Membaca Majid Daneshgar: Maurice Bucaille dan Lahirnya Otoritas “Saintifik” dalam Tafsir Modern
Entri Majid Daneshgar, “Bucaille, Maurice,” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, penting karena ia tidak menempatkan Maurice Bucaille sekadar sebagai dokter Prancis yang menulis buku populer tentang Qur’an dan sains. Daneshgar membacanya sebagai figur yang ikut mengubah lanskap tafsir modern: dari pembelaan umum atas wahyu menuju klaim yang jauh lebih spesifik, yakni bahwa Al-Qur’an mengandung fakta-fakta ilmiah yang baru bisa dipahami secara benar oleh ilmu pengetahuan modern. Titik berangkat seluruh kisah ini adalah La Bible, le Coran et la science, terbit pertama kali pada 1976 oleh Seghers, yang kemudian beredar luas dan diperlakukan sebagai karya pemicu bagi gelombang pembacaan “ilmiah” atas Qur’an.
Yang membuat entri ini menarik adalah sudut bacanya. Daneshgar tidak hanya merangkum biografi Bucaille atau isi bukunya. Ia berusaha menunjukkan bahwa Bucaille adalah peristiwa intelektual: seseorang yang membantu memberi bentuk baru bagi iʿjāz ʿilmī, yakni gagasan bahwa kemukjizatan Qur’an terletak pada kesesuaiannya dengan sains modern. Stefano Bigliardi, yang secara khusus mengkaji Bucaille dan wacana “scientific miracle,” juga membaca kontribusinya persis dalam arah ini: Bucaille adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam diskursus Islam dan sains modern.
Bucaille sebagai Figur Katalitik, Bukan Sekadar Penulis
Kekuatan utama entri Daneshgar terletak pada caranya memindahkan perhatian dari tokoh ke efek. Bucaille memang penting sebagai individu—dokter, pembaca teks suci, pembanding Bible dan Qur’an—tetapi yang lebih penting bagi Daneshgar adalah bagaimana karyanya menjadi alat legitimasi baru bagi banyak Muslim modern. Setelah terbit, buku Bucaille tidak berhenti sebagai bacaan pribadi. Ia menjadi perangkat dakwah, sumber inspirasi penelitian, amunisi apologetik, dan titik rujuk bagi para penulis yang ingin menunjukkan bahwa Qur’an bukan hanya benar secara teologis, tetapi juga unggul secara saintifik. Entri Brill itu sendiri menegaskan dampak global bukunya terhadap apolog, saintis, dan para pembaca yang kembali masuk ke wilayah tafsir Qur’an melalui kacamata sains.
Bacaan seperti ini sangat penting secara historiografis. Daneshgar pada dasarnya memperlihatkan bahwa sejarah tafsir modern tidak hanya dibentuk oleh ulama madrasah, mufasir akademik, atau pembaru internal Islam. Seorang dokter Eropa pun bisa menjadi sangat menentukan bila ia berhasil menawarkan model baru untuk membaca wahyu. Itu sebabnya Bucaille dalam entri ini tampil bukan sebagai anomali, tetapi sebagai salah satu figur kunci dalam pergeseran otoritas tafsir pada abad ke-20.
Arsitektur Argumen Bucaille: Meruntuhkan Bibel, Menaikkan Qur’an
Daneshgar menunjukkan bahwa proyek Bucaille dibangun di atas strategi perbandingan yang sangat jelas. Pertama, Bibel diperiksa dengan ukuran ilmu pengetahuan modern lalu dinyatakan penuh masalah: anomali historis, kontradiksi, dan ketidakakuratan saintifik. Kedua, Qur’an dibaca dengan ukuran yang sama, lalu dinyatakan bersih dari cacat-cacat semacam itu. Pola ini membuat karyanya sangat efektif dalam konteks apologetik. Qur’an tidak hanya dibela dari serangan modernitas; ia justru ditampilkan sebagai kitab yang telah lebih dulu memuat pengetahuan yang baru ditemukan sains. Gambaran umum ini sejalan dengan pembacaan Bigliardi, yang menilai bahwa Bucaille membangun sebuah diskursus berpengaruh tentang keilahian Qur’an melalui perbandingan ayat-ayat tertentu dengan apa yang ia sebut data saintifik.
Di sinilah kecerdasan Daneshgar tampak. Ia tidak sekadar mengulang klaim Bucaille, tetapi memperlihatkan logika internalnya. Qur’an dibela bukan hanya dengan dalil keagamaan, melainkan dengan cara menempatkannya dalam arena persaingan kebenaran modern. Bucaille berbicara kepada pembaca Muslim yang hidup dalam dunia ketika sains telah menjadi bahasa otoritas tertinggi. Maka, untuk membuktikan Qur’an, ia memilih tidak berangkat dari sanad, qirāʾāt, atau balāgha, tetapi dari embriologi, fisiologi, geografi, dan sejarah alam.
