Membaca Hanne Schönig: Kafur sebagai Bahan Duniawi yang Diangkat Menjadi Imajinasi Kenikmatan Akhirat

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 24 March 2026
Membaca Hanne Schönig: Kafur sebagai Bahan Duniawi yang Diangkat Menjadi Imajinasi Kenikmatan Akhirat

Entri Hanne Schönig, “Camphor [Supplement 2016],” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, tampak kecil dari segi tema dan panjang tulisan, tetapi justru menarik karena memperlihatkan bagaimana satu kata Qur’ani yang hanya muncul sekali dapat membuka jendela yang lebar ke arah tafsir, perdagangan, botani, kuliner, pengobatan, dan ritual kematian. Schönig tidak menulis kafur sebagai tema teologis besar. Ia menulisnya sebagai benda aromatik yang bergerak dari Asia ke dunia Arab, lalu masuk ke dalam bahasa wahyu dan membentuk citra kenikmatan surga.

Nilai utama entri ini terletak pada cara Schönig memperlihatkan bahwa benda-benda yang tampak kecil dalam Al-Qur’an sesungguhnya dapat mengandung sejarah budaya yang sangat luas. Kafur bukan sekadar satu unsur dalam gambaran minuman surga, tetapi juga jejak pertukaran dagang, pengetahuan inderawi, dan kehidupan material yang membentuk horizon makna pembaca awal Al-Qur’an.

 

Kafur sebagai Leksikon Qur’ani yang Tipis tetapi Kaya

Schönig memulai dari satu fakta yang sederhana: kāfūr disebut hanya sekali dalam Al-Qur’an, yakni pada Q 76:5(*), sebagai campuran minuman yang diminum orang-orang saleh di surga. Dari satu penyebutan yang sangat terbatas itu, ia membangun pembacaan yang luas. Ia terlebih dahulu menjelaskan apa itu kafur secara botanis dan material: pohon, zat aromatik putih, sumber geografisnya di Asia Timur dan Asia Tenggara, serta kemungkinan jenis yang beredar pada masa Nabi.

(*) اِنَّ الْاَبْرَارَ يَشْرَبُوْنَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُوْرًاۚ

Terjemahan Kemenag 2019

5.  Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum (khamar) dari gelas yang campurannya air kafur,737)

737)Kafur merupakan nama suatu mata air di surga yang warnanya putih, aromanya harum, dan enak rasanya. Kafur disediakan untuk hamba Allah yang taat.

 

Pilihan ini sangat penting. Schönig tidak langsung masuk ke wilayah tafsir semata, melainkan menegaskan bahwa untuk memahami kata Qur’ani tertentu, pembaca kadang perlu tahu dulu apa bendanya, dari mana asalnya, dan bagaimana ia dikenal dalam dunia perdagangan dan penggunaan sehari-hari. Itu membuat entri ini terasa sangat filologis dan historis sekaligus. Kata Qur’an tidak diperlakukan hanya sebagai lambang, tetapi juga sebagai benda yang memiliki biografi material.

 

Q 76:5 dan Imajinasi Minuman Surga

Pusat analisis Schönig tetap berada pada Q 76:5. Ia menunjukkan bahwa para mufasir membaca ayat ini bersama ayat sesudahnya, terutama bagian tentang mata air yang diminum oleh hamba-hamba Allah. Dari hubungan itu lahir pemahaman bahwa ada “mata air kafur” di surga, dan minuman yang disuguhkan kepada orang saleh dicampur dengan air dari mata air tersebut.

Schönig sangat baik dalam merangkum nuansa tafsir klasik. Para mufasir menekankan sifat-sifat positif kafur: harum, sejuk, putih, menyegarkan. Sifat-sifat itu dipertahankan sebagai kualitas surgawi. Pada saat yang sama, mereka juga segera menjaga jarak dari kafur duniawi. Kafur surga tidak identik dengan kafur di dunia, sebab benda surgawi tidak membawa efek yang tidak menyenangkan atau berbahaya. Nama yang dipakai tetap sama agar dapat dipahami manusia, tetapi realitasnya lebih sempurna daripada yang dikenal di bumi.

Bagian ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting dalam hermeneutika klasik: mufasir bekerja dengan dua gerak sekaligus. Mereka memakai pengalaman duniawi sebagai pintu masuk, tetapi mereka juga menolak menyamakan surga dengan dunia secara mentah. Schönig menangkap gerak tafsir itu dengan sangat baik.

 

Kafur, Jahe, dan Bahasa Kenikmatan yang Dikenal Manusia

Salah satu bagian yang paling halus dalam entri ini terletak pada cara Schönig menempatkan kafur berdampingan dengan zanjabīl atau jahe dalam ayat-ayat sesudahnya. Para mufasir membaca keduanya sebagai pola yang serupa: minuman surga dijelaskan melalui bahan-bahan yang sudah dikenal manusia, terutama sebagai penambah rasa dan aroma. Hubungan ini penting karena menunjukkan bahwa gambaran surga dalam Al-Qur’an sering dibangun dari kenikmatan yang sudah akrab, lalu diangkat ke tingkat yang lebih sempurna.

Pembacaan Schönig pada titik ini terasa sangat cermat. Ia tidak berhenti pada identifikasi benda, tetapi menyingkap logika representasi Qur’ani. Surga digambarkan bukan dengan bahasa yang sepenuhnya asing, melainkan dengan bahan-bahan yang bisa dibayangkan manusia. Kafur dan jahe menjadi bagian dari kosakata inderawi yang membuat janji akhirat terasa dekat, meskipun tetap melampaui pengalaman dunia.

