Membaca Johanna Pink: Terjemahan Al-Qur’an di Eropa Barat — antara Akademi, Pasar Buku, dan Komunitas Muslim

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 30 December 2025
Membaca Johanna Pink: Terjemahan Al-Qur’an di Eropa Barat — antara Akademi, Pasar Buku, dan Komunitas Muslim

Tulisan Johanna Pink (teks sumber: “Qurʾān translations into other West-European languages” dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online) mengajak pembaca melihat satu lanskap yang sering luput dari perhatian: terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa-bahasa Eropa Barat non-Inggris. Jika bahasa Inggris tampil sebagai pusat global, maka bahasa Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Spanyol, dan bahasa Skandinavia memperlihatkan dinamika yang lebih berlapis—dan justru karena itu lebih kompleks.

Pink membuka pembahasannya dengan satu pemetaan yang tajam. Dalam bahasa-bahasa Eropa Barat, setidaknya ada tiga tipe terjemahan Al-Qur’an yang hidup berdampingan dan sering saling tumpang tindih: (1) terjemahan akademik hasil kajian filologis, (2) terjemahan untuk pasar pembaca non-Muslim yang luas, dan (3) terjemahan yang ditujukan bagi kebutuhan religius Muslim yang mempraktikkan ibadah. Dari sini saja sudah tampak bahwa “terjemahan” bukan satu genre tunggal, melainkan simpul pertemuan antara ilmu, industri penerbitan, dan identitas keagamaan.

 

Warisan Orientalis yang Panjang Umurnya

Pink menegaskan bahwa abad ke-18 dan ke-19 meninggalkan jejak yang sangat kuat. Terjemahan Prancis karya Albert Kazimirski de Biberstein (1840), misalnya, tetap populer jauh memasuki abad ke-20, bahkan diterjemahkan ulang ke bahasa Italia. Ini menunjukkan bahwa “otoritas” terjemahan sering tidak lahir dari komunitas Muslim, melainkan dari reputasi akademik dan sirkulasi pasar buku Eropa.

Memasuki abad ke-20, ketika studi Arab dan Islam mengakar sebagai disiplin universitas, muncul terjemahan-terjemahan yang lebih sadar metodologi. Tokoh seperti Régis Blachère dan Angelika Neuwirth bereksperimen dengan susunan kronologis surah, sementara Rudi Paret memilih pendekatan filologis ketat yang menomorsatukan presisi, meski mengorbankan keindahan bahasa sasaran.

Namun, justru terjemahan yang paling “berhasil” secara luas adalah yang berusaha menyeimbangkan keterbacaan, ketepatan filologis, dan kesadaran historis—seperti karya Alessandro Bausani (Italia), Hartmut Bobzin (Jerman), dan Fred Leemhuis (Belanda). Ini mengisyaratkan bahwa keberhasilan terjemahan sering bergantung pada kompromi, bukan kemurnian satu pendekatan.

 

Pasar Buku dan “World Literature”

Faktor penting lain adalah industri penerbitan massal. Minat Eropa terhadap “sastra dunia” dan “agama-agama dunia” menciptakan ruang bagi Al-Qur’an untuk hadir sebagai teks klasik global. Penerbit seperti Reclam di Jerman atau Bibliothèque de la Pléiade di Prancis menerbitkan terjemahan Al-Qur’an berdampingan dengan karya sastra dunia lain.

Dalam konteks ini, target pembaca hampir sepenuhnya non-Muslim. Parateks—kata pengantar, catatan editor, dan iklan—menegaskan bahwa Al-Qur’an diposisikan sebagai objek pengetahuan budaya dan politik, terutama dalam konteks kolonial Eropa yang memerintah jutaan Muslim. Terjemahan menjadi sarana “mengenal Islam”, bukan sarana menjalani Islam.

