Membaca Matthew S. Gordon: “Troops” sebagai Medan Semantik antara Militer, Eskatologi, dan Kedaulatan Ilahi

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 09 April 2026
Membaca Matthew S. Gordon: “Troops” sebagai Medan Semantik antara Militer, Eskatologi, dan Kedaulatan Ilahi

Entri Matthew S. Gordon, “Troops,” dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online terbitan Brill, mungkin tampak kecil dan teknis, tetapi sesungguhnya membuka satu persoalan penting dalam studi Al-Qur’an: bagaimana kosakata yang pada mulanya berasosiasi dengan pasukan, barisan, dan kekuatan kolektif justru bergerak melampaui makna militer semata. Gordon menunjukkan bahwa rujukan Qur’ani pada “troops” tidak berhenti pada tentara dalam pengertian duniawi, melainkan sering bergeser ke arah “host,” “forces,” atau “throngs” yang bersifat eskatologis, kosmis, dan teologis.

Kekuatan entri ini terletak pada ketepatan fokusnya. Ia tidak berusaha membangun teori perang Qur’ani secara luas, melainkan membatasi diri pada sejumlah istilah kunci—shirdhima, zumar, fawj, dan terutama jund—lalu menelusuri bagaimana istilah-istilah itu bekerja di berbagai konteks ayat. Dari sini pembaca melihat bahwa Al-Qur’an tidak memakai bahasa pasukan secara polos. Bahasa itu hampir selalu diarahkan untuk menegaskan ketundukan seluruh kekuatan—baik militer manusia, kelompok penghuni akhirat, maupun bala tentara langit—di bawah keputusan Tuhan.

 

Dari “pasukan” ke “kumpulan”: perluasan makna yang sangat Qur’ani

Salah satu hal paling menarik dari pembacaan Gordon adalah pengamatannya bahwa makna militer justru bukan yang paling dominan. Ia menyatakan bahwa rujukan Qur’ani kepada “troops” dalam arti tentara berada di belakang penggunaan yang lebih umum, yakni “forces” atau “hosts.” Ini penting, sebab sejak awal ia sedang menolak pembacaan leksikal yang terlalu sempit. Dalam Qur’an, pasukan bukan hanya masalah perang; ia juga cara untuk membayangkan manusia, orang-orang kafir, para pendosa, bahkan kekuatan-kekuatan langit dalam bentuk kelompok-kelompok yang digerakkan, dihimpun, diatur, atau digiring menuju suatu nasib.

Poin ini sangat tajam secara hermeneutik. Gordon membantu pembaca melihat bahwa bahasa militer dalam Qur’an sering kali mengalami semacam transposisi eskatologis. Pasukan Firʿawn, misalnya, memang militer dalam arti literal, tetapi kehadirannya dalam ayat lebih berfungsi sebagai contoh dari kehancuran akibat hukuman ilahi. Demikian pula kelompok-kelompok penghuni neraka dan surga dalam zumar bukan “pasukan” perang, tetapi tetap dibayangkan sebagai himpunan manusia yang digerakkan secara kolektif menuju tujuan akhir mereka. Bahasa pengelompokan, barisan, dan pengerahan tetap dipertahankan, tetapi maknanya diperluas.

 

Pemetaan istilah: kecil, tetapi efektif

Gordon memulai dari istilah yang jarang dipakai seperti shirdhima dalam Q 26:54(*), yang dipahami sebagai “band” atau kelompok kecil. Ia lalu beralih ke zumar dan fawj, dua istilah yang lebih dekat ke makna “kelompok,” “rombongan,” atau “throngs,” terutama dalam konteks akhirat. Puncak pembahasannya adalah jund, istilah paling penting dan paling elastis di antara semuanya.

(*)اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيْلُوْنَۙ

54.  (Fir‘aun berkata,) “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) hanyalah sekelompok kecil.

 

Di sini kelebihan entri itu tampak jelas. Gordon tidak sekadar memberi padanan terjemahan, tetapi memperlihatkan bahwa setiap istilah memiliki beban konteks yang berbeda. Shirdhima menandakan kelompok kecil yang diremehkan Firʿawn; zumar menunjuk kerumunan yang digiring menuju neraka atau surga; fawj bisa berarti kelompok yang disusun atau diatur; dan jund memiliki jangkauan paling luas, mulai dari bala tentara Firʿawn hingga “pasukan” langit yang tak terlihat.

