Membaca Torsten Tschacher: Terjemahan Al-Qur’an di India Selatan—Bahasa, Aksara, dan Jalur Samudra
Tulisan Torsten Tschacher (teks sumber: “Qurʾān translations in South India”, dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), mengajak pembaca menoleh ke wilayah yang kerap berada di pinggir narasi besar sejarah Islam Asia Selatan: India Selatan dan kawasan Samudra Hindia. Jarak geografis dari pusat-pusat kekuasaan Islam di India Utara, serta keterikatan yang kuat dengan jaringan perdagangan maritim, membentuk corak keterlibatan dengan Al-Qur’an yang berbeda. Di kawasan ini, umat Islam hidup di tengah keragaman bahasa yang luas—dari rumpun Dravida seperti Tamil dan Malayalam hingga bahasa Indo-Eropa dan bahasa-bahasa pesisir—dan keragaman ini tercermin jelas dalam cara Al-Qur’an dipahami, disampaikan, dan dituliskan.
Alih-alih berkembang melalui satu bahasa perantara dominan seperti Persia di India Utara, keterlibatan Qur’ani di India Selatan sejak awal bersifat plural. Bahasa-bahasa lokal menjadi medium utama, sementara Al-Qur’an hadir dalam berbagai bentuk yang tidak selalu menyerupai “terjemahan” dalam pengertian modern.
Menghadirkan Al-Qur’an tanpa Menerjemahkannya Secara Penuh
Tschacher menunjukkan bahwa sebelum paruh kedua abad ke-19, keterlibatan dengan Al-Qur’an di India Selatan sering kali berlangsung secara tidak langsung. Kisah-kisah Qur’ani diceritakan ulang dalam puisi dan sastra lokal, ayat-ayat tertentu dikutip apa adanya dalam teks vernakular, dan sebagian ayat diberi parafrase penjelas. Dalam puisi-puisi Tamil abad ke-18, bahkan ditemukan pengutipan satu surah lengkap tanpa terjemahan, seakan Al-Qur’an hadir sebagai suara sakral yang disisipkan ke dalam alur bahasa lokal.
Bentuk lain yang menonjol adalah parafrase penjelasan atas ayat-ayat tertentu, terutama dalam risalah teologis berbahasa Tamil dan Nawayati. Parafrase ini tidak dipahami sebagai terjemahan murni, melainkan sebagai bagian dari tradisi komentar. Bahkan, sebuah puisi Tamil abad ke-17 yang memuat terjemahan puitik lengkap Surah al-Fātiḥa menunjukkan bahwa upaya menerjemahkan Al-Qur’an ke bahasa lokal telah muncul sangat awal, meskipun masih jarang dan terbatas.
Dari Parafrase ke Tafsir Lengkap dalam Bahasa Lokal
Praktik parafrase dan komentar ini kemudian menjadi landasan bagi munculnya tafsir lengkap berbahasa lokal pada paruh kedua abad ke-19. Di Kerala, tafsir Malayalam Tarjumat tafsīr al-Qurʾān yang mulai disusun pada 1855–1856 menandai tonggak penting. Karya ini sangat bergantung pada Tafsīr al-Jalālayn, namun keberadaannya tetap memicu perdebatan sengit. Sebagian kalangan memandang penerjemahan semacam itu sebagai sesuatu yang terlarang, sementara yang lain melihatnya sebagai kebutuhan mendesak bagi umat.
Situasinya agak berbeda di wilayah Tamil. Di sana, penulisan tafsir dan komentar Qur’ani dalam bahasa lokal tampaknya diterima dengan lebih lapang. Sejumlah karya tafsir lengkap dan parsial terbit dalam kurun waktu yang relatif singkat, menunjukkan adanya kebutuhan dan kesiapan pembaca Tamil Muslim untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an melalui bahasa mereka sendiri.
