Membaca Juan Eduardo Campo: Penguburan sebagai Ruang “Sunyi” dalam Teks, tetapi Padat Qur’an dalam Praktik
Entri Juan Eduardo Campo, “Burial,” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, menarik karena bertolak dari sebuah ketegangan yang jelas. Al-Qur’an relatif sedikit berbicara tentang tata cara penguburan, tetapi kehidupan ritual Muslim justru menempatkan ayat, tilawah, dan simbol Qur’ani di pusat pengalaman kematian. Campo tidak sedang menulis panduan fikih jenazah. Ia sedang menunjukkan bagaimana teks suci, hadis, hukum, etnografi, dan budaya material bertemu dalam peristiwa penguburan.
Kekuatan entri ini terletak pada cara Campo membaca penguburan bukan sebagai tema besar Qur’an, melainkan sebagai salah satu ruang tempat tradisi Islam bekerja paling aktif. Yang lahir bukan hanya aturan, tetapi juga suasana duka, harapan eskatologis, legitimasi ritual, dan estetika memorial yang semuanya dibungkus oleh bahasa Qur’ani.
Al-Qur’an dan Keterbatasan Pembahasan tentang Penguburan
Campo dengan jernih menegaskan bahwa Al-Qur’an lebih banyak berbicara tentang kematian, kebangkitan, keluarnya manusia dari kubur, dan hari penghakiman daripada tentang prosedur pemakaman itu sendiri. Penguburan muncul hanya dalam beberapa titik penting: manusia dikuburkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang ditetapkan Tuhan, kisah burung gagak yang mengajari salah satu anak Adam cara menguburkan saudaranya, serta larangan mendoakan kaum munafik dan berdiri di atas kubur mereka.
Pembacaan ini penting karena mengingatkan bahwa tidak semua praktik Islam yang sangat mapan memperoleh uraian rinci dari teks wahyu. Penguburan termasuk wilayah yang justru dibangun lebih jauh oleh hadis, fikih, dan kebiasaan sosial. Campo menangkap fakta itu tanpa memaksakan Qur’an berbicara lebih banyak daripada yang memang ada dalam teks.
Dari Wahyu ke Fikih
Setelah menandai kelangkaan data Qur’ani, Campo beralih ke bentuk ritual yang sudah dikenal luas dalam Islam: memandikan jenazah, mengafani, salat jenazah, dan penguburan segera dengan orientasi ke Kaʿbah. Yang penting, ia segera menempatkan semua itu dalam wilayah fikih dan praktik sosial, bukan sebagai rincian prosedural yang langsung berasal dari Al-Qur’an.
Pilihan ini membuat entri Campo terasa matang. Ia tidak menyederhanakan penguburan sebagai “sekadar adat,” tetapi juga tidak mengesankannya sebagai sistem yang seluruh bagiannya dirumuskan secara eksplisit oleh wahyu. Ada kerja tradisi yang panjang antara teks dan ritus. Hukum Islam, hadis, dan kebiasaan komunitas bersama-sama membentuk tata cara penguburan Muslim.
Kehadiran Al-Qur’an dalam Ritus Kematian
Bagian paling kuat dari entri ini tampak ketika Campo menunjukkan bahwa meskipun Al-Qur’an tidak merinci prosedur pemakaman, ia hadir secara sangat intens dalam seluruh peristiwa kematian. Surah Yā Sīn, al-Fātiḥah, ayat-ayat tertentu dari surah al-Ḥashr, dan surah-surah pendek lain dibaca demi pengampunan, ketenangan, syafaat, atau kemuliaan bagi orang yang wafat.
Campo berhasil memperlihatkan bahwa yang membuat penguburan Muslim sangat Qur’ani bukan terutama rincian teknisnya, melainkan saturasi ayat dan bacaan yang mengiringi setiap tahap: saat sakarat, ketika jenazah dimandikan, dalam salat jenazah, ketika tanah dilemparkan ke kubur, pada masa berkabung, dan dalam peringatan kematian. Al-Qur’an mengisi ruang emosional dan simbolik dari kematian, bukan hanya ruang normatifnya.
Talqīn, Khatma, dan Kesalehan Komunal
Campo juga mencatat praktik talqīn, yakni pengingatan kepada orang yang baru dikubur tentang jawaban yang harus ia berikan kepada malaikat, termasuk pengakuan bahwa Al-Qur’an adalah imam atau penuntunnya. Ia menyebut bahwa ritus ini diterima oleh banyak mazhab hukum. Selain itu, ia menyinggung pembacaan Qur’an secara lengkap selama masa berkabung, yang dalam banyak masyarakat Muslim menjadi bagian penting dari pengelolaan duka.
Dari uraian singkat itu tampak bahwa kematian dalam Islam tidak hanya dipahami sebagai peristiwa individual. Ia adalah momen yang menghimpun keluarga, tetangga, ulama, qari, dan masyarakat sekitar ke dalam satu tindakan kolektif: membaca, mendengar, dan menghadirkan Qur’an di sekeliling orang yang wafat. Campo memberi tekanan yang baik pada dimensi komunal ini.
