Membaca Mykhaylo Yakubovych: Terjemahan Al-Qur’an di Dunia Slavia — dari Komunitas Minoritas ke Bahasa Publik Pasca-Komunisme

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 31 December 2025
Membaca Mykhaylo Yakubovych: Terjemahan Al-Qur’an di Dunia Slavia — dari Komunitas Minoritas ke Bahasa Publik Pasca-Komunisme

Tulisan Mykhaylo Yakubovych (teks sumber: “Qurʾān translations into modern Slavic(1) languages” dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), memperlihatkan satu lintasan sejarah yang khas: terjemahan Al-Qur’an di dunia Slavia tumbuh dari pinggiran, lalu perlahan memasuki ruang publik nasional seiring perubahan politik besar, terutama runtuhnya rezim-rezim sosialis di Eropa Timur dan bekas Uni Soviet.

Tidak seperti wilayah Mediterania atau Eropa Barat, dunia Slavia tidak memiliki satu pusat tunggal. Tradisi penerjemahan Al-Qur’an di sini muncul secara tersebar, mengikuti dinamika komunitas Muslim lokal (seperti Tatar Polandia atau Muslim Balkan), kepentingan misionaris Kristen, dan kemudian proyek-proyek keagamaan pasca-1989. Hasilnya adalah lanskap terjemahan yang plural, berlapis, dan sangat terkait dengan sejarah politik.

 

Akar Awal: Polandia dan Tradisi Tatar

Yakubovych membuka kisahnya dari Polandia, tempat tradisi tertua terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Slavia dapat ditelusuri sejak abad ke-16 melalui komunitas Tatar Polandia. Terjemahan awal berbentuk interlinear dalam bahasa Polandia dan Belarus, berfungsi sebagai alat pemahaman bagi komunitas Muslim yang telah lama terintegrasi secara sosial namun minoritas secara agama.

Menariknya, pada abad ke-19 muncul pula terjemahan Katolik dari bahasa Prancis yang dikenal sebagai “Koran of the Philomates Society” (1848). Ini menunjukkan bahwa sejak awal, terjemahan Al-Qur’an di wilayah Slavia tidak pernah eksklusif milik Muslim; ia juga hadir sebagai objek studi, misi, dan rasa ingin tahu religius Kristen.

Hingga kini, terjemahan modern Polandia yang paling dikenal tetap karya orientalis non-Muslim, Józef Bielawski. Baru pada 2020 muncul terjemahan Syiah pertama dalam bahasa Polandia oleh Rafał Berger, yang menariknya tidak langsung dari bahasa Arab, melainkan melalui terjemahan Rusia dan Jerman—menandakan keterhubungan lintas-bahasa dalam dunia Slavia.

 

Rusia: Dari Proyek Misionaris ke Medan Kontestasi Muslim

Bahasa Rusia menempati posisi khusus. Yakubovych mencatat adanya lebih dari 20 terjemahan lengkap Al-Qur’an dalam bahasa ini, dengan yang tertua berasal dari akhir abad ke-18. Terjemahan pertama langsung dari bahasa Arab dibuat oleh Gordii Sablukov (1878) di Kazan—dan secara eksplisit ditujukan untuk kepentingan misi Ortodoks.

Sepanjang era Soviet, satu nama mendominasi: orientalis Ignatiy Krachkovskii. Terjemahannya menjadi hampir satu-satunya rujukan, dicetak ulang terus-menerus bahkan setelah Uni Soviet runtuh. Baru pada 1990-an, seiring kebebasan beragama, muncul terjemahan-terjemahan Muslim yang berusaha menggantikan dominasi orientalis ini.

Tokoh-tokoh seperti Valeria Porokhova (terjemahan puitis, 1991), Magomed-Nuri Osmanov (1995), Elmir Kuliev (2002), dan Abu Adel (2008) menandai fase baru: Al-Qur’an tidak lagi sekadar teks kajian, melainkan teks hidup bagi komunitas Muslim Rusia. Beberapa proyek bahkan memperoleh legitimasi resmi, seperti Kalyam Sharif (2020) yang disponsori Muftiat Tatarstan.

