Membaca Sohaib Saeed: Terjemahan Al-Qur’an Bahasa Inggris Modern — antara Imperium, Otoritas, dan Pasar Global Makna

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 30 December 2025
Membaca Sohaib Saeed: Terjemahan Al-Qur’an Bahasa Inggris Modern — antara Imperium, Otoritas, dan Pasar Global Makna

Tulisan Sohaib Saeed (teks sumber: “Modern English Qurʾān translations” dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), menempatkan bahasa Inggris sebagai medan paling padat dan dinamis dalam sejarah modern penerjemahan Al-Qur’an. Lebih dari seratus terjemahan telah terbit, dengan ragam pendekatan, gaya, dan agenda yang saling bertumpuk. Saeed tidak membaca ledakan ini sebagai gejala linguistik semata, melainkan sebagai konsekuensi historis dari dua hal besar: imperialisme Inggris dan posisi bahasa Inggris sebagai bahasa “hipersentral” dalam dunia modern.

Dalam lanskap seperti ini, terjemahan Al-Qur’an tidak pernah netral. Ia hadir sebagai praktik yang selalu berkelindan dengan otoritas: siapa yang berbicara atas nama teks, untuk siapa terjemahan itu disusun, dan dalam kerangka ideologis apa ia disebarkan. Karena itu, sejarah yang dipaparkan Saeed bukanlah kisah kemajuan linear menuju terjemahan “paling benar”, melainkan peta yang menunjukkan bagaimana Al-Qur’an dalam bahasa Inggris terus dinegosiasikan—antara orientalisme dan apologetika Muslim, antara proyek negara dan inisiatif individual, antara keindahan sastra dan klaim ketepatan doktrinal.

 

Dari Orientalisme ke Kontestasi Muslim: India sebagai Titik Awal

Saeed menunjukkan bahwa panggung awal terjemahan Qur’an berbahasa Inggris oleh Muslim terbentuk di anak benua India, sebagai respons langsung terhadap dominasi terjemahan orientalis. Di sinilah Al-Qur’an diterjemahkan bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk “dipertahankan”—dari tuduhan, penyimpangan makna, dan klaim superioritas ilmiah Barat.

Gerakan Ahmadiyya menjadi pelopor penting. Terjemahan awal oleh Muhammad Abdul Hakim Khan (1905) relatif tenggelam, tetapi karya Muhammad Ali dari kalangan Lahore Ahmadiyya menjadi sangat berpengaruh. Baru beberapa dekade kemudian, organisasi Ahmadiyya arus utama merilis terjemahan resminya sendiri. Episode ini memperlihatkan bahwa sejak awal, terjemahan Qur’an Inggris bukan sekadar soal bahasa, tetapi juga medan artikulasi identitas mazhab.

 

Dua Ikon Abad ke-20: Pickthall dan Yusuf Ali

Dua nama kemudian mendominasi abad ke-20: Muhammad Marmaduke Pickthall dan Abdullah Yusuf Ali. Keduanya menghubungkan India kolonial dan Inggris metropolitan, sekaligus memperlihatkan bagaimana otoritas keagamaan lintas wilayah dibangun.

Pickthall—seorang mualaf Inggris—bahkan mencari legitimasi ke al-Azhar, setelah terjemahan Muhammad Ali sebelumnya dibakar secara publik di Mesir. Persetujuan yang ia terima bersyarat: karyanya tidak boleh disebut “terjemahan”, melainkan The Meaning of the Qur’an. Penamaan ini penting. Ia menegaskan doktrin klasik bahwa Al-Qur’an sejati hanya ada dalam bahasa Arab—sementara bahasa Inggris hanyalah jendela makna.

Yusuf Ali, dengan gaya bahasa Inggris tinggi dan catatan kaki yang melimpah, mengejar prestise sastra sekaligus pedagogi moral. Menariknya, justru terjemahannya yang kemudian diadopsi—dan disunting secara ketat—oleh King Fahd Qur’an Printing Complex di Arab Saudi. Di sini tampak jelas bagaimana terjemahan bisa “diterima” dengan syarat: catatan kaki disesuaikan, frasa diubah, dan tafsir diarahkan agar sejalan dengan ortodoksi Sunni-Salafi.

 

Negara, Standarisasi, dan Distribusi Massal

Saeed menaruh perhatian khusus pada dampak proyek negara. Terjemahan Khan–Hilali versi Saudi, dengan tambahan penjelasan dalam tanda kurung, menjadi salah satu versi paling tersebar di dunia—sekaligus paling banyak dikritik karena kekakuan gaya dan intrusi tafsir. Sebaliknya, proyek al-Azhar melalui al-Muntakhab justru gagal mendapatkan resonansi luas, meski mengklaim otoritas institusional tertinggi.

Kontras ini menyingkap satu hal penting: dalam dunia berbahasa Inggris, distribusi dan aksesibilitas sering lebih menentukan “otoritas” terjemahan dibanding legitimasi akademik atau keulamaan.

 

Alternatif Modern: Asad, Abdel Haleem, dan Jalan Tengah

Di luar arus negara dan mazhab, Saeed menyorot figur seperti Muhammad Asad. The Message of the Qur’an menampilkan transparansi metodologis yang jarang: catatan kaki yang menjelaskan alasan penafsiran, rujukan eksplisit ke tafsir klasik, dan afiliasi sadar dengan modernisme Islam ala Muhammad ʿAbduh.

Dalam konteks akademik-populer masa kini, posisi penting ditempati oleh M. A. S. Abdel Haleem. Terjemahannya—ringkas, modern, dan relatif bebas jargon teologis—menjadi pilihan banyak pembaca global, sekaligus menandai pergeseran dari bahasa Inggris bergaya King James menuju idiom kontemporer.

 

Fragmentasi Otoritas: Mazhab, Ideologi, dan Eksperimen

Saeed juga memetakan keragaman ekstrem: terjemahan Deobandi, Barelwi, Syiah, Qur’an-only, hingga proyek feminis seperti karya Laleh Bakhtiar. Di sini terlihat bahwa terjemahan Qur’an berbahasa Inggris telah menjadi arena artikulasi ideologis yang sangat terbuka—bahkan eksperimental.

Proyek kolaboratif besar seperti The Study Quran di bawah pimpinan Seyyed Hossein Nasr menunjukkan arah lain: mengembalikan terjemahan ke pelukan tafsir luas lintas mazhab, meski dengan konsekuensi kritik dari berbagai sisi.

 

Terjemahan sebagai Medan, Bukan Jawaban

Penutup Saeed terasa konsisten: tidak ada konsensus tentang terjemahan “paling sahih”. Pilihan pembaca dipengaruhi oleh keterbacaan, distribusi, afiliasi mazhab, bahkan identitas penerjemah. Terjemahan Qur’an dalam bahasa Inggris, dengan demikian, bukanlah solusi atas problem makna, melainkan ruang tempat problem itu diproduksi, dinegosiasikan, dan diwariskan.

Dalam pembacaan ini, bahasa Inggris bukan hanya medium global Al-Qur’an, tetapi juga cermin dunia modern itu sendiri: terfragmentasi, berjejaring, dan terus bergulat dengan pertanyaan tentang siapa yang berhak berbicara atas nama wahyu.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178