Aksara sebagai Medan Perdebatan Keagamaan
Salah satu kontribusi paling penting dari tulisan Tschacher adalah penekanannya pada persoalan aksara. Tafsir dan terjemahan Qur’ani awal di India Selatan hampir selalu ditulis dalam bahasa lokal yang dieja dengan aksara Arab yang dimodifikasi, bukan dengan aksara Tamil atau Malayalam. Pilihan ini mencerminkan sikap tradisionalis yang menganggap aksara Arab lebih pantas untuk teks-teks keagamaan.
Namun, seiring munculnya gerakan reformis, tuntutan mulai berubah. Reformis mendorong penggunaan aksara lokal untuk menulis terjemahan Al-Qur’an, dengan alasan integrasi sosial, pendidikan agama dalam bahasa ibu, dan efektivitas dakwah. Upaya menerbitkan terjemahan Al-Qur’an dalam aksara Malayalam dan Tamil pada awal abad ke-20 memicu perdebatan keras. Kekhawatiran utama bukan semata soal bahasa, melainkan potensi “penyalahgunaan” Al-Qur’an oleh pihak luar jika ditulis dalam aksara yang dapat diakses siapa saja.
Perdebatan ini sering disalahpahami sebagai polemik tentang boleh-tidaknya Al-Qur’an diterjemahkan. Tschacher menunjukkan bahwa inti persoalannya justru terletak pada aksara dan implikasi sosialnya: siapa yang boleh membaca, bagaimana Al-Qur’an diposisikan di ruang publik, dan sejauh mana batas komunitas dijaga atau dibuka.
Tekanan Eksternal dan Perubahan Sikap Tradisionalis
Pada akhirnya, kalangan tradisionalis pun tidak dapat menghindari perubahan. Meningkatnya ketersediaan terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris—terutama melalui aktivitas gerakan Aḥmadiyya—mengubah lanskap secara drastis. Terjemahan Inggris ini bahkan menjadi dasar bagi upaya penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Kannada dan Telugu, yang pada awalnya justru dilakukan oleh penulis Hindu dengan konsultasi ulama Muslim.
Situasi ini mendorong ulama konservatif untuk mengambil inisiatif. Daripada membiarkan Al-Qur’an diakses melalui terjemahan non-Muslim atau non-tradisional, mereka mulai menyusun terjemahan sendiri dalam bahasa dan aksara lokal. Hasilnya adalah gelombang besar terjemahan Qur’ani ke dalam Tamil, Malayalam, Telugu, Kannada, Sinhala, dan Dhivehi pada pertengahan abad ke-20. Terjemahan-terjemahan ini lahir dalam suasana perdebatan sektarian yang intens, namun sekaligus menandai normalisasi penggunaan bahasa dan aksara lokal dalam mengakses Al-Qur’an.
Dari Percetakan ke Dunia Digital
Tschacher menutup dengan mencatat bahwa pada masa kini, terjemahan Al-Qur’an di India Selatan tidak lagi terbatas pada inisiatif lokal. Lembaga-lembaga internasional seperti Kompleks Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd di Arab Saudi dan jaringan Aḥmadiyya turut memproduksi dan mendistribusikan terjemahan dalam bahasa-bahasa India Selatan. Kehadiran internet semakin memperluas jangkauan ini, menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Tamil, Malayalam, atau Telugu mudah diakses lintas batas geografis dan komunitas.
Penutup
Melalui pembacaan terhadap India Selatan, Tschacher memperlihatkan bahwa sejarah terjemahan Al-Qur’an tidak selalu mengikuti pola yang sama dengan India Utara. Di kawasan ini, keterlibatan dengan Al-Qur’an berkembang melalui cerita ulang, kutipan, parafrase, tafsir, dan perdebatan tentang aksara. Bahasa dan tulisan bukan sekadar alat komunikasi, tetapi sarana untuk menegosiasikan identitas, otoritas, dan keterbukaan komunitas Muslim dalam lingkungan yang majemuk. Terjemahan Al-Qur’an di India Selatan dengan demikian tampil sebagai cermin hubungan dinamis antara wahyu, bahasa lokal, dan dunia maritim yang sejak lama menghubungkan kawasan ini dengan Islam global.