Membaca Johanna Pink: Tafsir Jawa sebagai Laboratorium Sosial Al-Qur’an

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 09 January 2026
Membaca Johanna Pink: Tafsir Jawa sebagai Laboratorium Sosial Al-Qur’an

Tulisan Johanna Pink, (teks sumber: “Fathers and sons, angels and women: Translation, exegesis and social hierarchy in Javanese tafsīr,” dalam Qur’an Translation in Indonesia: Scriptural Politics in a Multilingual State) adalah sebuah pembacaan yang pelan, rinci, dan sangat serius terhadap satu hal yang sering dianggap teknis belaka: pilihan bahasa dalam terjemahan Al-Qur’an. Namun, dari sesuatu yang tampak linguistik itu, Pink justru membuka jendela lebar ke persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana hierarki sosial, gender, usia, dan otoritas religius diproyeksikan ke dalam tafsir melalui bahasa lokal.

Alih-alih bertanya “apa arti ayat ini?”, Pink bertanya dengan cara yang lebih subtil tetapi tajam: “Bagaimana ayat ini dibunyikan ketika harus tunduk pada logika sosial sebuah bahasa?” Dalam konteks Jawa, pertanyaan ini tidak pernah netral. Bahasa Jawa tidak menyediakan ruang aman bagi “ketidakberpihakan”, karena setiap tuturan selalu mengharuskan penutur memilih posisi sosial—lebih tinggi, lebih rendah, atau setara.

 

Ketika Al-Qur’an Memasuki Bahasa yang Berjenjang

Pink memulai dari sebuah adegan Qur’ani yang tampaknya sederhana tetapi sarat ketegangan: dialog antara Maryam dan malaikat dalam Q 19:16–21.  Dalam bahasa Arab Al-Qur’an, dialog ini berlangsung tanpa penanda hierarki linguistik. Maryam dan malaikat sama-sama “berkata” (qāla/qālat), menggunakan kosakata yang setara, tanpa perubahan register setelah identitas malaikat terungkap.

Namun, ketika dialog ini diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, situasinya berubah secara radikal. Bahasa Jawa menuntut keputusan: apakah Maryam berbicara dengan ngoko (bahasa akrab atau ke bawah) atau krama (bahasa hormat)? Pilihan ini bukan sekadar estetika, melainkan penafsiran sosial. Ia memaksa penerjemah untuk menjawab pertanyaan yang bahkan tidak dijawab oleh teks sumber: siapa lebih tinggi, siapa lebih rendah, dan kapan hubungan itu berubah?

Di sinilah tesis utama Pink mulai terlihat jelas: struktur bahasa target dapat memaksa tafsir yang tidak secara eksplisit ada dalam Al-Qur’an, dan dengan demikian justru menyingkap ambiguitas sosial yang tersembunyi dalam teks Arab.

 

Register sebagai Tafsir: Dari Pilihan Bahasa ke Pilihan Makna

Pink menunjukkan bahwa para penafsir Jawa tidak sepakat dalam menghadapi dialog Maryam–malaikat. Sebagian memilih krama sejak awal, menjadikan pertemuan itu sebagai interaksi yang penuh jarak dan kesopanan. Sebagian lain memilih ngoko, bahkan setelah identitas malaikat terungkap, sehingga menampilkan relasi yang lebih datar atau egaliter.

Yang paling menarik adalah kelompok penafsir—terutama Bisri Musthofa—yang memainkan perubahan register sebagai alat tafsir. Dalam pendekatan ini, Maryam mula-mula berbicara dengan ngoko, menandai sikap defensif dan bahkan kasar terhadap sosok asing yang ia curigai. Setelah malaikat menyatakan identitasnya sebagai utusan Tuhan, Maryam beralih ke krama. Tanpa satu kalimat penjelasan pun, pembaca Jawa memahami bahwa telah terjadi pergeseran relasi: dari ancaman sosial menjadi otoritas ilahi.

Di titik ini, Pink menunjukkan keindahan sekaligus problem tafsir lokal: register bahasa menjadi penjelasan teologis yang tidak pernah diucapkan. Tafsir tidak hadir sebagai catatan kaki, tetapi sebagai rasa bahasa.

 

Lima Tafsir Jawa, Lima Dunia Sosial

Untuk memperlihatkan bahwa fenomena ini bukan kebetulan, Pink membandingkan lima karya tafsir Jawa yang lahir antara awal abad ke-20 hingga 1970-an. Kelima karya ini—mulai dari karya istana Surakarta, terjemahan Ahmadiyah, hingga kitab kuning pesantren—memperlihatkan spektrum yang luas tentang bagaimana Al-Qur’an “diceritakan ulang” dalam bahasa Jawa.

Dua hal penting muncul dari perbandingan ini.

