Membaca Jamal Elias: Wajah Tuhan antara Bahasa Qur’ani, Teologi Transendensi, dan Teofani Sufi

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 09 April 2026
Membaca Jamal Elias: Wajah Tuhan antara Bahasa Qur’ani, Teologi Transendensi, dan Teofani Sufi

Entri Jamal Elias, “Face of God,” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, membahas salah satu ungkapan Qur’ani yang sangat padat secara teologis: wajh Allāh, wajah atau countenance Tuhan. Sekilas, tema ini tampak sederhana karena berpusat pada satu istilah. Namun Elias memperlihatkan bahwa ungkapan itu membuka tiga wilayah besar sekaligus: bahasa etis Al-Qur’an tentang orientasi hidup manusia, perdebatan teologis tentang antropomorfisme dan kemungkinan melihat Tuhan, serta penafsiran sufi tentang tajallī dan hati sebagai organ persepsi ilahi.

Kekuatan utama entri ini terletak pada kemampuannya menunjukkan bahwa “wajah Tuhan” dalam Islam tidak pernah berhenti sebagai citra harfiah. Ia bergerak dari teks Qur’an ke wilayah doktrin, lalu ke pengalaman mistik. Karena itu, artikel ini bukan hanya penjelasan tentang satu frasa, melainkan peta ringkas tentang bagaimana tradisi Islam berusaha memahami hubungan antara Tuhan yang transenden dan manusia yang mencari-Nya.

 

Wajah Tuhan dalam Al-Qur’an: Bukan Anatomi, tetapi Orientasi

Salah satu kontribusi paling penting dari Elias ialah penegasannya bahwa rujukan Qur’ani pada wajah Tuhan pertama-tama muncul dalam konteks orientasi moral dan spiritual manusia. Mencari wajah Tuhan berarti mengarahkan amal kepada-Nya semata. Ketika Al-Qur’an berbicara tentang sedekah, kesabaran, salat, atau pengeluaran harta “demi mencari wajah Tuhan,” fokusnya bukan pada spekulasi tentang rupa ilahi, melainkan pada kemurnian niat dan arah eksistensial manusia.

Pembacaan ini sangat tajam. Elias berhasil menahan pembaca agar tidak terlalu cepat membawa istilah wajh ke perdebatan antropomorfisme, padahal dalam banyak ayat justru yang ditekankan adalah kualitas amal. “Wajah Tuhan” menjadi bahasa Qur’ani untuk menyebut tujuan tertinggi tindakan manusia: bukan pujian sosial, bukan balas jasa, bukan keuntungan duniawi, tetapi kedekatan kepada Tuhan. Dalam horizon ini, wajh Allāh lebih dekat dengan konsep ikhlāṣ ketimbang dengan gambaran fisik.

Ini membuat entri Elias sangat berguna, karena ia memperlihatkan bahwa persoalan “wajah Tuhan” tidak boleh dibatasi pada perdebatan ontologis saja. Sebelum menjadi isu teologis, ia sudah hadir sebagai bahasa etika Qur’an.

 

Omnipresensi dan Keabadian: Wajah sebagai Tanda Kehadiran Tuhan

Elias juga menyoroti dua kelompok ayat penting lain: ayat-ayat tentang kehadiran Tuhan di mana-mana dan ayat-ayat tentang keabadian-Nya. Frasa seperti “ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Tuhan” memberi nuansa yang sangat berbeda dari pengertian wajah sebagai bentuk atau organ. Di sini, “wajah” berfungsi hampir sebagai penanda kehadiran, arah, dan keterjangkauan ilahi.

Sementara itu, ayat-ayat seperti “segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya” menempatkan wajh sebagai simbol dari aspek Tuhan yang kekal, tetap, dan tak tersentuh kefanaan makhluk. Elias menangkap pergeseran ini dengan baik. Ia menunjukkan bahwa dalam Al-Qur’an, istilah wajah tidak bekerja dalam satu register tunggal. Kadang ia menunjuk pada apa yang dicari manusia dalam ibadah; kadang menjadi bahasa tentang kehadiran ilahi yang melampaui arah; kadang menjadi tanda keabadian Tuhan saat segala yang lain lenyap.

Dari sini terlihat bahwa “wajah Tuhan” dalam Qur’an lebih merupakan konsep relasional daripada deskripsi tubuh. Ia berbicara tentang bagaimana manusia menghadap Tuhan, bagaimana Tuhan hadir, dan bagaimana Tuhan tetap ada ketika makhluk binasa.

