Membaca Mykhaylo Yakubovych: Terjemahan Al-Qur’an di Kaukasus Modern dan Asia Tengah—Pasca-Soviet, Diaspora, dan Politik Alfabet

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 29 December 2025
Membaca Mykhaylo Yakubovych: Terjemahan Al-Qur’an di Kaukasus Modern dan Asia Tengah—Pasca-Soviet, Diaspora, dan Politik Alfabet

Tulisan Mykhaylo Yakubovych (teks sumber: “Qurʾān translations in the Modern Caucasus and Central Asia”, dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), memperlihatkan satu garis besar yang khas untuk Kaukasus dan Asia Tengah: tradisi lama penerjemahan Al-Qur’an (yang sejak awal melekat pada tafsir dan format antarbaris Turkik) memasuki abad ke-20 dengan cara yang tidak mulus. Di kawasan ini, peralihan dari “tafsir yang mengandung terjemahan” menuju “terjemahan” dalam pengertian modern tidak hanya ditentukan oleh perkembangan filologi atau kebutuhan pedagogis, tetapi oleh kejutan sejarah: komunisme, represi agama, migrasi diaspora, runtuhnya Uni Soviet, lalu bangkitnya bahasa-bahasa nasional dan bahkan pergantian alfabet.

Yakubovych menulis kawasan ini sebagai sebuah mosaik: Azerbaijan, Dagestan, Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgyzstan, Turkmenistan, hingga komunitas minoritas seperti Avar, Dargin, Lezgin, Crimean Tatar, dan bahasa-bahasa lain. Masing-masing memiliki ritme sejarah penerjemahan yang berbeda, tetapi semuanya dipertemukan oleh satu titik balik besar: 1991.

 

Pra-20: Terjemahan sebagai Tafsir dan “Tefsīr-tercüme”

Yakubovych membuka dengan penegasan bahwa sebelum abad ke-20, hampir semua karya yang “menerjemahkan” Al-Qur’an muncul dalam kerangka tafsir—dan kemudian baru disebut “terjemahan” (tercüme), atau memakai label ganda seperti tefsīr-tercüme dalam tradisi Turkik. Dengan kata lain, kategori modern “terjemahan Qur’an” adalah istilah yang datang belakangan untuk menamai praktik yang lebih tua: mengalihkan makna ayat dalam bentuk penjelasan, glosa, dan komentar.

Perubahan model interpretasi mulai tampak di Kaukasus Selatan awal abad ke-20, terutama lewat dua karya berbahasa Azerbaijan: (1) Kashf al-ḥaqāʾiq (1904–5) oleh Mīr Muḥammad Karīm al-Bākuwī: masih dominan tafsir; dan (2) al-Bayān fī tafsīr al-Qurʾān (1908) oleh Muḥammad Mawlā Zādah al-Shakawī: mulai menyajikan terjemahan ayat demi ayat (tarjama) dengan penjelasan tambahan.

Dua karya ini bukan sekadar produk lokal; Yakubovych melihatnya sebagai pembuka jalur debat baru tentang apakah, bagaimana, dan sejauh mana Al-Qur’an dapat dialihkan ke bahasa vernakular.

 

Komunisme: Terjemahan yang Terputus, Tapi Tidak Sepenuhnya Hilang

Ketika rezim komunis mapan, proyek-proyek semacam itu berhenti. Represi agama membuat produksi dan sirkulasi teks Islam menjadi aktivitas berisiko tinggi. Namun Yakubovych menunjukkan adanya usaha yang tetap muncul, meski sporadis: (1) Terjemahan Azerbaijan oleh Ahmad Hashim Zade pada awal 1960-an (tetap manuskrip), dan (2) Terjemahan bahasa Avar pada awal 1980-an, tetapi baru terbit beberapa dekade kemudian.

Dua contoh ini penting karena menandai bahwa “tradisi” tidak selalu tampak sebagai rangkaian cetakan dan institusi; ia bisa bertahan sebagai manuskrip, jejaring sempit, dan sirkulasi terbatas—lalu muncul lagi ketika kondisi memungkinkan.

 

Diaspora sebagai Laboratorium Terjemahan

Yakubovych memberi perhatian khusus pada peran diaspora. Bagi beberapa bahasa Asia Tengah, justru komunitas di luar negeri yang lebih dulu menerbitkan terjemahan: (1) Terjemahan Kazakh oleh Halifa Altay di Turki (terbit di Istanbul 1989), lalu juga diterbitkan oleh King Fahd Qurʾān Printing Complex di Madinah pada 1990; dan (2) Terjemahan Kazakh lain (Gaziz Akytuly dan Makash Akytuly) terbit di Beijing 1990 dalam aksara Arab.

Dalam logika diaspora ini, penerbitan terjemahan tidak selalu menunggu “kebebasan” di tanah asal; ia bergerak melalui ruang-ruang yang lebih longgar, lalu kembali masuk ke tanah asal ketika memungkinkan. Di saat yang sama, variasi aksara (Arab, Cyrillic, Latin) menjadi penanda identitas yang tidak netral: ia menempel pada sejarah pendidikan, negara, dan jejaring ulama.

 

Pasca-1991: Bahasa Nasional, Ledakan Terjemahan, dan Masuknya Penerbit Global

Runtuhnya Uni Soviet membuka pintu besar. Yakubovych menggambarkan fase ini sebagai kombinasi antara: (1) kebangkitan bahasa-bahasa nasional (yang mengurangi dominasi Rusia), dan (2) kebutuhan publik baru yang tidak lagi puas dengan terjemahan Rusia yang terbatas.

