mencontohkan: (1) Tafsīr-i Fawāʾid (1885) karya Ḥusayn Amīrkhān yang memanfaatkan beberapa tafsir populer, termasuk al-Nasafī dan; (2) Tashīl al-bayān fī tafsīr al-Qurʾān karya Muḥammad-Ṣādiq Imānqulī, selesai 1905 namun baru dicetak 1911, yang merupakan adaptasi dari tafsir Persia al-Kāshifī.

Yang terlihat jelas di sini: alih-alih “menciptakan tafsir dari nol”, banyak proyek awal memilih jalur pemindahan otoritas—membawa tafsir mapan ke dalam bahasa lokal. Vernakularisasi berlangsung bukan dengan memutus mata rantai tradisi, tetapi dengan memindahkan tradisi itu ke medium bahasa yang lebih dekat dengan pembaca.

 

1905–1917: Pers, Jadidisme, dan Dorongan “Verbatim”

Ledakan budaya surat kabar vernakular pada 1905–1917 mengubah komposisi pelaku tafsir. Sibgatullina mencatat masuknya penulis non-ʿulamāʾ dan lulusan madrasah reformis (sering diasosiasikan dengan Jadidisme) ke ruang interpretasi Al-Qur’an. Berbeda dari generasi sebelumnya yang menaruh tafsir klasik di pusat, generasi ini cenderung memprioritaskan terjemahan verbatim—sementara tafsir tradisional menjadi latar pendukung.

Salah satu contoh pentingnya adalah majalah al-Dīn wa-l-adab, tempat ʿĀlimjān al-Bārūdī (disebut bekerja sama dengan Muḥammad Najīb al-Tūntārī) menerbitkan surah-surah Arab disertai terjemahan Türki-Tatar dan komentar panjang. Format periodikal ini penting: publik tidak lagi menunggu kitab tebal, melainkan menerima Al-Qur’an secara berseri, mengikuti ritme media modern.

Pada saat yang sama, muncul kabar bahwa sudah ada terjemahan penuh Al-Qur’an ke Türki-Tatar (sekitar 1912) oleh Ḍiyāʾ al-Kamālī dan Mūsā Jār Allāh Bīgī. Namun, semua ini berhenti sebagai rumor sejarah: naskahnya tidak ditemukan dan tidak pernah dicetak, sehingga sulit dinilai.

Yang menarik dari Bīgī, menurut Sibgatullina, dapat dilacak dari karya-karya lainnya: ia tampaknya mengejar akurasi paling ketat terhadap kata dan ungkapan Arab, tetapi akurasi itu ia pahami melalui konteks historis penggunaan bahasa Arab awal. Dengan kata lain, “verbatim” tidak berarti mekanis; ia justru menuntut kerja historis.

 

Revolusi 1917 dan Putusnya Jalur Keilmuan

Bagian paling tajam dalam tulisan ini adalah momen 1917. Revolusi dan terbentuknya Uni Soviet memutus kontinuitas lembaga, jaringan ulama, dan sistem pendidikan yang menopang tradisi tafsir dan terjemahan. Sibgatullina tetap menegaskan bahwa kegiatan terjemahan Al-Qur’an tidak sepenuhnya berhenti; arsip-arsip Soviet menunjukkan adanya kelanjutan, tetapi dalam skala jauh lebih kecil dan dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan.

Dalam kerangka ini, modernitas muncul dalam dua wajah: pertama, modernitas media (pers, cetak) yang memperluas publik; kedua, modernitas politik (Soviet) yang membatasi ruang agama dan mematahkan kelembagaan transmisi.

 

Penutup

Melalui Sibgatullina, terjemahan Al-Qur’an ke Türki-Tatar tampak sebagai proyek besar vernakularisasi ilmu Islam di pinggiran utara dunia Muslim. Ia berangkat dari kebutuhan pedagogis: menjangkau pembaca yang tidak lagi hidup dalam kemahiran Arab–Persia, tetapi masih membutuhkan akses yang dapat dipercaya terhadap makna wahyu. Tradisi häftiyäk menandai bentuk tafsir yang dirancang untuk pembaca lokal; gelombang akhir abad ke-19 memindahkan tafsir klasik ke bahasa cetak lokal; dan periode 1905–1917 menghadirkan generasi baru yang menuntut terjemahan lebih dekat-teks, selaras dengan logika publik baru.

Pada akhirnya, sejarah ini memperlihatkan bagaimana bahasa Turkik lokal berubah dari “alat bantu” menjadi medium utama pengajaran, sambil terus membawa beban otoritas tradisi yang dipindahkan dari Arab dan Persia. Ketika jaringan itu mulai mapan, guncangan politik 1917 memotong jalurnya—membuat banyak proyek terjemahan penuh tinggal sebagai jejak samar, dikenal lewat berita, tetapi hilang sebagai naskah.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178