Membaca Stephen Burge: al-Suyuti sebagai Pengumpul Tradisi, Penjaga Otoritas Ulama, dan Arsitek Keilmuan Qur’ani

Oleh: Akhmad Roja Badrus Zaman, M.A. 18 March 2026
Membaca Stephen Burge: al-Suyuti sebagai Pengumpul Tradisi, Penjaga Otoritas Ulama, dan Arsitek Keilmuan Qur’ani

Entri Stephen Burge tentang al-Suyūṭī tidak sekadar memperkenalkan seorang ulama besar Mamluk, tetapi menyajikannya sebagai salah satu simpul terpenting dalam sejarah studi Al-Qur’an. Sejak awal, Burge menempatkan Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī (1445–1505) bukan hanya sebagai penulis yang sangat produktif, melainkan sebagai figur yang menghubungkan beberapa lapisan sekaligus: ilmu-ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadis, sejarah, tasawuf, adab, dan proyek kesalehan publik. Penekanan itu juga konsisten dengan bidang riset Burge sendiri, yang secara khusus banyak menulis tentang al-Suyūṭī, tafsir, dan hermeneutika Qur’ani.

Yang membuat entri ini menarik adalah bahwa Burge tidak menyajikan al-Suyūṭī sebagai “ensiklopedis netral” yang sekadar merangkum tradisi. Ia justru menunjukkan bahwa kerja kompilasi al-Suyūṭī adalah tindakan intelektual yang sangat aktif: memilih, menata, mengulang, memendekkan, memperluas, dan mendistribusikan ulang warisan keilmuan Islam untuk memperkuat otoritas ulama dan memperdalam kesalehan masyarakat. Dengan demikian, entri ini paling baik dibaca bukan sebagai biografi sederhana, melainkan sebagai pembacaan atas fungsi historis al-Suyūṭī dalam membentuk cara umat Islam mempelajari Al-Qur’an.

 

Al-Suyūṭī sebagai Simpul Tradisi, Bukan Sekadar “Ulama Besar”

Kekuatan pertama tulisan Burge terletak pada keberhasilannya memindahkan pembahasan dari level reputasi ke level fungsi. Banyak orang mengenal al-Suyūṭī sebagai penulis al-Itqān, penyelesai Tafsīr al-Jalālayn, atau ulama yang sangat produktif. Burge tentu mengakui semua itu, tetapi ia melangkah lebih jauh: al-Suyūṭī tampil di sini sebagai pengatur warisan keilmuan. Ia tidak selalu menciptakan bentuk baru dari nol; sering kali ia justru mengumpulkan, menata, menyunting, mengubah format, dan membuat pengetahuan lama menjadi lebih mudah diwariskan dan lebih luas tersebar. Inilah yang membuatnya sangat penting dalam sejarah ulūm al-Qur’an.

Dalam konteks historiografi, ini sangat penting. Burge secara implisit menolak pandangan yang meremehkan tradisi kompilasi sebagai aktivitas “sekunder.” Pada al-Suyūṭī, kompilasi adalah kerja intelektual utama. Ia bukan sekadar penyalin, tetapi kurator dan penyusun ulang tradisi. Karena itu, ketika kita membaca al-Itqān atau al-Durr al-manthūr, kita sebenarnya sedang membaca hasil dari sebuah strategi pengorganisasian ilmu yang sangat sadar diri. Burge sendiri dalam karya-karya lain tentang al-Suyūṭī juga menekankan sisi ini, khususnya dalam kajiannya tentang self-editing dan penggunaan sumber.

 

Kehidupan al-Suyūṭī: Konflik, Otoritas, dan Dunia Mamluk Akhir

Bagian biografis entri ini pendek, tetapi tajam. Burge menampilkan al-Suyūṭī sebagai tokoh yang sangat percaya diri, sangat sadar akan kapasitas intelektualnya, dan karena itu sering berkonflik dengan ulama Kairo sezamannya. Lahir di Kairo dari keluarga ulama yang berasal dari Asyūṭ, al-Suyūṭī menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Mesir, kecuali dua perjalanan haji, dan membangun reputasi yang besar meskipun relasinya dengan banyak sarjana lokal sering buruk. Bahkan, penerimaan atas dirinya tampak lebih besar di luar Kairo dan sesudah masanya sendiri daripada di tengah lingkaran sezamannya.

