Membaca Mykhaylo Yakubovych: Mushaf Cetak sebagai Revolusi Sunyi dalam Sejarah Al-Qur’an

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 20 February 2026
Membaca Mykhaylo Yakubovych: Mushaf Cetak sebagai Revolusi Sunyi dalam Sejarah Al-Qur’an

Tulisan Mykhaylo Yakubovych, Printing of the Qurʾān (16th – first half of the 20th century) dalam Encyclopaedia of the Qurʾān Online, pada pandangan pertama tampak seperti inventaris sejarah percetakan: daftar kota, tahun, teknik, dan nama penerbit. Namun di balik kerangka ensiklopedis yang tenang itu, Yakubovych sebenarnya sedang menuturkan sebuah perubahan besar: bagaimana Al-Qur’an berpindah dari dunia manuskrip yang terbatas ke dunia reproduksi massal yang terstandar.

Ia tidak menulis dengan nada dramatis. Tetapi jika dibaca pelan, teks ini memperlihatkan bahwa percetakan mushaf bukan sekadar perkembangan teknologi. Ia adalah perubahan dalam cara umat Islam dan dunia modern memahami otoritas teks suci.

 

Dari Venesia ke Hamburg: Eksperimen yang Canggung

Yakubovych membuka kisahnya dengan apa yang dikenal sebagai “Venice Qurʾān” (1537/38). Cetakan ini sering dirayakan sebagai yang paling awal dalam bahasa Arab. Namun yang ditekankan Yakubovych bukan keberhasilannya, melainkan kegagalannya. Huruf-huruf tertukar, titik-titik hilang, diakritik tidak konsisten. Hasilnya: mushaf yang secara teknis ada, tetapi secara religius nyaris tak dapat digunakan.

Di sini tersirat satu hal penting: Al-Qur’an bukan teks biasa. Ia bukan sekadar rangkaian huruf yang bisa dipindahkan ke mesin cetak tanpa konsekuensi. Setiap titik dan harakat adalah bagian dari legitimasi.

Edisi-edisi berikutnya di Hamburg dan Padua—oleh Hinckelmann dan Marracci—memperlihatkan perbaikan teknologi dan akurasi. Namun tetap saja, proyek-proyek ini lahir dari konteks polemik dan filologi Kristen Eropa. Mushaf cetak masih menjadi objek studi atau perdebatan, bukan objek devosi komunitas Muslim.

 

Rusia: Antara Kekaisaran dan Otoritas Muslim

Titik balik yang menarik muncul di Saint Petersburg (1787). Yakubovych menyebutnya sebagai edisi yang bisa dianggap “Muslim”, karena disiapkan oleh otoritas keagamaan lokal sebelum dicetak. Namun konteksnya adalah proyek kekaisaran Rusia untuk mengelola dan menarik loyalitas populasi Muslim.

Di sini, mushaf cetak muncul sebagai instrumen politik. Negara mencetak Al-Qur’an bukan hanya untuk menyebarkan teks, tetapi untuk mengatur hubungan dengan umat. Percetakan menjadi bagian dari tata kelola agama.

Kazan (1803) kemudian memperkuat jalur ini: mushaf cetak diproduksi massal dan menjadi populer di kalangan Muslim Rusia. Teknologi kini tidak lagi eksperimental; ia mulai berfungsi sebagai medium religius yang sah.

 

Lithography: Ketika Teknologi Meniru Manuskrip

Bagian paling menentukan dalam artikel ini adalah pembahasan tentang lithography di Persia dan India pada awal abad ke-19. Tidak seperti movable type Eropa, teknik lithografi memungkinkan reproduksi tulisan tangan secara langsung. Dengan kata lain, ia meniru estetika manuskrip.

Di sinilah resistensi terhadap percetakan mulai mencair. Ulama yang sebelumnya curiga terhadap mesin cetak dapat menerima mushaf litho karena tampilannya tidak terasa asing. Huruf, tanda waqf, pembagian juz, semuanya tetap terlihat “manuskrip”.

Teknologi diterima bukan karena modern, tetapi karena ia menghormati bentuk lama. Percetakan tidak menggantikan tradisi, melainkan menyamarkannya dalam medium baru.

India menjadi pusat penting. Dari Hooghly hingga Lucknow dan Bombay, mushaf cetak beredar luas. Bahkan lebih dari dua puluh percetakan memproduksi Qur’an pada awal abad ke-20. Mushaf tidak lagi langka. Ia menjadi benda yang relatif mudah diperoleh.

 

Ottoman dan Komite Tashih: Lahirnya Pengawasan Institusional

Di Kekaisaran Ottoman, awalnya terdapat larangan mencetak Al-Qur’an. Tetapi pada 1870-an, larangan itu dicabut. Negara tidak hanya mencetak mushaf, tetapi juga membentuk komite khusus untuk memeriksa dan mengesahkan setiap cetakan.

Ini adalah momen penting: otoritas teks berpindah dari scribe individual ke lembaga pengawas. Kesalahan cetak bukan lagi masalah pribadi, tetapi masalah institusional.

Mushaf mini, edisi kaligrafis, dan cetakan massal menunjukkan bahwa percetakan tidak hanya soal distribusi, tetapi juga soal estetika dan legitimasi.

 

Kairo 1923/24: Standardisasi sebagai Puncak

Semua jalur ini bermuara pada edisi Kairo 1923/24—yang kemudian menjadi standar global dalam pembacaan Hafṣ ‘an ‘Āṣim. Yakubovych tidak memaparkannya secara panjang lebar, tetapi jelas bahwa inilah klimaks narasinya.

Untuk pertama kalinya, dunia Muslim memiliki mushaf cetak yang: (1) diperiksa secara kolektif, (2) distandardisasi dalam numerasi ayat, dan (3) diterima luas sebagai referensi utama.

Dengan itu, sejarah manuskrip yang beragam perlahan-lahan digantikan oleh satu teks cetak yang relatif seragam.

 

Percetakan sebagai Transformasi Otoritas

Jika artikel ini dibaca sebagai daftar kronologi, ia informatif. Tetapi jika dibaca sebagai narasi sejarah intelektual, ia menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: percetakan mengubah hubungan antara teks, ulama, negara, dan umat.

Sebelum percetakan massal: mushaf terbatas, variasi ortografi lebih terlihat, dan otoritas berada pada tradisi penyalinan dan sanad qirā’āt.

Setelah percetakan: teks menjadi seragam, akses menjadi luas, dan kontrol berpindah ke lembaga negara dan percetakan besar.

Dengan kata lain, mushaf cetak adalah bagian dari modernitas Islam—bukan dalam arti sekularisasi, tetapi dalam arti rasionalisasi dan standardisasi.

 

Penutup

Melalui pemetaan yang tenang dan kronologis, Mykhaylo Yakubovych menunjukkan bahwa sejarah percetakan Al-Qur’an adalah sejarah negosiasi antara teknologi dan kesakralan. Tidak semua inovasi diterima. Tidak semua cetakan sah. Tetapi ketika teknologi mampu menyesuaikan diri dengan tradisi—dan ketika negara serta ulama bekerja sama dalam pengawasan—mushaf cetak menjadi norma baru.

Artikel ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an bukan hanya teks yang dibaca, tetapi juga objek material yang mengalami transformasi bentuk. Dari manuskrip ke lithografi, dari movable type ke edisi standar Kairo, setiap tahap bukan sekadar perubahan teknik, melainkan perubahan dalam cara umat Islam membayangkan stabilitas dan otoritas kitab sucinya.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178