Membaca Kamran Ahmad Khan: Terjemahan Al-Qur’an Ahmadiyya—Misi, Prestise, dan “Rasionalisasi” sebagai Strategi Global
Tulisan Kamran Ahmad Khan (teks sumber: “Ahmadiyya Qurʾān translations”, dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), menempatkan Ahmadiyya bukan sekadar sebagai salah satu aktor dalam sejarah terjemahan Al-Qur’an, tetapi sebagai pengubah permainan: gerakan Islam modern pertama yang secara sistematis memproduksi terjemahan ke berbagai bahasa Eropa sejak awal abad ke-20. Namun, keunggulan Ahmadiyya di sini tidak hanya terletak pada “lebih dulu menerjemahkan”, melainkan pada cara terjemahan dijadikan teknologi misi—dan sekaligus medan legitimasi di tengah tuduhan heresi dari banyak kalangan Muslim.
Dari paragraf awal, Khan memperlihatkan bahwa “membuat Al-Qur’an dapat dipahami pembaca Eropa” hampir sebaya dengan kelahiran gerakan itu sendiri. Bahkan niat Ghulām Aḥmad (1890/1891) untuk menulis tafsir dan menerjemahkannya ke Inggris diproyeksikan langsung untuk proselytising. Di sini, terjemahan tidak tampil sebagai kegiatan filologis belaka, melainkan sebagai taktik dalam arena kolonial-modern: menjawab sirkulasi terjemahan orientalis yang dinilai bias, sekaligus membangun otoritas alternatif yang “Muslim” di hadapan publik Eropa.
Terjemahan sebagai Proyek Otoritas—dan Rapuhnya Jaringan Internal
Khan tidak membangun narasi yang mulus. Upaya pertama yang tampak sukses—terjemahan Inggris Abdul Hakim Khan (1905), bahkan disebut sebagai terjemahan Inggris pertama oleh sarjana Muslim—justru segera kehilangan fungsi gerakan karena penerjemahnya di-ekskomunikasi. Episode ini memperlihatkan satu kenyataan struktural: dalam gerakan yang sedang membentuk identitas, terjemahan adalah proyek institusional; ketika institusi memutus seseorang, teks pun “dikeluarkan” dari sirkuit misi.
Kebalikan dari itu tampak pada figur Nūr al-Dīn. Ia digambarkan sebagai “mesin” penerjemahan Ahmadiyya: bukan karena ia menulis semua terjemahan, tetapi karena tradisi kuliah harian tafsirnya melahirkan ekosistem murid-penerjemah (Urdu dan Inggris) dalam jumlah besar. Di titik ini, terjemahan muncul sebagai produksi kolektif: hasil dari pedagogy-in-motion, bukan sekadar kerja individual.
1914 sebagai Titik Pecah: Dua Cabang, Dua Rezim Prestise
Momentum yang paling menentukan dalam narasi Khan adalah pecahnya Ahmadiyya pasca-wafatnya Nūr al-Dīn (1914) yang melahirkan dua cabang: Lahore dan Qadian (Jamaat). Menariknya, rivalitas ini tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga bersifat bibliografis: jumlah bahasa, kualitas terjemahan, dan daya sebar menjadi ukuran prestise—dan prestise menjadi argumen legitimasi tentang “siapa pewaris sah Ghulām Aḥmad”.
Dalam konteks ini, terjemahan Muhammad Ali (The Holy Quran, 1917) tampil sebagai artefak yang melakukan dua hal sekaligus: (1) Ia disusun untuk pembaca Barat terdidik dan mualaf berbahasa Inggris (misi Eropa, misalnya melalui Woking Mosque), dan (2) Ia menjadi standar desain modern: pembagian surah ke sub-bab, pengantar per surah, dan tata letak kolom paralel Arab–Inggris.
Di sini Khan diam-diam menunjukkan bahwa “modernitas terjemahan” bukan hanya isi, tetapi juga arsitektur buku—dan format kolom paralel menjadi semacam inovasi yang ditiru luas oleh penerbit lain.
“Rasional” sebagai Gaya Tafsir: Daya Tarik dan Efek Domino
Khan menegaskan paradoks yang produktif: meski Ahmadiyya dipandang problematis oleh banyak ulama, terjemahan Muhammad Ali justru menuai apresiasi di kalangan terdidik yang terpapar pendidikan Barat. Lebih jauh, pengaruhnya merembes keluar: Pickthall, Yusuf Ali, dan Ghulam Sarwar disebut terinspirasi dan memuji Ali. Dengan ini, Khan memperlihatkan bahwa terjemahan Ahmadiyya bekerja seperti virus intelektual: ia menyebar bukan hanya lewat jaringan Ahmadi, tetapi juga lewat pengakuan lintas-kelompok yang menciptakan efek legitimasi kultural.