Di sinilah kecermatan Burge terasa. Ia tidak menjadikan sifat keras al-Suyūṭī sebagai sekadar detail anekdotal, tetapi menghubungkannya dengan konteks yang lebih luas: melemahnya struktur otoritas di akhir periode Mamluk dan dorongan untuk menegaskan kembali posisi ulama sebagai penafsir sah Al-Qur’an dan hadis. Kumpulan penelitian modern tentang al-Suyūṭī juga memang bergerak ke arah itu, melihatnya sebagai tokoh yang merepresentasikan sekaligus merespons ketegangan sosial-politik dan budaya intelektual penghujung era Mamluk. Jadi, konflik personal al-Suyūṭī dalam pembacaan Burge bukan sekadar persoalan temperamen, tetapi bagian dari politik otoritas keilmuan.

 

al-Itqān: Ensiklopedia Ilmu Al-Qur’an dan Politik Kompilasi

Bagian terpenting dari entri ini tentu pembahasan tentang al-Itqān fī ʿulūm al-Qurʾān. Burge menegaskan kedudukan karya ini sebagai salah satu teks paling berpengaruh dalam sejarah ilmu-ilmu Al-Qur’an. Ia menyoroti struktur al-Itqān yang membagi pembahasan ke dalam delapan puluh bab, mencakup sejarah teks, asbāb al-nuzūl, qirāʾāt, bahasa, adab membaca mushaf, dan berbagai perdebatan yang telah muncul sebelumnya. Sumber-sumber lain juga menggambarkan al-Itqān sebagai karya yang sangat luas cakupannya dan membahas puluhan subbidang dalam studi Al-Qur’an, yang membuatnya bertahan sebagai rujukan lintas zaman.

Tetapi justru di sini Burge paling menarik secara historiografis. Ia tidak membiarkan al-Itqān dibaca hanya sebagai “kitab besar.” Ia mengangkat perdebatan lama tentang relasinya dengan al-Burhān karya al-Zarkashī, termasuk tuduhan Kenneth Nolin bahwa al-Suyūṭī “menjiplak” karya pendahulunya. Burge lalu menolak simplifikasi itu. Menurutnya, hubungan antara dua karya tersebut jauh lebih rumit: al-Suyūṭī memang menggunakan al-Zarkashī, tetapi ia juga mengembangkan kerjanya sendiri dari al-Taḥbīr, melakukan perluasan, respons, dan penyusunan ulang. Dengan kata lain, Burge menggeser kita dari bahasa moral “plagiarisme” ke bahasa sejarah teks: bagaimana ulama pra-modern bekerja melalui elaborasi, pengambilan, reorganisasi, dan pembenahan tradisi. Ini salah satu bagian paling kuat dalam entri tersebut.

Di titik ini, review perlu menegaskan satu hal: Burge sedang membela al-Suyūṭī bukan dengan mengklaim orisinalitas total, tetapi dengan menunjukkan bahwa orisinalitas dalam tradisi ulama klasik tidak selalu berarti mencipta isi baru. Kadang yang paling menentukan justru adalah kemampuan menata tradisi secara lebih luas, lebih sistematis, dan lebih mudah diwariskan. Jika kita menerima cara baca ini, maka al-Itqān bukan sekadar gudang informasi, melainkan sebuah arsitektur pengetahuan Qur’ani.

 

al-Durr al-Manthūr dan Hermeneutika Periwayatan

Burge juga memberi porsi penting pada al-Durr al-manthūr fī al-tafsīr bi’l-maʾthūr. Ia menekankan bahwa tafsir ini tampak “diam” dalam arti al-Suyūṭī tidak banyak memberi komentar pribadi, melainkan menyusun hadis-hadis dan atsar yang relevan untuk setiap ayat. Namun Burge menolak melihat model ini sebagai kerja pasif. Dalam penelitiannya sendiri tentang karya tersebut, ia justru menunjukkan bahwa pemakaian sumber al-Suyūṭī bersifat terstruktur, berpola, dan secara hermeneutik dekat dengan arus tafsir bi’l-maʾthūr yang diasosiasikan dengan Ibn Taymiyya dan Ibn Kathīr. Jadi, al-Durr al-manthūr bukan sekadar tumpukan riwayat, melainkan hasil seleksi dan organisasi yang sadar.

