Membaca Majid Daneshgar: Tantawi Jawhari dan Tafsir sebagai Program Kebangkitan Ilmu bagi Dunia Islam

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 25 March 2026
Membaca Majid Daneshgar: Tantawi Jawhari dan Tafsir sebagai Program Kebangkitan Ilmu bagi Dunia Islam

Entri Majid Daneshgar, “Ṭanṭāwī Jawharī,” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, memperkenalkan seorang mufasir Mesir yang sering disebut ketika membahas tafsīr ʿilmī, tetapi sering pula disederhanakan hanya sebagai “penafsir ilmiah Qur’an.” Justru kelebihan entri ini terletak pada usahanya membebaskan Jawharī dari label yang terlalu sempit itu. Daneshgar menampilkan Ṭanṭāwī Jawharī bukan sekadar orang yang memasukkan sains ke dalam tafsir, melainkan seorang intelektual Muslim yang membaca Al-Qur’an di tengah pengalaman kolonial, ketertinggalan umat, ledakan pengetahuan modern, dan kebutuhan mendesak untuk membangkitkan kembali harga diri Muslim.

Yang menonjol dari tulisan ini ialah bahwa Jawharī dibaca sebagai tokoh yang berdiri di persimpangan: antara Azhar dan dunia modern, antara tafsir dan ensiklopedi pengetahuan, antara semangat anti-kolonial dan kekaguman pada kemajuan Eropa, antara religiusitas populer dan proyek pendidikan umat. Daneshgar tidak sedang menulis biografi sederhana; ia sedang menempatkan Jawharī dalam sejarah panjang upaya menjadikan Qur’an relevan bagi modernitas.

 

Jawharī sebagai Gejala Intelektual Zaman Kolonial

Salah satu kekuatan utama entri ini ialah cara Daneshgar mengaitkan kehidupan Jawharī dengan situasi politik dan intelektual Mesir modern. Latar biografinya tidak hadir sebagai hiasan, tetapi sebagai kunci membaca tafsirnya. Jawharī lahir dari dunia pedesaan, dibentuk oleh pendidikan Azhar, lalu hidup dalam masa ketika Mesir berada di bawah tekanan kolonial Inggris dan umat Islam menghadapi pengalaman pahit keterbelakangan. Dari situ terbentuk obsesi intelektualnya: mengapa Muslim tertinggal, sementara Eropa melaju dalam ilmu, industri, dan organisasi sosial?

Daneshgar sangat tepat ketika menunjukkan bahwa pengalaman bertani, perhatian pada alam, dan ketertarikan Jawharī pada bintang, tumbuhan, dan fenomena kosmis bukan sekadar sisi eksentrik pribadi. Semua itu menjadi fondasi bagi cara ia membaca ayat-ayat Qur’an. Alam baginya adalah kitab terbuka yang mengajarkan keagungan Tuhan sekaligus menuntut penyelidikan ilmiah. Tafsirnya lahir dari keyakinan bahwa Muslim telah gagal membaca dua kitab sekaligus: kitab wahyu (ayat qauliyah) dan kitab alam (ayat kauniyah).

 

al-Jawāhir dan Ambisi Menjadikan Tafsir sebagai Ensiklopedi Kebangkitan

Pusat pembahasan Daneshgar tentu adalah karya besar Jawharī, al-Jawāhir fī tafsīr al-Qurʾān al-karīm, sebuah tafsir 26 jilid yang sangat terkenal karena kepadatan bahan-bahan ilmiah, berita penemuan modern, gambar, kutipan dari pemikir Eropa, dan berbagai uraian yang sering jauh melampaui penjelasan makna ayat secara langsung. Di titik ini Daneshgar sangat jeli: ia tidak sekadar mengulang kritik lama bahwa karya itu “lebih mirip ensiklopedi sains daripada tafsir.” Ia justru memperlihatkan mengapa Jawharī merasa perlu menulis tafsir semacam itu.

Bagi Jawharī, tafsir bukan hanya menjelaskan apa arti ayat, tetapi juga membangunkan Muslim dari tidur intelektual mereka. Karena itu, informasi tentang geometri, astronomi, pertanian, ilmu alam, dan penemuan modern tidak terasa “asing” dalam tafsirnya; semua itu dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Qur’an telah lebih dahulu mendorong manusia kepada ilmu, pengamatan, dan keteraturan. Ia ingin Muslim melihat bahwa kitab suci mereka bukan penghalang kemajuan, tetapi justru landasan bagi kemajuan yang telah mereka abaikan.

Pembacaan Daneshgar di sini sangat kuat secara historiografis. Ia membantu kita memahami bahwa tafsīr ʿilmī pada Jawharī bukan sekadar mode intelektual, melainkan program pedagogis dan peradaban. Tafsir dipakai untuk mengajar, menggugah, memalukan umat yang malas belajar, dan sekaligus memulihkan keyakinan bahwa Islam memiliki hubungan inheren dengan ilmu.