Etnografi dan Variasi Lokal
Salah satu kelebihan entri ini ialah penggunaan etnografi untuk menyeimbangkan dominasi literatur hukum. Campo mencatat bahwa pembacaan Qur’an dalam penguburan hadir di Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Selatan, Asia Tenggara, sampai Amerika Utara. Bacaan bisa dilakukan oleh qari profesional, orang alim, keluarga, atau pelayat biasa. Tempatnya pun beragam: rumah duka, masjid, aula, dan makam.
Nilai bagian ini terletak pada pengakuan bahwa ritual kematian Muslim selalu hidup dalam bentuk-bentuk lokal. Campo tidak memaksa satu model universal yang kaku. Ia memberi ruang bagi kenyataan bahwa penguburan Islam merupakan praktik yang terstruktur oleh hukum, tetapi juga dibentuk oleh adat, suasana sosial, dan budaya duka masing-masing masyarakat.
Qur’an sebagai Benda dan Tulisan
Campo lalu bergerak ke aspek yang tidak kalah menarik: penggunaan Qur’an dalam bentuk material. Mushaf kadang diletakkan di dada jenazah atau dibawa dalam arak-arakan. Ayat dapat ditulis pada kain kafan. Batu nisan dan bangunan makam dipenuhi oleh kutipan ayat-ayat tertentu, terutama yang menekankan keesaan Tuhan, kefanaan hidup, pahala bagi syuhada, dan pengharapan akan kehidupan sesudah mati.
Contoh Taj Mahal yang ia sebut sangat penting dalam konteks ini. Campo memperlihatkan bahwa bangunan makam dalam Islam bukan hanya ruang duka, tetapi juga ruang visual Qur’ani. Ayat-ayat tidak sekadar dibaca; ayat-ayat dipahat, dihias, dipertontonkan, dan dijadikan bagian dari arsitektur memorial. Kematian menjadi salah satu momen paling padat bagi kehadiran Qur’an sebagai suara sekaligus tulisan.
Kontribusi Intelektual Campo
Sumbangan utama entri ini terletak pada keberhasilannya memperlihatkan satu paradoks penting: semakin sedikit Al-Qur’an mengatur penguburan secara rinci, semakin kaya tradisi Islam menghadirkan Al-Qur’an dalam ritus kematian. Campo membantu pembaca memahami bahwa hubungan antara teks dan praktik tidak selalu berupa penerapan langsung ayat ke tindakan. Sering kali yang bekerja adalah perluasan simbolik, pengisian ritual, dan pembentukan kebiasaan religius melalui hadis, fikih, etnografi, dan budaya lokal.
Campo juga layak diapresiasi karena berhasil mempertemukan beberapa medan sekaligus dalam ruang yang singkat: eskatologi Qur’ani, hukum janazah, bacaan devosional, praktik sosial, dan epigrafi makam. Untuk ukuran entri ensiklopedis yang pendek, cakupan ini cukup kaya.
Keterbatasan dan Catatan Kritis
Karena ringkas, entri ini lebih berupa peta daripada analisis mendalam. Campo menyebut ayat-ayat yang umum dipakai dalam ritus kematian, tetapi tidak menjelaskan lebih jauh mengapa ayat tertentu menjadi dominan, bagaimana preferensi itu berubah dari satu kawasan ke kawasan lain, atau bagaimana perbedaan mazhab membentuk variasi pemaknaan terhadap praktik tersebut.
Bagian etnografinya juga membuka kemungkinan besar, tetapi hanya sempat memberi gambaran umum. Perbedaan antara dunia Arab, Persia, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan diaspora Muslim belum ditelusuri lebih tajam. Ketegangan antara praktik populer—seperti bangunan makam dan inskripsi ayat—dan kritik para fuqaha pun baru disentuh sepintas. Padahal, persoalan bidʿah, otoritas, dan kesalehan populer merupakan salah satu simpul paling menarik dalam sejarah ritual kematian Islam.
Penutup
Campo menunjukkan bahwa penguburan dalam Islam bukanlah bidang yang dipenuhi rincian tekstual dari Al-Qur’an, tetapi justru salah satu ruang tempat tradisi Muslim paling intens menanamkan Al-Qur’an ke dalam kehidupan. Bacaan pada saat sakarat, salat jenazah, talqīn, khatma, ayat pada kain kafan, batu nisan, dan mausoleum memperlihatkan bagaimana kematian dikelilingi oleh bahasa wahyu.
Itulah nilai utama entri ini. Penguburan dibaca bukan hanya sebagai ritus pembuangan tubuh setelah mati, tetapi sebagai arena tempat Qur’an hadir dalam suara, tulisan, simbol, dan harapan. Campo berhasil menunjukkan bahwa kematian dalam Islam adalah salah satu momen ketika teks suci paling terasa hidup di tengah masyarakat.