Pertama, batas antara terjemahan dan tafsir menjadi kabur. Hampir semua penulis menyebut karya mereka tafsir, bukan terjemahan, dan itu bukan sekadar kehati-hatian teologis. Mereka memang tidak berniat menyajikan terjemahan literal. Yang mereka lakukan adalah menyampaikan makna Al-Qur’an dalam bentuk narasi yang koheren, hidup, dan bisa dibayangkan oleh pembaca Jawa. Dalam proses ini, ellipsis Qur’ani diisi, tokoh-tokoh diperjelas, emosi ditambahkan, dan hubungan sosial dipertegas.

Kedua, target pembaca sangat menentukan gaya tafsir. Tafsir yang ditujukan untuk pembaca literat kota menggunakan bahasa yang lebih formal dan berjarak. Tafsir pesantren—terutama karya Bisri Musthofa dan Misbah Mustafa—bersifat lisan, naratif, dan pedagogis. Di sini, Al-Qur’an tidak hanya dijelaskan, tetapi diceritakan, hampir seperti kisah wayang dengan tokoh-tokoh yang punya watak, emosi, dan posisi sosial yang jelas.

 

Misbah Mustafa dan Eksperimen Egalitarian

Salah satu temuan paling menarik Pink adalah posisi unik Misbah Mustafa, yang secara konsisten lebih memilih ngoko bahkan dalam situasi yang oleh penafsir lain dianggap menuntut krama. Ia membiarkan Musa berbicara ngoko kepada Firaun, Ibrahim kepada ayahnya yang kafir, bahkan perempuan kepada laki-laki tanpa bahasa hormat yang berlebihan.

Pink tidak memaksakan satu penjelasan tunggal, tetapi membuka kemungkinan bahwa pilihan ini mencerminkan kritik implisit terhadap hierarki sosial Jawa. Dalam tafsir Misbah, status religius (kenabian) lebih penting daripada status sosial, gender, atau usia. Bahasa menjadi sarana untuk menata ulang dunia, bukan sekadar mencerminkannya.

Dengan halus, Pink menunjukkan bahwa tafsir bisa menjadi ruang negosiasi nilai sosial, bahkan ketika tidak dimaksudkan sebagai kritik terbuka.

 

Ambiguitas Qur’ani yang Baru Terlihat dalam Bahasa Jawa

Salah satu kontribusi teoretis terkuat artikel ini adalah argumen bahwa bahasa target dapat menyingkap ambiguitas Al-Qur’an yang tidak terasa dalam bahasa Arab atau Inggris. Dalam banyak dialog Qur’ani, tidak jelas siapa berbicara kepada siapa, kapan ucapan berakhir, atau apakah sebuah kalimat adalah doa, monolog, atau dialog.

Dalam bahasa non-hierarkis, ambiguitas ini bisa dibiarkan. Dalam bahasa Jawa, ia harus diputuskan. Pilihan register secara otomatis memaksa penafsir untuk menentukan: (1) apakah seorang tokoh sedang berbicara kepada Tuhan atau kepada manusia, (2) apakah sebuah relasi bersifat formal, akrab, hierarkis, atau setara, dan (3) apakah perubahan sikap telah terjadi dalam sebuah adegan.

Dengan kata lain, bahasa Jawa memaksa tafsir menjadi eksplisit, dan justru karena itu membantu kita menyadari betapa terbukanya teks Qur’ani.

 

Imajinasi, Narasi, dan Pendidikan

Di bagian penutup, Pink mengajukan refleksi yang sangat penting bagi studi tafsir: tafsir—terutama tafsir lokal—tidak bisa dipahami hanya sebagai aktivitas akademik atau filologis. Ia juga adalah praktik imajinatif dan pedagogis. Dalam konteks pesantren Jawa, tafsir seperti al-Ibrīz bukan hanya menjelaskan ayat, tetapi membentuk cara santri membayangkan nabi, malaikat, perempuan, penguasa, dan Tuhan.

Register bahasa, pilihan kata, dan alur cerita menciptakan dunia Qur’ani yang terasa nyata dan sosial. Maryam bukan figur abstrak, tetapi perempuan Jawa yang sopan, terkejut, lalu tunduk. Malaikat bukan konsep metafisik, tetapi tamu asing yang perlahan menampakkan otoritas ilahinya.

 

 

Penutup

Melalui pembacaan yang sangat teliti, Johanna Pink menunjukkan bahwa tafsir Jawa bukanlah pinggiran dari studi Al-Qur’an, melainkan cermin yang tajam bagi teks itu sendiri. Bahasa Jawa, dengan sistem hierarkinya, memaksa penafsir mengambil keputusan sosial yang tidak pernah dinyatakan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Dari situlah kita belajar bahwa banyak hal yang kita anggap “alami” dalam pemahaman Qur’ani sesungguhnya adalah hasil negosiasi bahasa, budaya, dan imajinasi.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

1 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178