Di sini terlihat jelas bagaimana terjemahan menjadi arena identitas: Muslim lokal menegaskan tradisi Sunni-Hanafi “tradisional” mereka, sekaligus membedakan diri dari gerakan transnasional seperti Salafisme. Karena bahasa Rusia tetap menjadi lingua franca pasca-Soviet, terjemahan Rusia juga beredar luas di Asia Tengah, Ukraina, dan Kaukasus—menjadikannya bahasa strategis bagi penerbit internasional.

 

Balkan: Bahasa Bosnian dan Memori Yugoslavia

Di Balkan, khususnya dalam bahasa Bosnia (dulu dikenal sebagai Serbo-Kroasia), tradisi terjemahan Al-Qur’an berkembang dalam konteks negara sosialis Yugoslavia dan kemudian pasca-disintegrasi.

Terjemahan Muslim lengkap pertama muncul pada 1937, meski belum langsung dari bahasa Arab. Baru pada 1970-an, Besim Korkut menerjemahkan Al-Qur’an langsung dari Arab—sebuah karya yang tetap populer hingga kini dan bahkan dicetak ulang oleh lembaga internasional seperti King Fahd Qur’an Printing Complex dan Diyanet Turki.

Setelah runtuhnya Yugoslavia, ledakan terjemahan terjadi. Nama-nama seperti Enes Karić (1995), Esad Duraković (2014), dan Nurko Karaman (2019) menunjukkan bahwa terjemahan Al-Qur’an menjadi bagian dari rekonstruksi identitas keislaman Bosnia dalam negara-bangsa baru. Menariknya, terjemahan Bosnia juga berfungsi lintas-negara, digunakan di Serbia, Kroasia, Montenegro, dan Makedonia Utara.

 

Bahasa Slavia Lain: Minoritas, tapi Produktif

Yakubovych juga mencatat dinamika di bahasa Slavia lain yang jumlah Muslimnya relatif kecil. Bulgaria, Ceko, dan Slovakia mulai melihat terjemahan Al-Qur’an setelah runtuhnya rezim sosialis. Di Ceko, misalnya, meski Muslim sangat sedikit, terdapat setidaknya empat terjemahan, termasuk karya seorang mualaf dan sarjana orientalisme.

Di Ukraina, terjemahan dari bahasa Arab baru benar-benar lengkap pada 2013 melalui karya Yakubovych sendiri, yang kemudian dicetak ulang oleh Diyanet Turki—sebuah contoh bagaimana produksi lokal segera masuk ke sirkuit transnasional.

 

Gerakan Transnasional: Ahmadiyya sebagai Episode Samping

Seperti di wilayah lain, Ahmadiyya juga hadir dalam sejarah Slavia. Mereka menerbitkan terjemahan ke bahasa Rusia (1987) dan beberapa bahasa Slavia lain pada awal 1990-an. Namun, Yakubovych menegaskan bahwa pengaruhnya relatif kecil, baik karena jumlah penganut Ahmadiyya yang terbatas maupun karena cepatnya muncul terjemahan Muslim arus utama pasca-1991.

 

Penutup

Yang paling menonjol dari pembacaan Yakubovych adalah bahwa terjemahan Al-Qur’an di dunia Slavia sangat ditentukan oleh perubahan politik besar. Dari komunitas Muslim kecil di Polandia, ke proyek misionaris Kekaisaran Rusia, lalu ke monopoli orientalis di era Soviet, dan akhirnya ke pluralitas pasca-komunisme—terjemahan Al-Qur’an selalu bergerak mengikuti siapa yang memiliki kuasa untuk berbicara, mencetak, dan menyebarkan makna.

Dalam konteks ini, terjemahan bukan sekadar soal bahasa. Ia adalah penanda emansipasi religius, sarana negosiasi identitas Islam lokal, dan jembatan antara warisan Soviet, tradisi Islam klasik, serta arus dakwah global. Dunia Slavia menunjukkan dengan jelas bahwa sejarah terjemahan Al-Qur’an bukan kisah linear menuju “akurasi”, melainkan sejarah pergulatan tentang siapa yang berhak menafsirkan kitab suci dalam bahasa publik.

-----------

(1)     Bahasa-bahasa Slavic (Baca: Slavia) mencakup rumpun Bahasa yang dibagi menjadi Timur (Rusia, Ukraina, Belarusia), Barat (Polandia, Ceko, Slovakia), dan Selatan (Serbia, Kroasia, Bosnia, Slovenia, Makedonia, Bulgaria).

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178