Yang membuat “rasional” menarik adalah bahwa ia menawarkan Qur’an yang kompatibel dengan nalar modern: mukjizat dan kisah kenabian dibaca sesuai hukum alam. Contoh Q 27 (Naml) yang ditafsirkan sebagai nama suku/pejabat alih-alih semut dan hudhud memperlihatkan cara “rasionalisasi” masuk ke level pilihan leksikal: terjemahan menjadi kendaraan tafsir—dan tafsir ditanamkan sebagai keputusan bahasa.
Jejak Global yang Tidak Selalu Sadar: Dari Indonesia ke Bosnia hingga Afrikaans
Bagian paling menarik dari tulisan Khan adalah pemetaan sirkulasi lintas-bahasa yang kadang bersifat tak disengaja. Ali bukan hanya dijadikan blueprint oleh Lahore untuk banyak bahasa; ia juga masuk ke bahasa lain melalui rantai perantara: Inggris → Turki (Doğrul) → Bosnia; atau Inggris → Belanda (Soedewo) → Afrikaans. Di sini, “asal-usul” Ahmadi bisa tertutup oleh lapisan translasi berantai: sebuah teks dapat menjadi Ahmadi tanpa diketahui oleh pengguna akhirnya.
Contoh Indonesia memperjelas bahwa pengaruh Ali juga memicu kontroversi teologis yang melampaui Asia Tenggara: rencana Tjokroaminoto berbasis Ali memantik polemik hingga ke Mesir dan memunculkan fatwa Rashīd Riḍā tentang kebolehan terjemahan. Ini memberi dua pesan penting: (1) jaringan perdebatan Muslim awal abad ke-20 sangat terhubung; (2) terjemahan Ahmadiyya memaksa dunia Muslim mendiskusikan ulang batas “boleh/tidak boleh” penerjemahan Al-Qur’an.
Qadian Menyusul: Menolak Ali, Membangun Kanon Sendiri
Setelah Perang Dunia II, narasi bergeser: Qadian (Jamaat) mengambil alih dominasi. Menariknya, mereka menolak memakai Ali bukan karena tidak berguna, tetapi karena kompetisi internal: memakai Ali berarti mempromosikan rival. Maka terjemahan Sher Ali (selesai sekitar 1945, terbit 1955) menjadi upaya membangun kanon sendiri, dilengkapi proyek tafsir/komentar multi-volume.
Di tahap ini terjemahan berubah menjadi infrastruktur imperial misi: bahasa-bahasa Eropa dan non-Eropa diproduksi untuk reaktivasi misi pasca-perang. Angka “lebih dari 70 bahasa” yang disebutkan menunjukkan bahwa terjemahan bukan lagi produk satu komunitas kecil, tetapi sudah menjadi program institusional global dengan logika ekspansi.
Penanda Identitas dalam Detail: Basmallah, Kolom, dan Doktrin Isa
Khan menutup dengan menunjukkan bahwa terjemahan Ahmadiyya membawa “sidik jari” doktrinal yang bisa dikenali pada tingkat mikro: (1) basmallah dihitung sebagai ayat pertama di hampir semua surah, (2) format kolom paralel Arab–terjemahan, dan (3) yang paling kontroversial, doktrin bahwa Isa wafat secara natural (tercermin dalam Q 3:55 dan 4:157–8).
Di sini tampak bahwa perdebatan atas Ahmadiyya sering tidak berangkat dari teori terjemahan, tetapi dari titik-titik “panas” teologi. Terjemahan menjadi arena karena ia memaku tafsir sebagai keputusan bahasa yang bisa dibaca massa.
Penutup
Membaca Khan, terjemahan Ahmadiyya tampak sebagai sejarah tentang misi yang mengglobal melalui medium bahasa, tetapi juga tentang kompetisi legitimasi—baik vis-à-vis orientalis di Eropa, maupun vis-à-vis sesama Muslim yang menolak klaim teologis gerakan. Muhammad Ali memperlihatkan bagaimana terjemahan dapat menjadi model modern (format, pengantar, audiens), sementara Qadian menunjukkan bagaimana terjemahan bisa dipakai sebagai alat membangun kanon internal dan prestise institusional.
Pada akhirnya, kontribusi terbesar Ahmadiyya dalam narasi ini bukan hanya jumlah terjemahan yang mereka hasilkan, melainkan efek ganda yang mereka timbulkan: (1) mendorong proliferasi terjemahan dan counter-translation di berbagai bahasa; (2) memaksa diskursus Muslim abad ke-20 untuk serius membahas terjemahan Al-Qur’an sebagai medan otoritas, bukan sekadar teknik alih bahasa.