Pembedaannya sederhana, tetapi tepat. Karena entri ini hanya sepanjang kurang dari seribu kata, strategi Gordon harus ekonomis. Ia memilih contoh-contoh yang langsung menunjukkan spektrum makna, bukan mendiskusikan seluruh kemungkinan filologis secara berpanjang-panjang. Untuk bentuk artikel ensiklopedis yang ringkas, pilihan itu efektif.

 

Kekuatan utama entri: pasukan duniawi selalu dibayangi kedaulatan Tuhan

Argumen paling penting yang dapat dibaca dari entri ini ialah bahwa rujukan pada pasukan dalam Qur’an hampir tidak pernah otonom. Bala tentara manusia, sekuat apa pun, tidak berdiri sendiri sebagai sumber kuasa. Pasukan Firʿawn tampil untuk menegaskan kepastian kehancurannya. Pasukan Saul, Jalut, atau Sulaymān memang mengingatkan pada organisasi militer, tetapi bahkan di sana yang utama bukan glorifikasi strategi perang, melainkan pelajaran tentang ujian, kemenangan, dan penundukan kuasa manusia di hadapan kuasa Tuhan.

Gordon menyatakan bahwa rujukan pada “armies” dalam Qur’an sering hanya longgar kaitannya dengan aturan perang yang dibahas lebih rinci di tempat lain. Ini pengamatan yang sangat baik. Ia menyiratkan bahwa bahasa pasukan dalam Qur’an bukan terutama kategori hukum perang, melainkan kategori moral-teologis. Pasukan adalah alat naratif untuk menunjukkan siapa yang akhirnya menang, siapa yang ditolong Tuhan, siapa yang dihancurkan, dan siapa yang sedang digiring menuju balasan.

Di sinilah entri ini, meski singkat, sangat berguna. Ia mengingatkan bahwa istilah militer dalam Qur’an tidak boleh otomatis dibaca dengan horizon sejarah militer semata. Dalam banyak kasus, ia justru menjadi bahasa tentang nasib, hukuman, pertolongan ilahi, dan struktur akhir zaman.

 

Pasukan yang tak terlihat: militerisasi bantuan langit

Salah satu bagian paling penting dari entri Gordon adalah pembahasannya tentang junūd sebagai “celestial hosts” atau bala tentara ilahi. Ayat-ayat seperti Q 9:26(**), 9:40 (***), dan 33:9 (****) menyebut “pasukan yang tidak kamu lihat,” yang dipahami para mufasir sebagai bentuk intervensi Tuhan bagi Muḥammad. Di sini, bahasa militer mencapai bentuk teologisnya yang paling jelas: bukan manusia saja yang dapat berbaris dan bertindak, tetapi langit pun memiliki pasukannya.

(**)ثُمَّ اَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَاَنْزَلَ جُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ وَذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ

26.  Kemudian, Allah menurunkan ketenangan (dari)-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya, juga menyiksa orang-orang yang kafir. Itulah balasan terhadap orang-orang kafir.

 (***)اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

40.  Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(****) يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَاۤءَتْكُمْ جُنُوْدٌ فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا وَّجُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًاۚ

9.  Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara (malaikat) yang tidak dapat terlihat olehmu.610) Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

610) Ayat ini menerangkan kisah bala tentara kafir yang dikalahkan dalam Perang Khandaq (Ahzab).

 

Poin ini sangat kaya. Dalam horizon Qur’ani, sejarah manusia tidak tertutup pada kekuatan yang tampak. Ada struktur kuasa lain yang tak kasatmata, dan istilah jund dipakai untuk menandai bahwa pertolongan Tuhan bukan sekadar abstraksi spiritual, melainkan bisa dibayangkan sebagai pengerahan kekuatan yang nyata, walau tidak terlihat. Bahasa perang tetap dipakai, tetapi kini sepenuhnya berada dalam register iman.

Gordon tidak mengembangkan implikasi teologisnya lebih jauh, tetapi justru di situlah pembaca dapat melihat potensi besar entri ini. Ia membuka jalan untuk membaca bahwa Al-Qur’an “mengmiliterisasi” kosmos: bukan untuk mengagungkan perang, melainkan untuk menyatakan bahwa seluruh tatanan kuasa, termasuk yang gaib, berada di bawah komando Tuhan.