“Terjemahan Ilmiah” dan Perebutan Otoritas atas Makna
Salah satu bagian paling tajam dalam entri Daneshgar adalah pembahasan tentang apa yang bisa disebut sebagai “terjemahan ilmiah”. Bucaille tidak puas hanya mengatakan bahwa Qur’an sesuai dengan sains. Ia melangkah lebih jauh: ia menilai banyak terjemahan lama salah karena para penerjemah tidak memahami ilmu modern. Dalam entri Brill, Daneshgar bahkan mencontohkan klaim Bucaille bahwa terjemahan umum atas Q 96:2 keliru dan harus diganti dengan bentuk yang menurutnya lebih sesuai secara saintifik, seperti “who fashioned man from something that clings.” Itu memperlihatkan bahwa bagi Bucaille, sains bukan sekadar alat bantu tafsir; sains menjadi hakim atas makna leksikal.
Ini poin yang sangat penting. Daneshgar berhasil menunjukkan bahwa Bucaille sedang merebut otoritas penafsiran dari mufasir tradisional dan ahli bahasa, lalu memindahkannya ke tangan ilmuwan modern. Artinya, yang dipertaruhkan bukan sekadar makna satu-dua ayat embriologi. Yang dipertaruhkan adalah pertanyaan: siapa yang paling berhak menerjemahkan Qur’an? Dalam model Bucaille, jawaban atas pertanyaan itu bukan lagi terutama ahli tafsir, melainkan orang yang menguasai fisiologi, embriologi, atau ilmu alam lain.
Dari Ẓāhir ke “Bāṭin” Saintifik
Daneshgar juga cermat ketika membahas klaim Bucaille tentang tafsir. Bucaille berpendapat bahwa para mufasir terdahulu memang dapat memahami sisi lahiriah ayat, tetapi perkembangan ilmu pengetahuan modern membuat manusia masa kini sanggup menyingkap lapisan yang lebih dalam. Di sini, istilah ẓāhir dan bāṭin memperoleh makna yang sangat baru. Bāṭin bukan lagi wilayah mistik atau kedalaman spiritual seperti yang sering dibayangkan dalam tradisi sufi, tetapi kedalaman ilmiah yang baru terbuka setelah kemajuan biologi, morfologi, dan ilmu pengetahuan lain.
Pembacaan Daneshgar pada titik ini sangat kuat. Ia memperlihatkan bagaimana Bucaille meminjam bahasa tradisional Islam, lalu mengisi ulang maknanya dengan perangkat modern. Tafsir tidak dibatalkan, tetapi direstrukturisasi. Masa lalu tidak sepenuhnya ditolak, tetapi ditempatkan sebagai tahap awal yang kini perlu dilampaui oleh pengetahuan saintifik. Ini salah satu alasan mengapa Bucaille bisa begitu berpengaruh: ia tidak berbicara sebagai penentang agama, tetapi sebagai orang yang mengaku sedang membuka kedalaman Qur’an yang sebelumnya belum tersedia bagi umat.
Daneshgar dan Kritik atas Kerapuhan Metode Bucaille
Yang membuat entri ini berharga bukan hanya karena menjelaskan daya tarik Bucaille, tetapi juga karena memperlihatkan titik lemahnya. Daneshgar merangkum berbagai kritik dengan cukup jelas. Masalah utamanya terletak pada anggapan bahwa “sains” dapat berfungsi sebagai ukuran tetap untuk menguji teks suci, padahal sains sendiri adalah medan yang berubah dan diperdebatkan. Kritik semacam ini juga tampak dalam perdebatan yang lebih luas tentang iʿjāz ʿilmī: jika mukjizat Qur’an diikat terlalu erat pada teori saintifik tertentu, maka pembelaan itu menjadi rentan setiap kali ilmu bergerak atau istilah teknis direvisi. Bigliardi juga menilai bahwa “scientific miracle of the Qur’an” perlu dipetakan dan dikritisi sebagai sebuah tren eksegetik tersendiri, bukan diterima begitu saja sebagai hasil bacaan netral.
Daneshgar juga menunjukkan bahwa keberatan terhadap Bucaille tidak datang hanya dari sarjana Kristen atau pengkritik agama. Dari dalam dunia Muslim sendiri, sudah ada suara-suara yang lebih awal atau sezaman yang tidak nyaman dengan harmonisasi gegabah antara Qur’an dan sains. Itu penting, karena membuat entri ini tidak jatuh pada narasi sederhana “Bucaille diserang pihak luar.” Yang tampak justru adalah bahwa proyek Bucaille sejak awal berada di tengah perdebatan internal dan eksternal tentang batas tafsir, makna sains, dan cara membaca wahyu.