 

Dari Tafsir ke Sejarah Sosial: Kafur dalam Minuman, Makanan, dan Puisi

Kekuatan lain dari entri ini tampak ketika Schönig bergerak dari tafsir ke sejarah sosial. Ia mengingatkan bahwa praktik mencampur minuman dengan air dan bahan penambah rasa memang dikenal dalam kebudayaan Arab lama. Kafur juga tercatat sebagai bahan aromatik penting, dipakai dalam masakan, pencuci mulut, minuman, air sulingan, dan bahkan metafora sastra untuk warna putih.

Bagian ini membuat entri tersebut jauh lebih hidup. Schönig memperlihatkan bahwa kata kāfūr dalam Al-Qur’an tidak datang dari ruang kosong. Ia datang ke dalam teks suci dengan membawa resonansi rasa, aroma, warna, dan prestise budaya tertentu. Pembaca awal atau para mufasir tidak hanya mendengar sebuah nama asing, tetapi membayangkan sesuatu yang harum, sejuk, mewah, dan bernilai. Maka, penyebutan kafur dalam surga bukan sekadar ornamen bahasa, melainkan pilihan yang sangat padat secara sensorik dan kultural.

 

Kafur dalam Pengobatan dan Ritus Kematian

Schönig juga menyinggung dua ranah yang sangat penting: pengobatan dan ritual jenazah. Dalam teori humor Yunani-Islam, kafur dipahami sebagai zat yang dingin dan kering, dengan beragam manfaat higienis dan medis. Pada saat yang sama, kafur muncul dalam praktik memandikan jenazah, berdasar sejumlah hadis, dan terus bertahan dalam kehidupan Muslim sampai hari ini.

Catatan ini sangat bernilai karena memperlihatkan bahwa kafur bukan hanya bahan kenikmatan, tetapi juga bahan yang menghubungkan tubuh hidup dan tubuh mati. Ia hadir dalam obat, parfum, salep, kosmetik, dan dalam perawatan jenazah. Ada semacam gerak simbolik yang menarik pada benda ini: di satu sisi ia menandai kelezatan dan kesejukan surga, di sisi lain ia menjadi bagian dari pengurusan tubuh yang telah meninggal. Schönig tidak mengembangkan sisi simbolik ini panjang-panjang, tetapi bahan yang ia sajikan cukup untuk menunjukkan betapa luas kehidupan budaya sebuah kata Qur’ani.

 

Kontribusi Intelektual Schönig

Sumbangan terbesar entri ini terletak pada keberhasilannya menghubungkan leksikon Qur’an dengan sejarah material dunia Islam. Schönig menunjukkan bahwa memahami satu kata dalam Al-Qur’an tidak cukup hanya lewat tafsir. Kadang perlu juga botani, etimologi, sejarah perdagangan, kuliner, pengobatan, dan sastra. Pendekatan seperti ini sangat produktif karena menghindarkan pembaca dari pemahaman yang terlalu abstrak.

Entri ini juga berhasil menyingkap satu hal penting tentang bahasa Qur’an: benda-benda yang disebut dalam wahyu kerap merupakan bagian dari horizon inderawi pembacanya. Kafur dipilih bukan hanya karena ia dikenal, tetapi karena ia membawa asosiasi yang kuat: sejuk, putih, harum, halus, dan berharga. Schönig membantu pembaca melihat bahwa deskripsi surga bekerja melalui pengalaman rasa dan bau yang telah tertanam dalam dunia manusia.

 

Keterbatasan dan Catatan Kritis

Karena formatnya singkat, entri ini lebih terasa sebagai sketsa yang sangat padat daripada analisis yang benar-benar mendalam. Schönig berhasil mengumpulkan bahan tafsir, filologi, botani, dan sejarah penggunaan kafur, tetapi belum sepenuhnya mengembangkan pertanyaan yang lebih besar tentang mengapa kafur begitu efektif sebagai citra surgawi dibanding bahan aromatik lain. Pilihan Qur’ani itu disajikan dengan baik, tetapi belum dibedah secara simbolik atau antropologis.

Bagian tentang etimologi dan asal-usul kata juga menarik, tetapi hanya dibuka secara ringkas. Pembaca diberi petunjuk bahwa kāfūr memiliki lintasan lintas-bahasa dan lintas-kawasan yang panjang, namun sejarah perjalanannya ke dalam bahasa Arab dan dunia Qur’an belum ditelusuri lebih jauh. Sisi ini sebenarnya sangat menjanjikan, apalagi karena kafur jelas terhubung dengan jaringan dagang Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Catatan tentang penggunaan kafur dalam ritus jenazah pun hanya muncul di ujung tulisan. Padahal, kalau dikembangkan, bagian itu dapat memperlihatkan hubungan yang lebih luas antara benda aromatik, kesucian, perawatan tubuh, dan transisi dari dunia ke akhirat dalam Islam.

 

Penutup

Hanne Schönig memperlihatkan bahwa satu kata kecil dalam Al-Qur’an dapat membuka sejarah yang sangat luas. Kafur hadir dalam wahyu sebagai campuran minuman surga, tetapi di belakang penyebutan tunggal itu ada dunia perdagangan Asia, pengetahuan tentang aroma, tafsir klasik, kebiasaan kuliner, teori pengobatan, dan ritus kematian. Keberhasilan entri ini terletak pada cara ia menghubungkan semua lapisan itu tanpa kehilangan fokus pada ayat Qur’annya.

Yang paling terasa dari review ini adalah bahwa Schönig mengajak pembaca membaca Al-Qur’an bukan hanya sebagai teks teologis, tetapi juga sebagai teks yang berbicara melalui benda-benda inderawi yang akrab bagi manusia. Kafur menjadi contoh yang sangat baik tentang bagaimana bahasa wahyu bekerja lewat rasa, bau, warna, dan kesejukan—lalu mengubah pengalaman duniawi itu menjadi bahasa kenikmatan akhirat.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178