 

Ketergantungan pada al-Ṭabarī: kuat, tetapi juga membatasi

Secara metodologis, entri ini sangat bertumpu pada tafsir al-Ṭabarī, dengan sedikit dukungan dari Paret dan Ayoub. Pilihan ini bisa dipahami. Karena artikelnya sangat singkat, Gordon membutuhkan mufasir utama yang paling representatif untuk menunjukkan bagaimana istilah-istilah itu dibaca dalam tradisi klasik. Al-Ṭabarī memberi fondasi kuat, terutama dalam pemaknaan shirdhima, fawj, jund, serta dalam kaitan ayat-ayat tertentu dengan Badr atau Perang Khandaq.

Namun, ketergantungan ini juga membuat entri terasa agak sempit. Pembaca tidak banyak diajak melihat apakah mufasir lain—misalnya al-Zamakhsharī, al-Rāzī, atau Ibn Kathīr—memunculkan nuansa berbeda. Karena itu, artikel ini lebih merupakan catatan leksikal bertumpu pada tafsir klasik dominan, bukan survei penuh atas sejarah penafsiran istilah-istilah tersebut.

Untuk artikel pendek, ini masih sangat bisa diterima. Tetap saja, keterbatasannya terasa. Gordon membuka pintu, tetapi belum masuk jauh ke dalam perdebatan tafsirnya.

 

Nilai intelektual entri ini: dari kosakata ke struktur imajinasi Qur’ani

Yang membuat entri ini lebih penting daripada kelihatannya adalah kemampuannya menunjukkan bahwa kajian istilah kecil dapat mengungkap struktur besar imajinasi Qur’ani. “Troops” di sini bukan hanya satu lema kamus. Ia memperlihatkan bagaimana Qur’an membayangkan kolektivitas: orang-orang yang diremehkan, pasukan tiran, bala tentara nabi, rombongan penghuni surga dan neraka, serta pasukan tak terlihat dari langit. Semua itu membentuk satu pola: manusia tidak pernah berdiri sebagai individu semata, tetapi juga sebagai bagian dari himpunan yang diarahkan menuju kemenangan, hukuman, atau keselamatan.

Ini memberi entri Gordon bobot yang cukup besar. Ia sedang menunjukkan bahwa bahasa Qur’an tentang kekuatan kolektif selalu terikat pada pertanyaan teologis yang lebih besar: siapa yang menguasai sejarah, siapa yang menentukan hasil perang, siapa yang menggiring manusia pada akhirnya, dan siapa yang memiliki pasukan sejati.

 

Keterbatasan: terlalu singkat untuk tema yang sebenarnya luas

Kelemahan paling jelas dari entri ini adalah panjangnya yang sangat terbatas. Karena itu, banyak kemungkinan pembacaan tidak sempat dikembangkan. Misalnya, Gordon tidak banyak membahas hubungan antara jund Allāh dan konsep “ḥizb Allāh,” atau bagaimana istilah pasukan dan barisan berhubungan dengan tema qur’ani tentang keteraturan kosmis, kepatuhan, dan disiplin. Ia juga tidak masuk ke penggunaan istilah-istilah ini dalam tafsir pascaklasik, literatur politik Islam, atau wacana jihad yang lebih luas.

Bagian tentang eskatologi pun sebenarnya sangat menjanjikan. Zumar dan fawj dapat dibaca lebih jauh sebagai cara Qur’an mengubah citra pasukan duniawi menjadi prosesi akhirat. Gordon sudah memberi isyarat kuat ke arah itu, tetapi artikelnya berhenti sebelum eksplorasi semantik dan teologis itu benar-benar matang.

 

Penutup

Matthew S. Gordon berhasil menunjukkan bahwa istilah “troops” dalam Al-Qur’an jauh lebih kaya daripada sekadar “tentara.” Dalam penggunaan Qur’ani, ia dapat berarti kelompok kecil yang diremehkan, rombongan yang digiring ke surga dan neraka, bala tentara tiran yang dibinasakan, hingga pasukan langit yang tak terlihat. Yang menyatukan semuanya adalah satu gagasan besar: tidak ada kekuatan kolektif yang berdiri di luar kedaulatan Tuhan.

Itulah nilai utama entri ini. Meski singkat, ia memperlihatkan bahwa satu medan kosakata kecil dapat membuka cara pandang Qur’an tentang sejarah, hukuman, pertolongan ilahi, dan akhir zaman. “Pasukan” dalam Qur’an bukan hanya soal perang; ia adalah bahasa tentang pengumpulan, penundukan, dan penghakiman.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178