 

Sains, tetapi Bukan Selalu Sains yang Ketat

Daneshgar juga tidak mengidealkan Jawharī. Salah satu bagian paling baik dari entri ini ialah pengakuan bahwa Jawharī sering kali berbicara tentang sains dengan pengetahuan empiris yang terbatas. Dalam beberapa contoh, seperti pembahasan embrio atau istilah-istilah biologis tertentu, Jawharī tidak menunjukkan penguasaan saintifik yang benar-benar mendalam. Ini catatan penting, sebab ia membedakan antara semangat saintifik dan ketelitian saintifik.

Di sinilah entri Daneshgar terasa dewasa. Ia tidak menertawakan Jawharī, tetapi juga tidak membelanya secara apologetik. Jawharī dipahami sebagai tokoh yang sangat ingin memasukkan sains ke dalam cakrawala Muslim, walau perangkat ilmunya kadang kurang mapan. Kritik lawan-lawannya—bahwa tafsirnya sering berubah menjadi kompilasi pengetahuan yang tidak selalu relevan dengan ayat—tidak dihapuskan. Kritik itu justru diposisikan sebagai bagian dari debat penting tentang batas tafsir.

 

Hubungan dengan ʿAbduh: Kedekatan dan Perbedaan

Daneshgar sangat cermat ketika menempatkan Jawharī dalam garis yang berhubungan dengan Muḥammad ʿAbduh, tetapi tidak identik dengannya. Keduanya sama-sama memikirkan kebangkitan umat, pendidikan, kritik terhadap stagnasi ulama, dan pentingnya ilmu. Akan tetapi, Jawharī bergerak jauh lebih agresif dalam menghubungkan ayat Qur’an dengan penemuan modern. Bila ʿAbduh masih menempatkan Qur’an terutama sebagai kitab petunjuk etis dan sosial, Jawharī lebih berani menggunakannya sebagai medan perjumpaan langsung dengan ilmu-ilmu alam dan pengetahuan modern.

Perbedaan ini penting. Daneshgar tidak membiarkan Jawharī larut sebagai “murid lanjutan” ʿAbduh. Ia menunjukkan bahwa Jawharī membawa proyek reformis itu ke jalur yang lebih ensiklopedis, lebih kosmologis, dan lebih obsesif terhadap bukti-bukti kemajuan ilmiah. Barangkali itulah sebabnya ia juga lebih mudah menuai kritik dari ulama, bahkan dari kalangan reformis sendiri.

 

Eropa dalam Tafsir Jawharī: Musuh, Guru, dan Saingan

Salah satu bagian paling menarik dari entri ini ialah penjelasan Daneshgar tentang bagaimana Jawharī memandang “Eropa.” Ia menunjukkan bahwa Eropa tidak hadir secara tunggal dalam tafsir Jawharī. Ada Eropa sebagai dunia Kristen yang tersesat secara teologis. Ada Eropa sebagai dunia ilmuwan, filsuf, dan penemu yang patut dipelajari. Ada juga Eropa sebagai penjajah, orientalis, dan lawan politik dunia Islam.

Pembagian ini sangat penting, karena membuat tafsir Jawharī terbaca jauh lebih kompleks. Ia bukan anti-Barat dalam arti menolak semua yang datang dari Eropa. Ia juga bukan modernis yang tunduk secara penuh pada superioritas Barat. Ia memilih sikap yang ambivalen: ilmu mereka dikagumi, dominasi mereka ditolak, agama mereka dikritik, dan kemajuan mereka dijadikan cermin untuk mempermalukan umat Islam yang tertinggal.

Di sinilah tafsir Jawharī terasa sangat modern dalam pengertian kolonial. Ia membaca Qur’an sambil terus berdebat dengan pertanyaan besar zamannya: mengapa mereka maju dan kita mundur? Daneshgar berhasil menunjukkan bahwa jawaban Jawharī terhadap pertanyaan itu tidak berhenti pada politik, tetapi masuk ke pendidikan, moralitas, ilmu, dan disiplin sosial.

 

Qur’an, Ilmu, dan Misi Perbaikan Umat

Ada satu tesis besar yang terus mengikat seluruh pembahasan Daneshgar: bagi Jawharī, inti hubungan Qur’an dan sains bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu akademik semata, tetapi untuk memperbaiki kondisi umat. Ia berulang kali menekankan kewajiban mencari ilmu, pentingnya bahasa Eropa, perlunya memahami matematika, geometri, astronomi, dan ilmu alam, serta hubungan antara kemajuan bangsa dan perubahan moral batin manusia.

Jadi, tafsīr ʿilmī pada Jawharī bukan pertama-tama proyek membuktikan mukjizat ilmiah Qur’an seperti pada Bucaille generasi kemudian. Ia lebih dekat kepada proyek sosial: membuat Muslim sadar bahwa agama mereka menuntut pengetahuan, kerja, keteraturan, dan kesungguhan. Karena itu, tafsirnya berulang kali bergerak dari ayat ke pendidikan, dari ayat ke keterbelakangan umat, dari ayat ke program kebangkitan.