 

Dari Qur’an ke Kalam: Ketika Wajah Menjadi Masalah Teologis

Setelah memetakan data Qur’ani, Elias membawa pembaca ke salah satu arena paling klasik dalam sejarah pemikiran Islam: perdebatan tentang antropomorfisme dan ruʾyat Allāh, visi terhadap Tuhan. Di sini kelebihan entri ini sangat terasa. Elias tidak berpanjang-panjang, tetapi langsung menempatkan wajah Tuhan dalam dua kerangka yang memang paling menentukan: persoalan apakah Tuhan memiliki sifat-sifat yang menyerupai makhluk, dan persoalan apakah manusia dapat melihat Tuhan, terutama di akhirat.

Ia menunjukkan bahwa dalam sumber-sumber awal Islam memang ada kecenderungan menerima secara lebih literal bahwa Tuhan memiliki wajah yang dapat dipersepsi, terutama dalam kaitan dengan hadis tentang orang beriman yang akan melihat Tuhan di hari kebangkitan. Namun ia juga menegaskan bahwa arus ini segera bertemu dengan penolakan keras dari kalangan yang menolak segala bentuk penyerupaan Tuhan dengan makhluk, terutama Muʿtazila.

Bagian ini sangat penting karena Elias berhasil menunjukkan bahwa “wajah Tuhan” bukan isu terpisah, melainkan satu bagian dari perdebatan yang jauh lebih besar tentang bagaimana berbicara tentang Tuhan yang transenden dengan bahasa manusia yang terbatas.

 

Muʿtazila, Tanzīh, dan Penolakan terhadap Tubuh Ilahi

Elias menandai posisi Muʿtazila sebagai representasi paling tegas dari prinsip tanzīh, yakni penolakan mutlak untuk menisbatkan kepada Tuhan sifat-sifat yang akan mengarah pada keserupaan dengan makhluk. Dalam kerangka ini, pembicaraan tentang wajah Tuhan tidak mungkin diterima sebagai deskripsi literal.

Ini bagian yang sangat penting secara konseptual, meskipun Elias membahasnya secara singkat. Ia memperlihatkan bahwa bagi Muʿtazila, mempertahankan kemurnian tauhid berarti menjaga agar bahasa wahyu tidak diseret ke arah materialisasi Tuhan. “Wajah” lalu harus dipahami dalam pengertian non-harfiah: sebagai ekspresi tentang esensi, kehadiran, atau aspek tertentu dari relasi Tuhan dengan makhluk.

Yang menarik, Elias tidak menjadikan Muʿtazila sekadar “penolak” teks. Ia justru menunjukkan bahwa mereka sedang berusaha menjaga transendensi Tuhan secara radikal. Pembacaan seperti ini sangat membantu karena tidak mereduksi perdebatan klasik menjadi pertentangan antara “tekstual” versus “rasional,” tetapi memperlihatkan taruhan teologis yang jauh lebih besar.

 

Ashʿariyyah: Menerima, tetapi Tanpa Menyerupakan

Salah satu bagian paling kuat dari entri ini ialah penjelasan tentang posisi Ashʿariyyah yang kemudian menjadi arus dominan dalam banyak tradisi Sunni. Elias merangkum posisi mereka dengan formula yang sangat dikenal: bilā kayf wa lā tashbīh—diterima, tetapi tanpa menanyakan bagaimana dan tanpa menyerupakan dengan makhluk.

Di sinilah “wajah Tuhan” menjadi contoh klasik dari strategi teologi Sunni ortodoks. Tuhan benar-benar memiliki wajah, karena Qur’an mengatakannya. Janji bahwa orang beriman akan melihat Tuhan juga benar. Namun wajah itu bukan wajah seperti milik manusia, dan penglihatan itu bukan penglihatan seperti melihat benda-benda ciptaan.

Elias menampilkan posisi ini dengan sangat baik. Ia memperlihatkan bahwa teologi Ashʿari tidak membatalkan teks, tetapi juga tidak membiarkannya jatuh ke antropomorfisme. Solusinya adalah menerima kebenaran tekstual sambil menjaga ketakterbandingan Tuhan. Ini bukan penyelesaian yang sederhana, tetapi justru itulah kecanggihan historisnya: ia memungkinkan ayat tetap dibaca secara afirmatif sambil menjaga transendensi ilahi.

