Membaca Zeyneb Hale Eroglu: Terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Tionghoa Modern—Reformasi, Kontroversi, dan Publik Baru
Tulisan Zeyneb Hale Eroğlu (teks sumber: “Qurʾān translations into Chinese since the early 20th century” dalam Translations of the Qurʾān [2025] in Encyclopaedia of the Qur'ān Online), melanjutkan kisah yang sebelumnya dibuka oleh James D. Frankel, tetapi dengan nuansa yang jauh lebih dinamis dan politis. Jika periode pra-modern ditandai oleh kehati-hatian ekstrem dan keterbatasan linguistik, maka sejak awal abad ke-20 terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Tionghoa justru berkembang pesat, beragam, dan sarat perdebatan. Di fase ini, terjemahan tidak lagi sekadar upaya menjaga keberlanjutan iman komunitas Sino-Muslim, melainkan menjadi medium reformasi, modernisasi, dan perebutan otoritas keagamaan.
Eroğlu memperlihatkan bahwa modernitas—melalui percetakan, pendidikan modern, dan jaringan transnasional—mengubah terjemahan Al-Qur’an menjadi ruang kontestasi terbuka. Siapa yang menerjemahkan, bahasa apa yang dipilih, dan tafsir mana yang dijadikan rujukan, semuanya berkelindan dengan pertanyaan tentang Islam seperti apa yang hendak dihadirkan bagi Muslim Tionghoa modern.
Terjemahan Lengkap Pertama: Masih di Pinggir, Belum di Pusat
Salah satu temuan penting yang diangkat Eroğlu adalah ditemukannya terjemahan lengkap Al-Qur’an berbahasa Tionghoa yang diselesaikan pada 1912 di Lanzhou, hasil kerja dua imam lokal, Sha Zhong dan Ma Fulu. Terjemahan ini menggunakan jingtang yu—campuran Tionghoa, Arab, dan Persia—ditulis dengan aksara xiaoerjing dan mengikuti dialek Lanzhou.
Fakta bahwa terjemahan ini beredar terbatas dalam bentuk manuskrip di wilayah Tiongkok Barat Laut menunjukkan bahwa pada tahap awal modernitas, terjemahan Al-Qur’an masih berada di pinggir ruang publik. Ia belum menjadi proyek nasional atau diskursus terbuka, tetapi tetap berfungsi sebagai alat pedagogis komunitas lokal.
Ketika Non-Muslim Menerjemahkan Al-Qur’an
Perubahan signifikan terjadi ketika terjemahan lengkap Al-Qur’an dalam aksara Tionghoa modern justru pertama kali diterbitkan oleh sarjana non-Muslim, seperti Li Tiezheng (1927) dan Ji Juemi (1931). Terjemahan Li Tiezheng yang bersumber dari versi Jepang dan Inggris menuai kritik karena dianggap tidak mencerminkan tauhid Islam secara memadai. Sebaliknya, karya Ji Juemi yang melibatkan ulama Muslim dipandang lebih sensitif terhadap aspek keagamaan.
Ironisnya, justru terjemahan non-Muslim ini memicu kebangkitan intelektual Muslim Tionghoa. Kaum reformis melihat urgensi untuk menghadirkan terjemahan Al-Qur’an yang ditulis oleh Muslim sendiri—bukan hanya demi akurasi teologis, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa Islam selaras dengan modernitas, rasionalitas, dan kemajuan bangsa.
Reformasi Muslim dan Pengaruh Jaringan Transnasional
Dorongan reformis ini melahirkan berbagai proyek terjemahan kolaboratif. Inisiatif yang digagas oleh Wu Tegong, Sha Shanyu, dan imam Ha Decheng pada 1926 menandai keterhubungan Muslim Tionghoa dengan dunia Islam global, khususnya melalui karya-karya Muhammad Ali dari komunitas Ahmadi Lahore. Ketergantungan pada sumber-sumber ini memperlihatkan bagaimana terjemahan Al-Qur’an di Tiongkok modern tidak pernah sepenuhnya bersifat lokal, melainkan terhubung dengan perdebatan Islam global.