Ini salah satu kontribusi terbaik Daneshgar. Ia mengembalikan Jawharī ke konteksnya sendiri, sehingga pembaca tidak buru-buru mencampurkannya dengan seluruh bentuk scientific miracle yang berkembang sesudahnya.

 

Penerimaan dan Pengaruh: Besar, tetapi Tidak Menjadi Arus Utama

Daneshgar juga sangat baik ketika membahas penerimaan Jawharī. Ia menunjukkan bahwa meskipun al-Jawāhir terkenal, karya itu tidak benar-benar menjadi fondasi utama bagi tafsir Arab sesudahnya. Banyak tokoh penting menolaknya atau memandangnya dengan curiga. Riḍā, Shaltūt, dan Sayyid Quṭb tidak menerima metode saintifiknya. Dunia Arab secara umum tidak menjadikannya arus utama.

Namun, Daneshgar tidak berhenti pada cerita penolakan. Ia justru menunjukkan jalur-jalur pengaruh yang lebih halus dan transregional. Jawharī dibaca di Persia, diterjemahkan ke dalam Persia, Urdu, dan Cina, memengaruhi pembaca di Afghanistan, mendapat perhatian di Sumatra, dan bahkan memberi inspirasi kepada tokoh perempuan seperti Bānū Amīn. Ini membuat gambaran penerimaannya lebih hidup: ia memang tidak menjadi kanon besar tafsir Arab, tetapi tetap mempunyai kehidupan panjang di pinggiran-pinggiran dunia Islam yang sedang mencari model baru untuk membaca Qur’an dan modernitas.

 

Kontribusi Intelektual Daneshgar

Sumbangan paling penting dari entri ini ialah bahwa Daneshgar berhasil merehabilitasi Jawharī sebagai figur serius dalam sejarah tafsir modern. Ia tidak mereduksinya menjadi mufasir eksentrik yang terlalu banyak bicara sains. Ia memperlihatkan bahwa di balik metode yang sering dipersoalkan itu, ada kegelisahan peradaban yang nyata: soal ilmu, kolonialisme, kemunduran umat, fungsi pendidikan, dan relevansi Qur’an bagi dunia modern.

Daneshgar juga sangat berhasil menampilkan Jawharī sebagai tokoh yang harus dibaca dalam hubungan dengan dunia Arab, Eropa, dan Asia sekaligus. Tafsirnya bersifat lintas-batas, meminjam ilmu dan bahasa dari luar, tetapi diarahkan untuk proyek internal umat Islam. Ini memberi entri tersebut kedalaman yang tidak sekadar biografis.

 

Keterbatasan dan Catatan Kritis

Karena formatnya ensiklopedis, entri ini tetap harus bergerak cepat. Banyak tema besar hanya bisa disentuh secara ringkas: spiritualisme Jawharī, relasinya dengan gerakan politik Mesir, korespondensinya dengan tokoh-tokoh luar negeri, serta rincian metode tafsirnya pada ayat-ayat tertentu. Pembaca mendapat peta yang sangat baik, tetapi belum memperoleh pembacaan tekstual mendalam terhadap bagian-bagian paling representatif dari al-Jawāhir.

Bagian tentang sains dalam tafsir Jawharī juga masih bisa diperluas dengan analisis lebih rinci mengenai jenis ilmu apa yang ia pakai, dari sumber mana ia memperolehnya, dan bagaimana ia mengubah wacana ilmiah Eropa ketika memasukkannya ke dalam tafsir. Namun, untuk ukuran entri ensiklopedi, Daneshgar sudah memberi kerangka yang sangat kuat untuk pertanyaan-pertanyaan itu.

 

Penutup

Majid Daneshgar menunjukkan bahwa Ṭanṭāwī Jawharī seharusnya dibaca bukan hanya sebagai mufasir “ilmiah,” tetapi sebagai salah satu tokoh yang paling serius mencoba menjadikan tafsir sebagai alat kebangkitan umat. Ia membaca Qur’an dengan mata yang tertuju kepada bintang, pertanian, laboratorium, bangsa-bangsa Eropa, dan krisis dunia Islam. Di tangannya, tafsir berubah menjadi proyek pendidikan massal dan seruan agar Muslim kembali menguasai ilmu yang mereka yakini pernah menjadi bagian dari warisan mereka sendiri.

Itulah kekuatan utama entri ini. Jawharī tampil sebagai tokoh yang mungkin tidak sepenuhnya berhasil, sering dikritik, dan kadang kurang ketat secara ilmiah, tetapi justru karena itu ia menjadi figur penting untuk memahami kegelisahan intelektual Islam awal abad ke-20. Melalui Daneshgar, kita melihat bahwa tafsīr ʿilmī bukan sekadar metode membaca ayat, tetapi juga bahasa kecemasan dan harapan sebuah umat yang sedang berjuang keluar dari bayang-bayang ketertinggalan.

 

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178