 

Sufisme: Wajah Tuhan sebagai Tajallī dan Persepsi Hati

Bagian yang membuat entri Elias menonjol ialah pembahasannya tentang sufisme. Jika kalam bergulat dengan pertanyaan apakah Tuhan bisa dilihat dan bagaimana memahami wajah-Nya, sufisme menggeser persoalan itu ke arah bagaimana Tuhan menampakkan diri. Elias menegaskan bahwa banyak sufi menolak gagasan bahwa Tuhan dapat dilihat secara visual seperti objek. Sebagai gantinya, mereka mengembangkan dua gagasan utama: tajallī, yakni manifestasi teofanik Tuhan dalam ciptaan, dan qalb, hati, sebagai organ persepsi terdalam.

Ini bagian yang sangat penting. Elias menunjukkan bahwa dalam tradisi sufi, wajah Tuhan bukan lagi persoalan bentuk, tetapi persoalan penyingkapan. Tuhan hadir dalam dunia bukan sebagai tubuh yang terlihat, melainkan sebagai tajallī yang dikenali oleh hati yang telah dibersihkan. Dengan kata lain, “melihat Tuhan” diubah dari tindakan optik menjadi pengalaman spiritual.

Pembacaan ini sangat kuat karena memperlihatkan bahwa istilah Qur’ani yang sama dapat bergerak ke arah hermeneutika mistik tanpa kehilangan keseriusan teologisnya. Wajah Tuhan dalam sufi bukan metafora kosong; ia adalah cara memahami bagaimana Tuhan memberi diri-Nya untuk dikenali tanpa menjadi objek material.

 

Kontribusi Utama Jamal Elias

Sumbangan terbesar Elias dalam entri ini ialah keberhasilannya menghubungkan tiga lapisan pembicaraan yang sering dipisahkan: etika Qur’ani, teologi kalam, dan metafisika sufi. Banyak tulisan tentang “wajah Tuhan” biasanya terjebak di satu lapisan saja, entah terlalu fokus pada semantik ayat, terlalu tenggelam dalam perdebatan antropomorfisme, atau hanya membicarakan pengalaman mistik. Elias berhasil memperlihatkan bahwa ketiganya saling terkait.

Ia juga sangat baik dalam menempatkan isu ini sebagai bagian dari persoalan lebih besar tentang bagaimana Tuhan berhubungan dengan dunia ciptaan. Ini membuat entri tersebut lebih luas dari sekadar pembahasan leksikal. “Wajah Tuhan” menjadi pintu masuk ke perdebatan Islam tentang transendensi, kehadiran, persepsi, dan harapan eskatologis.

 

Keterbatasan dan Catatan Kritis

Karena formatnya ringkas, entri ini terasa sangat padat dan kadang terlalu cepat. Elias menyebut sejumlah ayat penting, hadis, Muʿtazila, Ashʿariyyah, dan sufisme, tetapi tidak punya ruang untuk masuk lebih dalam ke sejarah argumentasi masing-masing. Misalnya, ia menyebut hadis tentang melihat Tuhan dan posisi literalistis awal, tetapi tidak mengurai lebih jauh bagaimana hadis-hadis itu dipakai dalam polemik klasik.

Bagian sufismenya juga sangat menjanjikan, tetapi masih berupa sketsa. Padahal tradisi sufi tentang wajh Allāh, tajallī, dan hati sebagai cermin ilahi sangat kaya dan beragam. Karena itu, entri ini lebih tepat dibaca sebagai peta awal yang membuka jalan, bukan pembahasan final yang tuntas.

 

Penutup

Jamal Elias memperlihatkan bahwa “wajah Tuhan” dalam Islam bukan sekadar istilah antropomorfik yang harus dibela atau ditolak. Di dalam Al-Qur’an, ia berbicara tentang arah amal, kehadiran Tuhan, dan keabadian-Nya. Dalam teologi, ia menjadi medan uji bagi ketegangan antara afirmasi teks dan penjagaan transendensi. Dalam sufisme, ia berkembang menjadi bahasa teofani dan persepsi batin.

Itulah kekuatan utama entri ini. Ia menunjukkan bahwa satu frasa Qur’ani yang tampak sederhana justru menjadi simpul tempat etika, teologi, dan mistisisme Islam saling bertemu. “Wajah Tuhan” bukan hanya soal apakah Tuhan mempunyai wajah, tetapi soal bagaimana manusia mencari-Nya, mengenali-Nya, dan berharap kelak berada dalam hadirat-Nya.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178