Ini penting karena membantu kita melihat satu sisi lain dari al-Suyūṭī: ia bukan hanya penulis “manual” ilmu Al-Qur’an, tetapi juga pembangun otoritas melalui periwayatan. Burge berhasil menampilkan bahwa dalam tradisi al-Suyūṭī, otoritas tafsir lahir dari kemampuan merangkai sanad, menata kutipan, dan menghadirkan tradisi secara terkendali. Dengan demikian, al-Durr al-manthūr menjadi contoh bagaimana kompilasi dapat berfungsi sebagai hermeneutika.

 

Tafsīr al-Jalālayn: Aksesibilitas dan Globalisasi Tafsir

Salah satu penekanan terbaik dalam entri ini adalah bahwa warisan al-Suyūṭī bergerak dalam dua arah sekaligus: ke arah erudisi tinggi dan ke arah keterbacaan massal. Burge menangkap itu dengan sangat baik melalui Tafsīr al-Jalālayn. Di satu sisi, tafsir ini lahir dari konteks akademik yang sangat terdidik; di sisi lain, ia menjadi salah satu tafsir paling mudah diakses dan paling luas disebarkan di dunia Islam. Bukti pengaruh globalnya juga tampak dalam kajian-kajian tentang Nigeria dan dunia Melayu-Indonesia, yang menunjukkan bagaimana Jalālayn berfungsi sebagai salah satu teks dasar dalam pengajaran dan pembentukan tradisi tafsir lokal.

Di sini Burge sangat jeli ketika menyebut al-Suyūṭī tampak menyadari manfaat menulis karya yang “mudah beredar.” Ini poin yang sangat penting. Al-Suyūṭī bukan hanya ulama yang produktif, tetapi juga tampaknya paham ekologi penyebaran ilmu: bahwa ringkasan, ekstrak, karya singkat, dan format yang mudah dibaca dapat menghasilkan pengaruh yang sangat besar. Maka, dalam pembacaan Burge, Jalālayn bukan sekadar tafsir ringkas, tetapi juga contoh dari strategi transmisi ilmu.

 

Tasawuf al-Suyūṭī: Ortodoksi, Devosi, dan Shādhiliyyah

Bagian tentang tasawuf membuat entri ini lebih kaya daripada sekadar profil mufasir. Burge menunjukkan bahwa keanggotaan al-Suyūṭī dalam tarekat Shādhiliyyah tidak boleh dianggap detail pinggiran. Ia memengaruhi nada sejumlah karya, terutama yang berkaitan dengan faḍāʾil, ritual devosi, susunan surah, dan dorongan pada kesalehan praktis. Penelitian-penelitian mutakhir tentang al-Suyūṭī juga memang bergerak ke arah ini, memperlihatkan bahwa sejumlah tulisannya mengandung warna Shādhilī yang cukup kuat.

Yang menarik, Burge tidak lalu menjadikan al-Suyūṭī sebagai “sufi murni.” Ia justru memperlihatkan kombinasi yang sangat khas: al-Suyūṭī membela Ibn al-ʿArabī dan Ibn al-Fāriḍ, tetapi pada saat yang sama ingin membatasi akses kepada karya-karya mereka hanya bagi pembaca yang cukup siap. Sikap ini sangat khas ulama ortodoks-devosional: menerima dimensi batin, tetapi tetap menjaga hirarki otoritas dan kelayakan pembaca. Jadi, tasawuf al-Suyūṭī dalam entri ini bukan tasawuf antinomian, melainkan tasawuf yang tetap tunduk pada disiplin ulama.

