Membaca Lameen Souag: Terjemahan Al-Qur’an di Afrika Barat Laut—Antara Oralisme, Purisme, dan Politik Identitas
Tulisan Lameen Souag tentang terjemahan Al-Qur’an di Afrika Barat Laut (teks sumber: “Qurʾān translations in Northwest Africa” dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), menggeser perhatian kita dari pusat-pusat klasik kajian Al-Qur’an ke sebuah ruang yang sering dipahami sebagai “pinggiran linguistik”: dunia Amazigh (Berber) yang hidup berdampingan dengan Arab dialektal. Namun, seperti ditunjukkan Souag, persoalan utama di kawasan ini bukan sekadar apakah Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Berber, melainkan bagaimana, kapan, dan dengan beban ideologis apa penerjemahan itu dipraktikkan.
Sejak awal, teks ini menolak asumsi linier bahwa Islamisasi otomatis menghasilkan tradisi terjemahan Al-Qur’an. Islam memang hadir di Afrika Barat Laut sejak abad pertama Hijriah, dan bahasa Berber digunakan secara luas dalam pengajaran agama. Tetapi Souag dengan tegas menekankan ketiadaan bukti terjemahan Al-Qur’an tertulis hingga periode yang jauh lebih akhir. Dengan demikian, bahasa vernakular di sini lama berfungsi sebagai medium pedagogis lisan, bukan sebagai bahasa wahyu yang dituliskan ulang.
Oralisme yang Dominan dan Keterbatasan Manuskrip
Salah satu kontribusi penting Souag adalah penekanannya pada kesenjangan antara praktik lisan dan bukti tertulis. Fragmen-fragmen manuskrip Tashelḥiyt—seperti terjemahan penuh Sūrat al-Fātiḥa yang dikaitkan dengan Muḥammad b. Saʿīd al-Mīraghtī—menunjukkan bahwa penerjemahan memang pernah dilakukan. Namun, kelangkaannya justru menguatkan kesimpulan bahwa praktik tersebut bersifat marginal dan kemungkinan besar berlangsung terutama secara oral.
Di sini, fatwa al-Ḥasan al-Yūsī pada abad ke-11/17 menjadi titik penting. Dengan mensyaratkan niat yang benar dan kompetensi ilmiah, al-Yūsī memberikan legitimasi terbatas terhadap tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Berber. Akan tetapi, legitimasi ini tidak serta-merta melahirkan tradisi tekstual yang mapan. Berbeda dengan kawasan lain yang mengalami ledakan manuskrip tafsir vernakular, Afrika Barat Laut tampak mempertahankan jarak antara otoritas teks Arab dan praktik penjelasan lokal.
Cetak yang Datang Terlambat—dan Tidak Netral
Menariknya, ketika teknologi cetak berkembang di Afrika Utara pada abad ke-13/19, ia justru tidak mendorong terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Amazigh. Fakta ini membedakan kawasan ini dari banyak wilayah Muslim lain, di mana cetak sering menjadi katalis vernakularisasi. Bagi Souag, keterlambatan ini tidak bersifat teknis, melainkan ideologis: bahasa Arab tetap diposisikan sebagai penanda ortodoksi, sementara bahasa Berber dipertahankan dalam domain lisan dan lokal.
Barulah pada akhir abad ke-20, seiring menguatnya gerakan identitas Amazigh, terjemahan Al-Qur’an mulai diproduksi secara serius. Namun, terjemahan-terjemahan awal ini—seperti karya Naït-Zerrad—lebih mencerminkan proyek linguistik daripada proyek religius. Di sini, Al-Qur’an menjadi medan eksperimen purisme bahasa: usaha membersihkan Tamazight dari serapan Arab sering kali mengorbankan keterpahaman.
Purisme vs. Keterpahaman: Ketegangan Internal Terjemahan Modern
Ketegangan antara purisme dan keterpahaman menjadi benang merah dalam fase modern yang digambarkan Souag. Terjemahan lengkap Tashelḥiyt oleh Jouhadi, meskipun secara simbolik menghubungkan diri dengan tradisi klasik melalui rujukan kepada al-Yūsī dan qirāʾa Warsh, secara terbuka mengakui keterbatasannya: bahkan penutur Amazigh sendiri kesulitan memahaminya. Di sini, bahasa vernakular tidak otomatis berarti bahasa yang “dekat” dengan pembaca.
Sebaliknya, terjemahan Kabyle oleh At Menṣur mengambil jalur yang lebih pragmatis, mempertahankan kosakata Arab yang sudah mapan. Perbedaan strategi ini menunjukkan bahwa terjemahan Al-Qur’an di Afrika Barat Laut bukan hanya soal kesetiaan pada teks sumber, tetapi juga soal posisi ideologis terhadap bahasa Arab dan Islam.
Negara, Otoritas Keagamaan, dan Reintegrasi Bahasa
Tahap paling mutakhir yang dicatat Souag memperlihatkan masuknya negara dan lembaga keagamaan resmi ke dalam arena terjemahan. Proyek-proyek yang didukung pemerintah—baik di Aljazair maupun Maroko—secara eksplisit menolak neologisme puristik dan justru menegaskan keterikatan bahasa Amazigh dengan kosmologi Islam melalui penggunaan kosakata Arab dan aksara Arab.
Pilihan ortografis ini bersifat politis: ia berfungsi sebagai “pertahanan” terhadap upaya memisahkan identitas Amazigh dari Islam. Dalam konteks ini, terjemahan Al-Qur’an tidak lagi semata proyek filologis atau pedagogis, tetapi instrumen penataan identitas nasional dan religius.
Penutup
Melalui paparan yang ringkas tetapi tajam, Souag menunjukkan bahwa sejarah terjemahan Al-Qur’an di Afrika Barat Laut ditandai oleh ketiadaan yang bermakna: ketiadaan tradisi tertulis awal, ketiadaan dorongan cetak abad ke-19, dan keterlambatan terjemahan lengkap hingga era politik identitas modern. Ketika terjemahan akhirnya muncul, ia hadir dalam medan tarik-menarik antara purisme linguistik, keterpahaman religius, dan kontrol institusional.
Dengan demikian, kasus Amazigh menantang narasi umum tentang vernakularisasi Al-Qur’an. Ia memperlihatkan bahwa bahasa lokal tidak selalu bergerak dari pinggir ke pusat secara gradual; kadang ia justru lama dipertahankan di wilayah lisan, lalu “dipanggil” ke ranah teks ketika bahasa itu menjadi simbol politik. Dalam konteks ini, terjemahan Al-Qur’an bukan hanya soal memindahkan makna wahyu, tetapi juga tentang siapa yang berhak mendefinisikan hubungan antara bahasa, agama, dan identitas.