Perbedaan pandangan tentang gaya bahasa segera muncul. Sebagian menginginkan bahasa Tionghoa klasik demi menjaga nuansa keagungan teks suci, sementara yang lain mendorong penggunaan bahasa vernakular agar lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.
Ma Jian dan Kanonisasi Bahasa Vernakular
Tokoh kunci dalam pergeseran ini adalah Ma Jian, lulusan Al-Azhar yang kemudian menjadi profesor di Universitas Peking. Ma Jian memilih bahasa Tionghoa vernakular dan menyusun terjemahan Al-Qur’an tanpa tafsir panjang. Pilihan ini menjadikan karyanya mudah dibaca dan diterima luas, hingga akhirnya memperoleh status hampir kanonik setelah diterbitkan secara anumerta pada 1981.
Keistimewaan terjemahan Ma Jian terletak pada kosakatanya: ia menggabungkan istilah tradisional Muslim Tionghoa dengan serapan dari khazanah Konfusian dan Buddhis. Dengan cara ini, Al-Qur’an tidak tampil sebagai teks asing, melainkan sebagai bagian yang dapat beresonansi dengan budaya intelektual Tiongkok.
Bahasa Klasik, Vernakular, dan Otoritas Estetika
Eroğlu menunjukkan bahwa perdebatan bahasa—klasik versus vernakular—menjadi isu sentral pada 1930–1940-an. Tokoh seperti Wang Jingzhai awalnya memilih bahasa klasik untuk menjaga kesakralan gaya Qur’ani, lalu merevisi karyanya ke bahasa vernakular demi keterjangkauan. Sebaliknya, Yang Zhongming tetap bertahan pada bahasa klasik dengan transliterasi Arab yang padat, sehingga terjemahannya sulit diakses pembaca awam.
Pilihan linguistik ini memperlihatkan ketegangan antara estetika kesakralan dan tuntutan pedagogis—dua kepentingan yang jarang sepenuhnya selaras.
Kontroversi Ideologi dan Tafsir Modernis
Seiring meluasnya terjemahan, kontroversi pun tak terelakkan. Terjemahan Zhang Chengqian (2005), yang dipengaruhi rasionalisme Ahmadi, memicu kecaman keras. Kritik diarahkan pada sikap skeptis terhadap hadis dan penafsiran ulang atas sejumlah ajaran mapan. Kasus ini menunjukkan bahwa terjemahan Al-Qur’an di Tiongkok modern menjadi arena sensitif untuk menentukan batas ortodoksi.
Kontroversi serupa muncul di Taiwan melalui terjemahan Shen Xiahuai (1996), yang menggunakan kosakata Alkitabiah secara luas. Di sini, persoalan bukan hanya teologis, tetapi juga simbolik: sejauh mana bahasa agama lain boleh dipakai untuk menjelaskan Al-Qur’an.
Reaksi Tradisionalis dan Upaya Penyeimbangan
Sebagai respons terhadap terjemahan yang dianggap “menyimpang”, sejumlah ulama terlatih menyusun terjemahan baru yang menekankan kesetiaan pada tafsir klasik. Tokoh seperti Ma Jinpeng, Ma Zhonggang, dan Ma Zhenwu berusaha mengoreksi kesalahan terjemahan sebelumnya, sambil tetap memperhatikan keterpahaman umat awam. Penggunaan bahasa sederhana dan bahkan xiaoerjing menunjukkan upaya menjembatani tradisi lama dengan kebutuhan pembaca modern.
Penutup
Melalui analisis Eroğlu, terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Tionghoa sejak awal abad ke-20 tampak sebagai cermin perubahan besar dalam kehidupan Muslim Tiongkok. Terjemahan menjadi sarana reformasi, medium perdebatan ideologis, dan alat pembentukan publik Muslim modern. Dari manuskrip lokal hingga edisi cetak yang memicu kontroversi nasional, Al-Qur’an dalam bahasa Tionghoa terus dinegosiasikan—antara kesetiaan pada tradisi, tuntutan modernitas, dan dinamika identitas Muslim di tengah negara dan budaya yang terus berubah.