Membaca Mohsen Feyzbakhsh: Terjemahan Al-Qur’an, Tafsir, dan Sejarah Intelektual Persia

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 28 December 2025
Membaca Mohsen Feyzbakhsh: Terjemahan Al-Qur’an, Tafsir, dan Sejarah Intelektual Persia

Ketika membaca tulisan Mohsen Feyzbakhsh tentang terjemahan Al-Qur’an di Iran pasca-Safawi (teks sumber: Mohsen Feyzbakhsh, “Qurʾān translations in post-Safavid Iran”, dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online) kita segera menyadari bahwa yang sedang dibicarakan bukan sekadar pergeseran bahasa dari Arab ke Persia. Artikel ini mengajak pembaca melihat terjemahan Al-Qur’an sebagai sebuah tradisi panjang yang hidup di persimpangan tafsir, mazhab, tasawuf, dan kekuasaan politik. Terjemahan, dalam narasi Feyzbakhsh, bukan produk akhir, melainkan proses historis yang terus berubah mengikuti kebutuhan zaman dan horizon pembacanya.

Alih-alih menyodorkan satu teori besar, Feyzbakhsh memilih jalur historiografis: ia menyusun mozaik tradisi, teks, dan praktik, yang jika dibaca secara reflektif justru memperlihatkan betapa cairnya batas antara terjemahan dan penafsiran dalam dunia Islam Persia.

 

Tafsir sebagai Medium Terjemahan: Tradisi yang Bertahan Berabad-abad

Salah satu gagasan kunci dalam artikel ini adalah bahwa di Iran, terjemahan Al-Qur’an hampir selalu hadir melalui tafsir. Praktik menempatkan terjemahan Persia secara antarbaris di dalam tafsir Arab, atau menjadikan karya tafsir Persia sebagai alat membaca Al-Qur’an, menunjukkan bahwa “terjemahan” tidak dipahami sebagai teks mandiri. Ia adalah bagian dari proses belajar, membaca, dan memahami wahyu.

Model seperti Tafsīr-e Chahār Chaman, yang mempertemukan tafsir Persia dan tafsir Arab Sunni klasik dalam satu manuskrip, mencerminkan sikap epistemologis tertentu: makna Al-Qur’an tidak dianggap tunggal, dan pemahaman atasnya justru diperkaya melalui keberagaman suara. Terjemahan, dalam konteks ini, tidak mengklaim otoritas, tetapi berfungsi sebagai jembatan pedagogis bagi pembaca non-Arab.

 

Terjemahan Puitik dan Politik Spiritualitas pada Masa Qajar

Memasuki periode Qajar, Feyzbakhsh menunjukkan perubahan yang menarik. Terjemahan Al-Qur’an tidak lagi hanya bersandar pada tafsir prosa, tetapi juga muncul dalam bentuk puisi. Terjemahan puitik yang diproduksi kalangan sufi Niʿmatullāhī memperlihatkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya ingin dipahami secara rasional, tetapi juga diresapi secara estetik dan spiritual.

Namun, bentuk ini tidak netral. Di balik keindahan bahasa dan simbolisme mistik, terdapat agenda ideologis yang jelas: penguatan doktrin Syiah dan upaya membingkai tasawuf dalam kerangka ortodoksi Syiah. Dengan halus, Feyzbakhsh memperlihatkan bahwa terjemahan puitik berfungsi sebagai alat internalisasi ajaran, bukan sekadar ekspresi devosi pribadi. Terjemahan di sini bekerja sebagai medium pembentukan identitas religius.

 

Modernitas dan Keinginan “Membebaskan” Terjemahan

Abad ke-20 menghadirkan babak baru: munculnya upaya modernisasi terjemahan Al-Qur’an. Penerjemah mulai mengambil jarak dari model harfiah kata demi kata, dan berusaha menghadirkan bahasa yang lebih komunikatif dan lancar. Terjemahan tidak lagi sekadar mengikuti struktur Arab, tetapi mencoba berbicara dengan bahasa zamannya sendiri.

Namun, kebebasan ini justru memunculkan kontroversi. Kritik terhadap terjemahan “bebas” menunjukkan bahwa modernitas tidak serta-merta diterima sebagai kemajuan. Di sini, Feyzbakhsh secara implisit mengingatkan bahwa setiap upaya mendekatkan Al-Qur’an kepada pembaca baru selalu berhadapan dengan pertanyaan lama: sejauh mana manusia boleh menafsirkan bahasa wahyu tanpa melampaui batas?

 

Terjemahan, Pendidikan, dan Publik Pembaca

Bagian penting lain dari artikel ini adalah perhatian pada fungsi pedagogis terjemahan. Terjemahan Al-Qur’an dalam majalah, tafsir populer, dan edisi-edisi yang disusun untuk masyarakat awam menunjukkan bahwa Al-Qur’an semakin diposisikan sebagai teks yang harus dapat dipahami langsung oleh pembaca luas.

Di titik ini, terjemahan menjadi alat literasi keagamaan. Ia bukan hanya menjelaskan makna ayat, tetapi juga membentuk cara umat Islam memahami agama, dunia, dan diri mereka sendiri. Meskipun Feyzbakhsh tidak membahas secara mendalam resepsi pembaca, narasinya membuka ruang refleksi bahwa perubahan bentuk terjemahan sejalan dengan perubahan struktur publik Muslim.

 

Pascarevolusi dan Ledakan Terjemahan

Periode pascarevolusi Iran menandai institusionalisasi terjemahan Al-Qur’an. Negara, lembaga, dan komunitas diaspora ikut terlibat dalam produksi dan distribusi terjemahan. Jumlah terjemahan yang mencapai ratusan judul menunjukkan bahwa Al-Qur’an terus “diterjemahkan ulang” sesuai dengan kebutuhan ideologis, pedagogis, dan kultural yang berbeda.

Di sini, Feyzbakhsh seakan menegaskan satu hal penting: terjemahan Al-Qur’an tidak pernah selesai. Ia terus diperbarui, dicetak ulang, dikomentari, dan diperdebatkan. Tradisi ini justru menandakan vitalitas Al-Qur’an dalam kehidupan umat, bukan krisis otoritasnya.

 

Penutup

Kekuatan utama tulisan Mohsen Feyzbakhsh terletak pada kemampuannya memperlihatkan terjemahan Al-Qur’an sebagai praktik historis yang sarat makna sosial dan ideologis. Artikel ini mengajarkan bahwa berbicara tentang terjemahan Al-Qur’an berarti berbicara tentang tafsir, pendidikan, kekuasaan, dan identitas.

Bagi pembaca yang meneliti tafsir dan terjemahan Al-Qur’an dalam konteks lokal, pengalaman Persia yang dipaparkan Feyzbakhsh memberikan cermin metodologis yang berharga. Ia menunjukkan bahwa apa yang sering dianggap sebagai fenomena lokal sesungguhnya merupakan bagian dari tradisi Islam yang lebih luas—tradisi yang selalu bernegosiasi antara teks suci, bahasa manusia, dan realitas sejarah.

Membaca Feyzbakhsh adalah belajar melihat terjemahan Al-Qur’an bukan sebagai “hasil akhir”, tetapi sebagai proses dialog yang terus berlangsung. Dan mungkin, justru di situlah letak makna terdalam dari terjemahan itu sendiri.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178