Di Kazakhstan, misalnya, Yakubovych menyebut bahwa setelah 1991 terbit banyak terjemahan (ia menyebut delapan), termasuk terbitan 2015 yang melibatkan Turkish Directorate of Religious Affairs (TDRA/Diyanet) dengan struktur editorial resmi (mufti sebagai editor utama). Ini menunjukkan bahwa terjemahan Al-Qur’an menjadi proyek yang juga menyentuh legitimasi institusional, bukan hanya kerja individual.

Pola serupa tampak di banyak negara tetangga: bahasa lokal menjadi arena utama pembacaan Al-Qur’an, sementara penerbit global—terutama dari Turki dan Saudi—masuk sebagai produsen dan distributor besar.

 

Uzbek, Tajik, Kyrgyz: Terjemahan sebagai Sirkulasi Model Tafsir

Dalam kasus Uzbek, Yakubovych menonjolkan dua jalur: (1) Jalur diaspora: terjemahan Mahmud Tarazi (terbit di India 1952, berulang cetak), dan (2) Jalur domestik akhir-Soviet: terjemahan Alauddin Mansur (1990–1) yang menjadi sangat populer dan bahkan menjadi basis untuk versi bahasa lain (Kazakh, Kyrgyz, Turkmen, Uyghur, dll.).

Di sini terlihat bagaimana satu terjemahan bisa berfungsi sebagai “model” lintas bahasa—bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai kerangka pilihan istilah, struktur kalimat, dan cara memberi penjelasan.

Untuk Tajik, Yakubovych menunjukkan pluralitas sumber teologi yang lebih tampak: Terjemahan Tehran 1990 berbasis sumber Syiah, Terjemahan Sunni 2007 oleh Muhammadjon Umarov, dan Terjemahan lengkap al-Tafsīr al-muyassar oleh KFQPC (2014) yang mengarusutamakan corak Sunni-Salafi.

Kyrgyz juga menerima terjemahan KFQPC (2013). Dengan demikian, penerbit tertentu bukan hanya memasok teks, tetapi ikut membentuk gaya teologi yang dominan dalam bacaan publik.

 

Turkmenistan: Terjemahan dan Risiko Politik

Bagian Turkmenistan menjadi contoh ekstrem bagaimana negara dapat menutup kembali ruang yang seolah terbuka pasca-1991. Terjemahan pertama dari Arab (1995) oleh Hocaahmet Orazqliçev memicu kontroversi dengan pemerintah pada 2002; sisa eksemplarnya dibakar dan penerjemah dikenai tahanan rumah. Setelah itu muncul terjemahan baru dari Muftiate Turkmenistan (2007) yang disahkan resmi dan tersedia luas secara daring.

Di sini, “terjemahan” tidak bisa dipisahkan dari politik regulasi agama: yang bertahan adalah yang disahkan.

 

Kaukasus: Azerbaijan sebagai Pusat, Minoritas sebagai Jejak

Yakubovych menempatkan Azerbaijan sebagai bahasa utama Qur’an vernakular di Kaukasus. Terjemahan-terjemahan datang dari berbagai pusat penerbitan:  Qom (Iran), KFQPC (Saudi), TDRA/Diyanet (Turki), dan Turkish Religious Foundation.

Namun yang paling populer, menurutnya, adalah terjemahan klasik pasca-Soviet awal oleh Ziya Bünyadov dan Vasim Memmedaliyev (1990), serta terjemahan baru Aladdin Sultanov (2020) dengan keterlibatan otoritas religius Kaukasus sebagai penasihat utama.

Untuk Kaukasus Utara, Yakubovych menyebut terjemahan ke bahasa Avar, Dargin, Lezgin, dan bahasa minoritas lain yang banyak muncul segera setelah 1991—mencerminkan bagaimana “kebebasan” pasca-Soviet segera mengalir ke komunitas-komunitas kecil, bukan hanya negara-bangsa besar.

 

Alfabet sebagai Infrastruktur Makna

Catatan Yakubovych tentang pergantian alfabet (Cyrillic ke Latin di Azerbaijan dan Turkmenistan) terasa kecil, tetapi berdampak besar. Terjemahan Al-Qur’an bukan hanya “bahasa apa”, melainkan “huruf apa”. Pergantian aksara berarti pergantian akses: siapa yang dapat membaca, generasi mana yang merasa teks itu miliknya, dan jaringan penerbit mana yang paling kompatibel.

 

Penutup

Melalui Yakubovych, terjemahan Al-Qur’an di Kaukasus dan Asia Tengah tampak sebagai sejarah yang ditentukan oleh tiga poros besar: (1) warisan tafsir pra-modern yang lama menahan terjemahan dalam bentuk komentar, (2) pemutusan dan pembatasan keras pada era komunis, dan (3) ledakan pasca-1991 ketika bahasa nasional naik, diaspora mengirim balik teks, dan penerbit transnasional (Turki dan Saudi) menjadi aktor dominan.

Di kawasan ini, “terjemahan” sering kali bukan satu karya yang menjadi kanon, melainkan kumpulan versi yang lahir dari pergulatan institusi, pasar, dan identitas nasional—sering kali bahkan lewat perubahan huruf. Al-Qur’an dalam bahasa lokal lalu menjadi salah satu cara paling nyata bagi komunitas-komunitas pasca-Soviet untuk menyusun ulang hubungan mereka dengan agama, negara, dan dunia Islam yang lebih luas.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178