 

Warisan al-Suyūṭī: Antara Erudisi Tinggi dan Kesalehan Populer

Salah satu kelebihan terbesar entri Burge ialah cara ia merumuskan warisan al-Suyūṭī dalam dua register sekaligus. Pertama, al-Suyūṭī adalah sarjana besar yang tetap dirujuk dalam studi Qur’an berkat karya-karya seperti al-Itqān. Kedua, ia juga adalah penulis yang piawai mengemas pengetahuan untuk pembaca yang lebih luas, entah melalui Jalālayn, risalah-risalah ringkas, faḍāʾil ayat, atau ekstrak dari karya besar. Inilah yang membuat pengaruhnya begitu luas: ia berbicara kepada akademisi, tetapi juga kepada masyarakat Muslim yang lebih umum.

Dalam kerangka itu, Burge sebenarnya sedang mengajukan satu tesis yang sangat penting: kekuatan al-Suyūṭī bukan hanya pada keluasan ilmunya, tetapi pada kemampuannya menjembatani dunia kitab dan dunia kesalehan populer. Karena itu, warisannya bertahan lama. Ia tidak hidup hanya di rak ulama, tetapi juga di mushaf berpinggir tafsir, di madrasah, di pesantren, dan di jalur-jalur transmisi yang lebih luas.

 

Catatan Kritis atas Entri Burge

Meski sangat berguna, entri ini juga memiliki keterbatasan. Pertama, karena formatnya ensiklopedis, sejumlah bagian masih terasa lebih berupa peta daripada analisis yang benar-benar mendalam. Misalnya, pembahasan tentang al-Durr al-manthūr, Lubāb al-nuqūl, atau karya-karya kecil Qur’ani al-Suyūṭī disebutkan dengan baik, tetapi belum sepenuhnya dibedah sebagai proyek hermeneutik yang masing-masing punya logika sendiri.

Kedua, entri ini sangat berhasil menampilkan al-Suyūṭī sebagai figur reformis-devosional, tetapi belum terlalu jauh mengeksplorasi sisi kompetitif budaya tulis Mamluk akhir: bagaimana format ringkas, ekstraksi, dan republikasian bagian karya juga merupakan strategi reputasi, pasar manuskrip, dan perebutan kewibawaan. Padahal, justru di sana al-Suyūṭī tampak sangat modern dalam pengertian sejarah buku.

Ketiga, meskipun tasawuf diberi bagian tersendiri, pembahasan itu masih terasa sebagai “tambahan” ketimbang benar-benar dijadikan lensa utama untuk membaca keseluruhan proyek Qur’ani al-Suyūṭī. Padahal salah satu kemungkinan pembacaan paling produktif ialah melihat bahwa bagi al-Suyūṭī, penguasaan ilmu Al-Qur’an dan pembentukan hidup saleh bukan dua proyek terpisah.

 

Penutup

Membaca Stephen Burge, kita melihat al-Suyūṭī bukan hanya sebagai ulama produktif yang menulis banyak kitab, tetapi sebagai arsitek tradisi. Ia mengumpulkan, menyusun ulang, menertibkan, mempertahankan, dan menyebarkan warisan Qur’ani Islam dalam bentuk-bentuk yang dapat dipakai baik oleh ulama maupun oleh masyarakat yang lebih luas. Di satu sisi ia sangat tekstual, sangat akademik, sangat sadar sumber; di sisi lain ia juga sangat peduli pada piety, devosi, faḍāʾil, dan kehidupan religius sehari-hari.

Karena itu, entri Burge paling tepat dibaca sebagai koreksi atas dua simplifikasi sekaligus: pertama, bahwa al-Suyūṭī hanyalah kompilator; kedua, bahwa karya kompilatif kurang penting daripada karya “orisinal.” Justru melalui Burge kita memahami bahwa dalam sejarah studi Al-Qur’an, menyusun tradisi bisa sama pentingnya dengan menciptakan argumen baru. Dan mungkin memang di situlah letak kebesaran al-Suyūṭī: bukan hanya pada apa yang ia tulis, tetapi pada bagaimana ia membuat seluruh tradisi terdengar lebih teratur, lebih dapat diwariskan, dan lebih dekat dengan kehidupan religius umat.

Bagaimana perasaan Anda tentang tulisan ini?

0 Reaksi

0 Komentar

MUSANG178