 

Muslim Mulai Menerjemahkan: Koloni sebagai Ruang Awal

Ironisnya, Pink menunjukkan bahwa Muslim justru mulai menerjemahkan Al-Qur’an ke bahasa Eropa Barat di wilayah koloni, bukan di Eropa itu sendiri. Di Aljazair Prancis, terjemahan Muslim ke bahasa Prancis terbit sekitar 1931. Di Hindia Belanda, terjemahan Muslim ke bahasa Belanda muncul pada 1934—dan menariknya, merupakan adaptasi dari terjemahan Inggris oleh Muhammad Ali dari Lahore Ahmadiyya.

Peran Ahmadiyya tampak sangat menonjol: mereka juga menjadi pelopor terjemahan Muslim pertama ke bahasa Jerman dan Skandinavia. Di Eropa Utara dan Jerman, sasaran utamanya bukan Muslim migran, melainkan mualaf Eropa dan pencari spiritual. Dampak ini berbeda-beda: di Prancis dan Spanyol, pengaruh Ahmadiyya relatif kecil karena terjemahan Muslim baru muncul lebih lambat.

 

Migrasi, Masjid, dan Kelahiran Edisi Bilingual

Perubahan besar terjadi sejak 1970-an dan terutama 1990-an, seiring migrasi Muslim ke Eropa Barat dan berdirinya institusi keagamaan. Terjemahan mulai diarahkan secara eksplisit untuk praktik ibadah, ditandai dengan munculnya edisi bilingual Arab–Eropa.

Tokoh penting di sini adalah Muhammad Hamidullah, seorang Muslim India yang terjemahan Prancis-Arabnya menjadi sangat populer di kalangan Muslim Prancis. Model ini kemudian menyebar luas ke bahasa-bahasa Eropa lainnya, menandai pergeseran fungsi terjemahan: dari teks informatif menjadi alat keberagamaan sehari-hari.

 

Negara, Dakwah, dan Revisi Ideologis

Pink juga menyoroti peran penerbit transnasional berorientasi dakwah, baik milik negara maupun swasta: King Fahd Qur’an Printing Complex (Saudi), Diyanet Turki, pusat penerjemahan di Qom, hingga penerbit Salafi Eropa. Terjemahan lama direvisi, istilah diubah, catatan kaki ditambah—semua demi kesesuaian ideologis.

Kasus Jerman sangat ilustratif: terjemahan orientalis Max Henning direvisi oleh penerbit Turki dengan supervisi mualaf ternama Murad Wilfried Hofmann. Istilah Kristen dihilangkan, ayat-ayat sensitif diberi catatan apologetik, dan teks disajikan secara bilingual. Terjemahan yang sama berubah makna sosialnya: dari produk orientalisme menjadi instrumen identitas Muslim minoritas.

 

Batas yang Ada, tapi Tidak Pernah Tertutup

Pink menutup dengan satu observasi penting: ada batas jelas antara sektor penerbitan Muslim dan non-Muslim di Eropa Barat, tetapi batas itu selalu poros dan semakin cair. Muslim kini aktif di akademi Eropa; karya mereka terbit di penerbit arus utama. Sebaliknya, terjemahan non-Muslim tetap sulit diterima dalam konteks religius Muslim.

Pilihan linguistik pun sarat makna simbolik: Allah atau God, Nūḥ atau Noah, ṣalāt atau prayer. Setiap pilihan menandai posisi teologis dan kultural penerjemah—apakah ingin menekankan kedekatan Islam–Kristen, atau justru perbedaannya.

 

Terjemahan sebagai Jejak Sejarah Global

Yang paling kuat dari tulisan Pink adalah kesadarannya bahwa terjemahan Al-Qur’an di Eropa Barat tidak terbatas pada Eropa. Bahasa Prancis hidup di Afrika Barat, Spanyol dan Portugis di Amerika Latin. Karena itu, terjemahan yang lahir di Paris, Riyadh, atau Jakarta beredar jauh melampaui batas geografisnya, membentuk cara komunitas Muslim minoritas memahami teks suci mereka.

Dalam pembacaan ini, terjemahan Al-Qur’an tampil bukan sebagai hasil akhir, tetapi sebagai arsip hidup dari kolonialisme, migrasi, dakwah, dan negosiasi identitas di dunia modern.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178