Membaca Karya Johanna Pink: Terjemahan Al-Qur’an, Tafsir, dan Politik Bahasa*

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 27 December 2025
Membaca Karya Johanna Pink: Terjemahan Al-Qur’an, Tafsir, dan Politik Bahasa*

Ketika kita berbicara tentang terjemahan Al-Qur’an, sering kali yang terbayang adalah sebuah buku: teks Arab di satu sisi, bahasa lokal di sisi lain. Namun, melalui tulisannya tentang sejarah, konsep, dan terminologi terjemahan Al-Qur’an (teks sumber: “History, concept and terminology” dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), Johanna Pink mengajak pembaca keluar dari bayangan sederhana itu. Ia menunjukkan bahwa terjemahan Al-Qur’an, dalam sejarah Muslim, adalah praktik yang jauh lebih kompleks, cair, dan sarat makna sosial.

Tulisan Pink bukan sekadar ringkasan sejarah. Ia adalah upaya untuk mengubah cara kita memahami apa itu terjemahan—dan mengapa istilah ini sendiri sering diperdebatkan dalam dunia Islam.

 

Terjemahan bukan sekadar “alih bahasa”

Salah satu gagasan utama Pink adalah bahwa terjemahan Al-Qur’an tidak bisa dipersempit menjadi pemindahan kata demi kata dari bahasa Arab ke bahasa lain. Dalam sejarah Muslim, praktik yang hari ini kita sebut “terjemahan” sering hadir dalam bentuk lain: terjemahan antarbaris, parafrase, tafsir ringkas, atau penjelasan yang disisipkan ke dalam teks keagamaan lain.

Bagi Pink, semua ini tetap layak disebut bagian dari dunia terjemahan, karena tujuannya sama: membantu pembaca memahami pesan Al-Qur’an. Dengan pendekatan ini, ia menantang cara pandang modern yang cenderung menganggap terjemahan hanya sah jika berbentuk buku yang berdiri sendiri.

 

Muslim dan non-Muslim: dua tradisi yang berbeda

Pink juga membuat perbandingan menarik antara tradisi penerjemahan Al-Qur’an di kalangan non-Muslim Eropa dan di kalangan Muslim. Dalam tradisi Eropa, terjemahan sering disusun sebagai teks mandiri, dengan penerjemah “menghilang” di balik teks. Sebaliknya, dalam tradisi Muslim, terjemahan hampir selalu bersanding dengan teks Arab dan diarahkan untuk kepentingan pengajaran.

Di sini, terjemahan tidak dimaksudkan untuk menggantikan Al-Qur’an Arab, melainkan untuk menjembatani pemahaman—sebuah perbedaan tujuan yang berdampak besar pada bentuk dan gaya teks. Kita mulai memahami mengapa banyak karya yang tampak seperti “tafsir” sesungguhnya berfungsi sebagai terjemahan pedagogis.

 

Mengapa terjemahan tidak pernah menjadi “Al-Qur’an”

Pink mengingatkan bahwa sejak awal, umat Islam bergulat dengan pertanyaan teologis: apakah Al-Qur’an boleh diterjemahkan? Perdebatan ini berkaitan erat dengan praktik ibadah, tilawah, dan keyakinan akan kemukjizatan bahasa Al-Qur’an.

Solusi historis yang muncul bukanlah pelarangan total, melainkan pembedaan status. Terjemahan diberi tempat terhormat sebagai sarana memahami makna, tetapi tidak digunakan dalam salat, ritual, atau tilawah publik. Dengan kata lain, terjemahan itu penting—namun ia bukan Al-Qur’an itu sendiri.

 

Tafsir atau terjemahan? Soal istilah ternyata soal sikap

Bagian paling reflektif dari tulisan Pink adalah pembahasannya tentang istilah. Dalam banyak konteks Muslim, kata tarjama (terjemahan) dan tafsir (penjelasan) digunakan secara tidak konsisten. Bahkan, kadang-kadang pilihan istilah ditentukan oleh pertimbangan teologis, bukan isi teks.

Sebuah karya bisa disebut “tafsir” meskipun hampir tidak memberi komentar, sekadar untuk menegaskan bahwa penulisnya tidak mengklaim otoritas setara dengan wahyu. Di sini, istilah bukan sekadar label, tetapi sikap: sikap kehati-hatian, kerendahan klaim, dan kesadaran batas manusia di hadapan teks suci.

 

Polemik abad ke-20 dan warisannya hari ini

Pink juga menyoroti gelombang penolakan terhadap terjemahan Al-Qur’an pada awal abad ke-20, terutama di dunia Ottoman, Mesir, dan wilayah yang terhubung dengannya. Ketakutan terhadap nasionalisme bahasa, misi Kristen, hingga tafsir “liar” di kalangan awam, membuat terjemahan Al-Qur’an menjadi isu sensitif.

Walaupun penolakan ini akhirnya mereda, warisannya masih terasa: banyak penerjemah Muslim hingga hari ini enggan menyebut karyanya sebagai “terjemahan Al-Qur’an”, dan lebih memilih gaya yang bersifat penjelasan atau tafsir.

 

Mengapa karya Pink penting dibaca hari ini

Kekuatan utama tulisan Johanna Pink terletak pada kemampuannya membuka mata pembaca bahwa terjemahan Al-Qur’an bukan hanya soal bahasa, tetapi juga soal otoritas, pendidikan, identitas, dan relasi kuasa. Ia membantu kita melihat bahwa di balik setiap teks terjemahan, ada konteks sosial, ketegangan teologis, dan kebutuhan komunitas tertentu.

Bagi pembaca umum, karya ini memperkaya cara pandang kita terhadap Al-Qur’an dalam bahasa lokal. Bagi peneliti dan pegiat literasi keislaman, Pink menawarkan kerangka yang jernih untuk memahami mengapa tradisi tafsir dan terjemahan di dunia Muslim—termasuk di Nusantara—begitu beragam dan sulit dikotakkan.

Membaca Pink adalah belajar untuk lebih sabar terhadap kompleksitas. Ia tidak menawarkan definisi final tentang “terjemahan Al-Qur’an”, tetapi justru menunjukkan mengapa definisi itu selalu diperdebatkan. Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terpentingnya: bahwa dalam tradisi Islam, memahami Al-Qur’an selalu menjadi proses dialog—antara bahasa, iman, dan sejarah.

 

 

*Tulisan ini adalah review terhadap karya Johanna Pink yang berjudul Translations of the Qurʾān [2025]: History, concept and terminology

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178