Warisan Bucaille: Dari Buku ke Gerakan
Salah satu bagian terbaik dari entri ini ialah penjelasan tentang warisan Bucaille. Daneshgar tidak berhenti pada buku 1976, tetapi menelusuri bagaimana gagasannya diteruskan oleh nama-nama seperti Keith L. Moore, al-Zindānī, Zakir Naik, dan Hamza Andreas Tzortzis. Artikel Keith L. Moore tahun 1986 tentang embriologi Qur’an menunjukkan bahwa sesudah Bucaille, medan “Qur’an dan sains” benar-benar berkembang menjadi jaringan penulis, konferensi, video, dan materi dakwah yang luas.
Di sini Daneshgar sangat tajam. Ia memperlihatkan bahwa Bucaille bukan hanya tokoh, melainkan asal mula gaya argumentasi yang kemudian menjadi sangat populer: mengutip ayat, memberi terjemahan yang disesuaikan, lalu menyandingkannya dengan penemuan modern untuk membuktikan asal-usul ilahi Qur’an. Gaya ini lalu diproduksi ulang di universitas, masjid, lembaga dakwah, televisi, dan internet. Bahkan ketika detail-detailnya berubah, bentuk dasarnya tetap Bucaillean.
Kontribusi Intelektual Daneshgar
Sumbangan terbesar entri ini terletak pada keberhasilannya menempatkan Bucaille dalam sejarah tafsir, bukan sekadar dalam sejarah popularisasi Islam dan sains. Daneshgar menunjukkan bahwa Bucaille telah membantu membuka ruang baru dalam studi Qur’an modern: ruang tempat mufasir, saintis, dokter, pendakwah, dan penerjemah saling bertemu. Ia juga berhasil menyoroti bahwa proyek ini menyentuh lebih dari satu bidang sekaligus—tafsir, terjemahan, apologetika, dakwah, bahkan politik pengetahuan modern.
Ada hal lain yang patut diapresiasi. Daneshgar tidak menulis Bucaille sebagai tokoh konyol yang mudah disingkirkan, tetapi juga tidak memperlakukannya sebagai otoritas final. Ia membaca Bucaille sebagai gejala besar yang harus dipahami secara serius karena dampaknya nyata. Pendekatan semacam ini jauh lebih produktif daripada sekadar mencemooh atau memujinya.
Keterbatasan dan Catatan Kritis
Karena formatnya ensiklopedis, entri ini masih terasa agak padat-deskriptif di beberapa bagian. Daneshgar berhasil memetakan jaringan pengaruh Bucaille, tetapi belum selalu memperdalam pertanyaan yang lebih besar tentang mengapa wacana semacam ini menjadi begitu menarik bagi masyarakat Muslim akhir abad ke-20. Faktor-faktor seperti krisis otoritas ulama, prestise sains modern, psikologi kolonial, dan kebutuhan akan pembelaan identitas Muslim modern sebenarnya bisa digarap lebih jauh.
Bagian tentang terjemahan ilmiah juga sangat menjanjikan. Andai diperluas, ia bisa menjadi studi yang sangat menarik tentang bagaimana ilmu modern tidak hanya mempengaruhi tafsir, tetapi juga mempengaruhi filologi Qur’an itu sendiri. Entri ini sudah membuka jalan ke sana, tetapi belum sempat mengembangkannya sepenuhnya.
Penutup
Majid Daneshgar berhasil memperlihatkan bahwa Maurice Bucaille bukan sekadar penulis La Bible, le Coran et la science. Ia adalah salah satu tokoh yang membantu mengubah pembacaan Qur’an modern dengan memberi sains status baru sebagai alat legitimasi tafsir. Dalam skema Bucaille, Qur’an tidak cukup dibela sebagai kitab suci; ia harus dibuktikan sebagai kitab yang telah lebih dulu mengetahui embriologi, fisiologi, dan fakta-fakta alam yang baru dipahami manusia modern.
Itulah sebabnya entri ini penting. Daneshgar tidak hanya mereview seorang penulis populer, tetapi menyingkap salah satu jalur paling berpengaruh dalam tafsir modern: pergeseran dari iʿjāz sebagai keunggulan bahasa ke iʿjāz ʿilmī sebagai keunggulan saintifik. Bucaille tampil sebagai katalis besar bagi pergeseran itu. Warisannya hidup bukan terutama di ruang kuliah klasik, tetapi di brosur dakwah, video debat, buku embriologi Qur’an, dan keyakinan luas bahwa sains modern akhirnya akan selalu membenarkan wahyu.